Archive Page 2

Hiper-realitas Kota Kita

KOMPAS, Minggu 3 Maret 2001

“SUGUHI kami dengan fantasi, dan bawalah kami ke dunia khayal yang terjauh,” ungkap Robert Thompson, presiden International Pop Culture Association dalam satu kesempatan. Ungkapan Thompson tersebut adalah refleksi dari nafas kehausan sebagian besar masyarakat Barat yang saat ini beramai-ramai mencari lorong dan ruang-ruang pelarian budaya. Fantasi, khayal dan godaan budaya tontonan tampaknya telah menjadi norma budaya keseharian sebagian besar masyarakat Barat saat ini.

Di sebagian besar kota-kota dunia saat ini, gelombang theme-park dalam desain urban dan arsitektur tampaknya sedang menghipnotis perilaku budaya massa. 30 hektar artefak sejarah dinasti Cina ataupun situs kematian Isa Almasih di Jerusalem kuno ternyata berhasil direkonstruksi ulang seperti aslinya di Florida, Amerika Serikat. Skala satu banding satu kota Venesia pun bisa dinikmati di Las Vegas. Kemeriahan Disneyland dan Universal Studios ternyata sudah bisa diekspor ke Eropa, Jepang dan Cina. Di Jakarta dan Kota Ahmedabad di India, beragam legenda tujuh keajaiban dunia bisa dihadirkan sebagai tema dalam keseharian kompleks perumahan urban.

***

FENOMENA urbanitas kontemporer masyarakat metropolis tampaknya semakin kompleks saja. Hegemoni pisau konsumerisme dan budaya massa di era kapitalisme lanjut (late capitalism) ini begitu dalamnya menusuk segala sudut kebudayaan, tidak terkecuali urbanisme dan arsitektur. Lahirnya fenomena theme-park urbanism adalah salah satu contohnya, dimana beragam artefak fisik yang lepas dari konteks ruang geografis dan waktu, dengan begitu mudah dipinjam, dilipat,direproduksi dan diduplikasi dengan sempurna menjadi komoditas.

Ruang, waktu dan sejarah yang dibekukan ini bahkan sering terlihat lebih nyata, lebih surealis dan lebih dramatis dari aslinya.Contoh-contoh fenomena di atas memang paling mudah dilihat dan diselami di Amerika Serikat. Pemikir kebudayaan Jean Baudrillard menyebut Amerika sebagai tempat kelahiran ‘budaya tanpa referensi’ dan panggung ‘tour de force’ konsumerisme massa. Disneyland, Universal Studio, permukiman Celebration dan tentu saja kota Las Vegas kemudian menjadi contoh-contoh bagaimana theme-park urbanism ini hadir dan berhasil mensimulasikan fiksi dan khayal kedalam kehidupan urbanitas nyata masyarakat Amerika Serikat. Ia kemudian menjadi media dimana perbedaan fakta dengan fiksi, media dengan esensi seringkali menjadi tidak penting lagi.

Dengan menguapnya batas ruang dan waktu di era teknologi informasi dan globalisasi saat ini, kepingan-kepingan ‘budaya tanpa referensi’ tersebut akhirnya terbang, berjatuhan dan hadir juga di depan hidung kita. Ia kemudian hadir di berbagai tempat dalam berbagai bentuk. Di Jakarta, theme-park urbanism ini ternyata tidak hanya digagas sebagai sarana hiburan semata seperti Dunia Fantasi di Ancol. Namun secara laten, tampaknya ada sebagian dari kita yang sedang bereksperimen membawa misi sindrom Las Vegas ini ke dalam keseharian urbanitas nyata Kota Jakarta.Di Jakarta, perumahan yang bersebelahan dengan artefak Borobudur dan Colloseum Roma kuno ternyata bisa dihadirkan berbarengan dengan munculnya perumahan berarsitektur kastil abad pertengahan Eropa, bersuasana Kota Kyoto atau Paris sebagai tawaran tempat berhuni sekaligus berbudaya.

Ini adalah pecahan cermin dari satu kondisi kontemporer, dimana masyarakat berhasil dirayu untuk menerima citra sebagai sebuah realitas nyata, walaupun disadari bahwa yang terjadi hanyalah pemalsuan kebenaran dan dramatisasi realitas.

***

Fenomena ini juga kemudian menjadi ajang perdebatan beragam interpretasi makna (polysemy). Interpretasi antara sebuah kecerdasan marketing properti, ataukah sebuah wajah kebodohan dan kemunduran etika yang berdampak pada kemalasan apresiasi budaya di masyarakat. Namun lebih jauh, sosiolog Patrice Noviant berpendapat bahwa hal ini bisa terjadi karena masyarakat konsumer dewasa ini memang haus dalam mengkonsumsi segala sesuatu, tidak hanya objek nyata tapi juga objek tanda (object of sign). Syaraf psikologis mereka juga menurutnya mau dimanja untuk menerima kehadiran certain comfortable of false consciousness dalam menikmati ruang-ruang arsitektur di lingkungan sekelilingnya.

Hadirnya Kota Paris di Jakarta atau Jerusalem kuno di Florida, juga menjadi teater tempat pencerapan makna ‘sense of place’ bisa dibuat berantakan. Elemen-elemen pembentuk konsepsi ‘place’ seperti ruang fisik sebagai latar (background), interaksi positif manusia dalam ruang tersebut (action) dan interpretasi makna (meaning) akhirnya menjadi absurd.

 Ia menjebak kita untuk mencampuradukkan esensi ruang realitas dengan ruang palsu (pseudo place).Beragam absurditas yang kerap lahir dari fenomena-fenomena diatas, memang mau tdak mau mendorong syaraf kesadaran atau consciousness kita untuk selalu siap berakrobat dalam arus simulasi-simulasi realitas. Berakrobat dalam kemeriahan diktum baru ‘form follows fictions’. Berakrobat dalam era dimana pasangan fiksi dan estetika kerap meluluhkan pasangan fakta dan etika. Sebuah era baru, era hiper-realitas.

***

 All that is real becomes simulation.”

 

 

Ungkapan diatas adalah peringatan Jean Baudrillard, pemikir kebudayaan pascamodernisme, yang menyatakan bahwa sebagian besar kebudayaan kontemporer dewasa ini hanyalah berupa representasi dari dunia simulasi (simulation). Simulasi adalah rekayasa beragam model realitas yang tidak memiliki konteks, referensi maupun asal-usul. Yasraf Amir Pilliang menyebutnya sebagai “kenyataan” (real) yang ditutupi oleh “tanda kenyataan” (sign of the real). Karena itu, proses simulasi dalam kebudayaan ini biasanya melahirkan realitas-realitas yang melampaui batas-batas konvensional (transgression) yang lazim disebut dengan istilah hiper-realitas.

Oleh Baudrillard ruang-ruang tempat berlangsungnya proses simulasi dalam silang-sengkarut nilai, realitas, tanda dan citra tersebut kemudian diistilahkan sebagai simulacrum atau simulacra. Ia berpendapat, bahwa sebagian besar realitas-realitas zaman sekarang sebenarnya sudah tidak punya referensi lagi kecuali simulacra itu sendiri.

Simulacra juga sering berperan sebagai katalis dalam berkembangnya eklektikisme nilai maupun kolase pecahan-pecahan realitas. Berbagai artefak arsitektur dan desain urban seperti halnya Disneyland, Las Vegas, Colloseum di Jakarta atau replika Jerusalem di Florida yang dibahas di atas, memang akhirnya bisa dipahami melalui analisa simulasi dan simulcara yang digagas Baudrillard.Tanpa kita peduli atau sadari, sebenarnya proses-proses simulasi di simulacrum of space mungkin sudah menjadi norma di kota-kota besar di Indonesia.

Menjamurnya pusat perbelanjaan atau shopping center di kota-kota besar di Indonesia, seperti halnya Mal Pondok Indah dan Plaza Senayan adalah contoh simulasi bagaimana daya tarik realitas urbanisme sudah kalah oleh konsumerisme. Berbelanja di shopping center ini pada dasarnya adalah simulasi pengalaman empirik berbelanja dan jalan-jalan kaum urban (strolling flaneur) di ruang-ruang kota yang dilipat, disatukan dan diminiaturkan ke dalam satu ruang atau bangunan. Sebuah simulation of urbanity dimana shopping center bertindak sebagai ruang simulacrum-nya.

***
 Proyek Ancol Walk, yang rencananya akan dibangun di Jakarta dimana konsepnya meniru proyek City Walk di Universal Studios di Amerika Serikat, mungkin menjadi contoh simulasi Baudrillard dalam arsitektur dan desain urban yang tepat. Di proyek ini seperti halnya di Universal Studios, kita diskenariokan dan disimulasikan untuk seolah-olah sedang berjalan, beraktivitas dan menyelami beragam bangunan dan ruang-ruang kota yang sebenarnya semu.Konsekuensi berada di ruang-ruang simulasi atau simulacra ini, pengunjung biasanya dipaksa dan disterilkan perilakunya (controlled behaviour) agar sesuai dengan kategori perilaku urban versi mereka, yang sebenarnya tidak real dan alamiah. Sebuah realitas fasisme baru dalam urbanitas kita.

Jika kebetulan berada di Singapura, cobalah mampir ke Bugis Junction. Di proyek ini, tiga buah persimpangan jalan yang terdiri dari deretan ruko tua dipreservasi dan dikonversi menjadi sebuah shopping center modern yang sukses. Uniknya, seluruh badan jalan dipayungi oleh struktur skylight kaca, lengkap dengan AC pendinginnya. Di sini, pengunjung disimulasikan untuk berjalan dan berbelanja di deretan ruko tua yang secara fisik memang asli, namun dalam suasana yang berbeda, lebih nyaman dengan penghawaan udara dan lebih dramatis dari aslinya. Disini kita dibawa ke ruang dalam yang sebenarnya adalah ruang luar, dan sebaliknya ruang luar yang sebenarnya ruang dalam.Jika ditarik ke tataran yang lebih luas, sebagian orang menganggap bahwa dunia simulasi yang bersifat hiper-realitas ini adalah representasi wajah kebudayaan pascamodern, dimana budaya massa, budaya populer, konsumerisme dan nilai tanda menjadi sangat dominan.

Di luar perdebatan apakah pascamodernisme ini adalah pengganti ataukah sekedar perpanjangan proyek modernisme yang belum usai, fenomena-fenomena di diatas setidaknya mirip dengan beberapa ciri budaya pascamodern yang diungkap sosiolog Ariel Heryanto: menguatnya sistem tanda ketimbang makna, emosi ketimbang rasio, media ketimbang isi, permainan ketimbang keseriusan, fiksi ketimbang fakta dan estetika ketimbang etika.Karena itulah Baudrillard kemudian memetakan pascamodernisme sebagai kaca mata pembacaan realitas dan metode analisa kritis kebudayaan kontemporer.

Motivasi-motivasi realitas pascamodernisme ini sendiri kemudian disinyalir sebagian pihak sebagai konsekuensi dari kuatnya hegemoni sistem kapitalisme lanjut (late capitalism), yakni kapitalisme yang mengalami mutasi dari sistem kapitalisme awal. Kapitalisme yang menjadikan faktor konsumsi sebagai determinan utama ketimbang produksi. Kapitalisme yang berusaha mengglobalkan konsumerisme, budaya massa dan budaya tontonan melalui jaringan informasi terkini dan perusahaan multinasional sebagai agen-agennya. Kapitalisme yang secara laten berhasil menjadi sutradara besar yang mampu menyetir dan menskenariokan perilaku budaya masyarakat dewasa ini.

***

Oleh karenanya, sepakat atau tidak, fenomena hiper-realitas kota dan arsitektur ini tampaknya telah menjadi bagian dari paras kebudayaan kontemporer dunia dewasa ini. Di lain pihak, beragam skenario kebudayaan arahan sutradara kapitalisme lanjut lainnya tampaknya akan terus tampil menggoda dan menguras stamina psikologis kita. Pilihannya hanyalah antara diam dan menyerah kalah, atau sebaliknya bersiaga menjaga stamina untuk tetap bisa mencari alternatif-alternatif budaya berkota yang lebih sehat dan lebih baik.

Sebuah tugas yang tidak ringan memang.

 

 

 

 
 

 

 

 

 

Tragedi Dunia dalam Lensa Semiotika Arsitektur

Kompas, januari 2002

 

SELASA pagi itu dunia terhenyak secara beruntun. Di New York, menara kembar World Trade Center runtuh. Di Virginia, gedung segilima Pentagon babak belur dihajar. Di hari kesebelas bulan kesembilan lalu, Amerika Serikat pun berduka. “Ini kejahatan terbesar terhadap kebebasan dan peradaban manusia,” geram George Bush dari Gedung Putih. Namun ironisnya, reaksi dunia ternyata tidak satu suara. “Ah.., itu semua adalah pelajaran buat kesombongan Amerika,” ketus sopir taksi di Beijing.

 

Lantas pada sisi mana kita akan bersikap? Bukankah hilangnya ribuan nyawa di debu reruntuhan itu adalah kesedihan universal? Mungkinkah reaksi dunia akan seragam jika yang dihancurkan ternyata sebuah rumah sakit? Mungkin saja. Tapi kenyataannya, reaksi dunia memang terbelah dua. Bahkan untuk melabeli pelaku dengan sebutan ‘teroris’ pun dunia ternyata sering tidak sepakat.  Sebutan ‘teroris’ di belahan dunia sebelah sini, bisa berarti ‘pahlawan’ atau ‘pejuang’ di belahan dunia yang lain.

 

Di selasa hitam itu para teroris tampaknya mafhum benar dalam memilih target dan estimasi dampak psikologis dari aksinya. Mereka memilih menara kembar WTC dan Pentagon. Mereka paham bahwa tidak ada yang lebih mewakili kapitalisme ekonomi Amerika Serikat selain downtown Manhattan beserta menara kembarnya. Juga tidak ada yang lebih bisa merefleksikan simbol kekuatan -mungkin kesombongan- militer Amerika Serikat selain benteng segilima Pentagon tersebut. Pendek kata, sasaran yang dipilih adalah simbol-simbol fisik yang merepresentasikan nilai dari segugus mitos raksasa bernama Amerika Serikat.

 

Karenanya tidak heran jika reaksi terhadap  tragedi ini saling beroposisi. Seorang pengusaha di kota Bandung mengaku punya hobi baru menonton ulang rekaman runtuhnya menara kembar WTC ini. “Ada kesenangan tersendiri menonton rontoknya kesombongan Amerika Serikat,” ungkapnya. Kontras dengan kesedihan Elizabeth McLaughlin dari Pentham, New Yok yang kehilangan suaminya di pagi itu.  Ia selalu tersedu-sedan setiap menyaksikan rekaman ulang video tersebut. “Hidup kami ikut hilang di reruntuhan sana,” lirihnya dengan redup.

 

 

***

 

MENGAPA menara kembar WTC dan Pentagon?

 

Arsitektur, seperti halnya kata dan angka, sering dijadikan masyarakat dalam satu gugus budaya sebagai media untuk berkomunikasi atau menjadi simbol sebuah nilai.  Menara kembar WTC yang dirancang arsitek Minoru Yamasaki ini, di mata warga Amerika Serikat adalah simbol suatu kebanggaan dan keberhasilan. “Mereka dulu dibangun untuk menjadi simbol kejayaan ekonomi Amerika dalam seratus tahun ke depan,” jelas Larry Silverstein, properti developer menara kembar WTC ini.

 

Namun tampaknya tidak semua berpendapat sama. Di sebagian dunia ketiga, menara kembar ini malah dibaca sebagai simbol dari ketidakadilan dan kesombongan kapitalisme ekonomi Amerika Serikat. Perbedaan interpretasi makna tersebut kemudian bermuara pada justifikasi subyektif para ‘musuh’ Amerika Serikat untuk mencoba berulang kali menghancurkan simbol sekaligus  nilai yang mereka benci setengah mati ini.

 

Perbedaan ‘membaca dunia’ dan interpretasi makna ini sempat ditelaah melalui pendekatan semiotika. Semiotika sendiri adalah ilmu tentang tanda (sign). Namun ia juga adalah sebuah proses mental. Proses ketika kita mencoba menemukan makna (meaning) suatu obyek melalui rekonstruksi dan kombinasi tanda-tanda. Tanda yang kita rekonstruksi dan pinjam tersebut dapat berupa sebaris kata, sejumlah angka, selembar foto, sekelebat bahasa tubuh, sedenting bunyi ataupun sebuah karya arsitektur. 

 

Seperti juga kata hijau. Makna kata hijau yang awalnya kita sepakati untuk menjelaskan satu dari tujuh spektrum warna, kini sudah melebar menjadi ragam makna yang luas. Dengan satu kesepakatan kultural, hijau kemudian bisa berarti identitas Islam, bisa pula bermakna belum matang alias muda. Hijau juga bisa berarti karakter fisik sehelai daun atau bahkan identitas sekelompok tentara. Cara pembacaan seperti ini juga sering terjadi pada karya arsitektur. Melalui kacamata visual semiotics atau semiotika visual, identitas sebuah karya arsitektur pun akhirnya bisa melar dan mengalir  menggelontorkan makna yang ragam.

 

Dilihat dari esensinya, Taj Mahal di India mungkin hanyalah sebuah istana untuk menaungi sepetak mausoleum. Masjid Babri di India yang sudah hancur lebur itu mungkin hanyalah sebuah tempat ibadah. Dan gedung MPR/DPR di Jakarta juga mungkin hanyalah sebuah gedung rapat atau ruang sidang. Namun akibat dekapan mitos, bius sebuah impian, dengus kebencian atau gelegar peristiwa bersejarahlah yang kemudian menyihir mereka menjadi sebuah simbol nilai, melebihi esensi fungsinya.

 

“Taj Mahal adalah cinta,”  ungkap Raja Syah Jahan.

 

“Kubah ini adalah simbol agresi Islam di lokasi munculnya Dewa Krisna”, teriak seorang Hindu  fanatik sambil memalu remuk kubah Masjid Babri di Ayodhya, India.

 

“Gedung DPR ini adalah simbol demokrasi. Ia adalah rumah rakyat, rumah anda semua!..,” teriak basa-basi seorang anggota DPR dihadapan ribuan buruh pendemo.

 

***

 

DI AWAL abad 20 lampau, Ferdinand de Saussure, pemikir semiotika strukturalis Perancis, memperkenalkan lebih lanjut konsepsi penanda (signifier) dan petanda (signified) dalam proses pencerapan sebuah makna secara semiotika. Esensi sebuah meja, pakaian, gedung, bukit ataupun ekspresi wajah adalah barisan contoh dari signifier. Sementara konsepsi fungsi meja, makna pakaian kebaya, ide filosofis sebuah karya arsitektur, makna kosmologis sebuah bukit atau kerlingan mata yang diartikan sebagai kegenitan, adalah deretan contoh dari signified.

 

Namun konsepsi di atas tidak secara mendalam membahas mengapa tanda yang sama bisa bermakna ganda atau bahkan berlawanan, seperti perbedaan interpretasi makna menara kembar WTC tadi. Pertanyaan ini kemudian dijawab Roland Barthes yang menyempurnakan pemikiran Saussure tersebut dengan konsepnya tentang adanya proses denotatif dan konotatif dalam pencerapan makna. Denotatif adalah hal yang tersurat, atau esensi suatu obyek apa adanya. Sementara konotatif adalah interpretasi makna yang dipengaruhi oleh kondisi emosional, sosial dan mental budaya si pengamat.

 

Secara denotatif, sebuah rok adalah kain tekstil untuk menutupi bagian tubuh dari pinggang kebawah. Sebagian dari kita kemudian memaknainya secara konotatif sebagai citra wanita. Namun tidak demikian halnya di Skotlandia. Di sana para laki-laki bangsawan mengenakan rok atau Scotish Kilt justru sebagai atribut kebanggaan para pria highlander dan identitas klan mereka. Itulah mengapa, konsepsi makna suatu tanda atau signified tadi hanya mudah dikomunikasikan dalam wadah kultural yang sama.

 

Aspek kultural juga sangat kental pengaruhnya dalam pencerapan makna konotatif dalam arsitektur. Pernah suatu ketika mahasiswa baru ITB yang datang dari kota kecil di Jawa Tengah terkecoh dengan arsitektur Masjid Salman yang memilki kubah terbalik.  Ia, yang kebingungan, kemudian malah memasuki asrama mahasiwa yang ia kira sebagai masjid, karena bentuk atapnya yang limas berundak.

 

Misinterpretasi ini terjadi, karena umumnya masyarakat Muslim Indonesia terbiasa mengasosiasikan bangunan beratap kubah atau limas berundak sebagai masjid. Saking kentalnya interpretasi makna ini, sering kita temui kubah-kubah alumunium –sebagai simbol masjid- bergeletakan dan dijual eceran di pinggiran jalan. Akibatnya, saat persepsi makna dan logika budaya ini dibalik, seperti kasus Masjid Salman, ternyata tidak semua khalayak mampu menangkap makna barunya.

 

Selain latar kultural, situasi sosial dan emosional pengamat juga menjadi penting. Bahkan sangat mudah untuk dimanipulasi. Secara denotatif, gedung Wisma Dharmala di Jakarta, yang sempat dikagumi di tahun 80-an karena eksperimen idiom arsitektur tropisnya, adalah gedung perkantoran. Namun seorang fotografer pernah memotretnya dari lokasi dan sudut yang tidak lazim. Lensanya ia kontraskan dengan menempatkan pemukiman kumuh sebagai fokus latar depannya. Seketika, foto itu pun menjadi multi makna. Akibatnya, ketimbang mendiskusikan desain arsitektur, sebagian pembaca malah secara sinis mengomentarinya sebagai simbol tipikal modernisasi negara ketiga yang sering berdiri kontras dan berpelukan dengan wajah kemiskinan.

 

Manipulasi intensional makna konotatif ini pula sempat ditelaah Edward Said, dalam konteks bagaimana Islam dipandang oleh dunia. Dalam sampul buku Covering Islam karya Said itu, terpampang foto seorang fotografer sedang membidik seorang muslim yang tengah garang mengokang senjata. Foto ini dipakai sebagai sindiran, bahwa kebenaran dan realita tentang Islam, seringkali dengan mudah dimanipulasi dan difokuskan sisi radikalnya oleh media Barat. Seperti yang disinyalir juga oleh Milan Kundera, sastrawan Cekoslovakia, kekuatan image atau imagologi akhirnya seringkali menelikung realita. Karenanya John Fiske, seorang pemerhati semiotika, menjelaskan bahwa makna denotatif adalah “what is photographed” dan makna konotatif adalah “how it is photographed”.

 

 

***

 

DALAM konteks geografis dan kota, pemahaman sense of place juga lahir ketika manusia bersama-sama menyepakati untuk menorehkan makna khusus terhadap suatu ruang. Alun-alun menjadi penting karena disepakati sebagai pusat geografis suatu kota. Istana Yogyakarta menjadi sakral karena disepakati makna kosmologisnya. Yerusalem menjadi suci karena disepakati makna religius dan historisnya.

 

Namun tanpa kesepakatan makna bersama atau communal meaning, maka ruang-ruang tadi hanyalah sepetak entitas tiga dimensi. Ia kemudian terreduksi menjadi sebuah space saja. Sebuah dimensi dengan panjang, lebar dan tinggi belaka. Dan tanpa kesepakatan tadi, manusia terbukti sering  berkelahi dan bersengketa akan makna suatu obyek atau ruang geografis yang sama.

 

Kota suci Yerusalem Al-Quds adalah kasus klasik. Sebuah titik geografis silang sengketa berabad-abad dari tiga agama samawi dunia. Terutama di sebuah bukit bernama Bukit Moriah. Bukit tempat Ibrahim mengurbankan Ismail ini, selalu diklaim kaum Yahudi sebagai tempat suci mereka. Di sini, menurut mereka, adalah lokasi tempat berulangkalinya dibangun dua kuil suci umat Yahudi, termasuk Istana Sulaeman. Yang pertama dihancurkan Raja Persia Nebukadnezar di tahun 587 SM dan yang kedua dibakar Jenderal Romawi Titus di tahun 70 M. Puing yang tersisa hanyalah sepetak tembok batu di sisi bukit, dikenal sebagai Tembok Ratapan atau Wailing Wall, yang kemudian dijadikan tempat ibadah dan ziarah tersuci umat Yahudi.

 

Namun di bukit itu pula, Masjid Umar atau Dome of the Rock yang dibangun Kalifah Abdul Malik di tahun 684-690 M berdiri tegak berdekatan dengan Masjidil Aqsa. Sementara tak jauh dari bukit Moriah, berdiri juga Gereja Makam Suci atau the Holy Sepulchure yang dijadikan tempat ziarah suci kaum Kristiani. Gereja ini dibangun di tahun 335 M atas perintah Ratu Helena, ibu dari Kaisar Constantine, di lokasi yang dipercayainya sebagai tempat hari-hari terakhir Isa Almasih.

 

Akibatnya sungguh dahsyat. Selama berabad-abad  puluhan ribu nyawa kaum Yahudi, Kristiani dan Muslim pernah hilang dalam proses perebutan klaim makna religius dan hak politik atas kota Yerusalem dan bukit Moriah tersebut. Dari mulai Perang Salib di tahun 1099-1187 sampai Perang Enam Hari di tahun 1967. Dari mulai Raja Herod, Iskandar yang Agung, Jenderal Titus, Saladin, Raja Richard sampai tokoh kontroversial Ariel Sharon, sempat mewarnai konflik berkepanjangan atas tanah dan ruang geografis yang multi makna ini.

 

***

 

Jerih kelelahan demi kelelahan dari pertentangan antar umat manusia di atas, membawa kita pada dahaga pertanyaan, apakah arti sebuah kebenaran? Dimanakah kebenaran ketika putih disini bisa menjadi hitam di sana? Dicaci sebagai teroris sebelah sini, ternyata dieluk-elukan sebagai pejuang di sebelah sana? Kehausan ini akhirnya menoreh pada garis kesimpulan sementara. Bahwa pada akhirnya, kebenaran-kebenaran versi manusia, seringkali hanyalah sebuah temali kesepakatan.

 

Dunia ini diciptakan Tuhan sedemikian indahnya. Namun seringkali kerusakan alam dan pertentangan peradaban terjadi hanya karena umat manusia tidak pernah sepakat dalam cara memandang dan memaknai dunia. Karena itu di sisi lain, semiotika mengajarkan sebuah kearifan. Kearifan tentang kemungkinan hadirnya makna-makna lain dari nilai-nilai yang selama ini kita yakini.

 

Setetes kearifan sederhana. Kearifan bertoleransi.

 

 

Memimpikan Bandung menjadi Kota Dunia

 Pikiran Rakyat, April 2008

”Saya benci Bandung”, kata seorang  pengusaha Jakarta di Sabtu sore. ”Semrawut, makin panas, sering macet dan sistem lalu lintasnya sering berubah, membingungkan”.  Itulah sekelumit citra negatif yang sering diutarakan oleh sebagian pelancong dari luar kota. Terutama ketika mereka datang di akhir pekan.

 

”Kami menyukai Bandung”, ujar beberapa pelancong yang dijumpai di jalan Dago. ”Kotanya masih teduh, sekolahnya bagus-bagus, dekat dengan  suasana pegunungan, anak-anak mudanya kreatif dan wisata belanjanya menyenangkan”.  Cukup melegakan mendengar pujian mereka tentang Bandung.

 

Itulah yang terjadi. Bandung adalah paradoks. Kadang dirindu. Kadang dibenci. Bandung disukai karena suasana santainya, namun digerutui karena kemacetannya. Didatangi karena kualitas universitasnya, namun ditinggalkan karena minim peluang berkarirnya. Dipuji karena banyak ahli kota dan arsiteknya, namun diejeki karena minimnya inovasi dan kesemrawutan kotanya

 

Bandung adalah persilangan sebuah kota yang kaya dengan arsitektur bersejarah dengan lingkungan alam Parahyangan yang menenangkan hati. Di Bandung  banyaknya perguruan tinggi yang didukung oleh stabilitas sosial yang terbuka dan kondusif adalah konteks unik yang melahirkan budaya kosmopolitan global yang berbeda dengan konteks kental religius ala Bali atau konteks patuh tradisi alaYogya.

 

Kosmopolitan dan kontemporer adalah karakter khas Bandung. Irisan dan persilangan unik khas Bandung ini melahirkan banyak peluang, terutama yang berkaitan dengan kekuatan ekonomi yang lahir dari tingginya kreativitas dan inovasi generasi mudanya. Ekonomi yang lahir dari kekuatan berpikir. Dari kekuatan ’human capital’ atau yang sering disebut dengan istilah’creative economy’.

 

***

 

Di tatar Parahyangan ini banyak tersembunyi kegiatan-kegiatan ekonomi berbasis inovasi dan kreativitas tanpa banyak kita hapal. Di Bandung terdapat pusat-pusat riset teknologi seperti LIPI, Pusat mikroelektronika, RISTI, MDIC, Eckman Center, Batan dan Microsoft Innovation Center at ITB. Di kota kreatif ini pula terdapat perusahaan teknologi seperti Omedata semikonduktor, LEN, INTI, CMI telkom, Harif Tunggal telekomunikasi, Daya Engineering, Quasar telekom dan  PT Dirgantara.

 

Di Bandung pula, peluang-peluang ekonomi kreatif berbasis gaya hidup atau lifestyle tumbuh subur.  Factory Outlet hadir dengan omset milyaran rupiah perbulan. Industri Distro (distribution store) anak muda Bandung  yang kosmopolitan   dengan desain clothing unik tumbuh dengan super cepat dan menjalar ke kota-kota lainnya.  

 

Tidak heran, suasana kreatif dan alam yang unik di tatar Parahyangan ini membuat industri musik  pun berkembang. Grup musik terkenal seperti Peterpan, Seurieus, Mocca, Laluna, PAS, Rif, Elfa, Krakatau hadir berbarengan dengan belasan grup musik Indie seperti Changcuters, Burgerkill, Besides, Pure Saturday dan komunitas underground musik yang produktif di Ujung Berung. Galeri-galeri seni kelas internasional juga tumbuh pesat di bandung, seperti Galeri Barli, Galeri Sumarja, Galeri Jehan, Galeri Padi, dan Selasar Sunaryo yang aktif dengan kegiatan seni internasionalnya sebagai agenda agenda rutinnya.

 

Di dunia arsitektur, progresivitas berpikir dan desain eksperimental arsitek-arsitek Bandung  cukup jauh meninggalkan kota-kota lainnya. 70 persen-an pemenang sayembara nasional arsitektur selalu dari Bandung. Prestasi ini terjadi karena suasana komunitas, dialog dan iklim akademiknya yang kondusif dan inspiratif. Tahun 2007 URBANE menjadi satu-satunya firma kecil dari Bandung yang masuk 10 besar arsitek Indonesia verisi BCI awards, yang mengukur kerberhasilan firma arsitektur dari kuantitas nilai bisnisnya. Bahkan pemenang pertamaYoung Design Entrepreneur of the Year dari British Council, dimenangkan oleh warga Bandung 2 tahun beruturut-turut.

 

 

***

 

Di sisi lain, salah satu syarat menjadi kota kelas dunia adalah kualitas infrastruktur fisik kota dan ruang publiknya. Inilah kelemahan kota Bandung. Tidak ada kemajuan yang berarti dari segi pembanguan fisik dan sarana kota kecuali jembatan Pasupati. Sarana kota seperti Stadion Siliwangi yang sudah uzur, taman-taman kota yang tidak jelas konsepnya, Gelora Saparua yang sudah tidak layak pakai, adalah contoh-contoh buruknya. Dari sudut pandang prasarana, tragedi konser musik di Braga menjadi salah satu bukti, bagaimana aspirasi dan antusiasme kegiatan ekonomi kreatif tidak terwadahi oleh tempat yang layak.

 

Pemerintah kota dan propinsi seharusnya bisa melihat bagaimana investasi di fasilitas publik dengan arsitektur progresif bisa mengangkat ekonomi kota melompat ke level internasional. Seperti halnya kehadiran Museum Guggenheim di kota Bilbao Spanyol yang berdiri di bekas stasiun yang terbengkalai. Karena publikasi yang mendunia, sekitar empat jutaan pelancong datang ke kota tersebut hanya untuk melihat keunikan museum yang dirancang oleh superstar arsitek Frank Gehry. Jutaan pelancong itulah dalam 4 tahun yang membawa devisa 14 trilyun rupiah ke kota industri di Spanyol ini.  Kesimpulannya, arsitektur publik yang baik dan progresif, seperti halnya Esplanade di Singapura atau Sydney Opera House di Australia, mampu menyumbangkan devisa yang besar bagi ekonomi kotanya.

 

Di sisi lain, pemerintah seringkali tidak mampu menahan pihak-pihak swasta yang tidak bertanggung jawab untuk berinvestasi namun merusak fisik kota Bandung atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi.  Rencana Babakan Siliwangi yang akan dikomersilkan,  kawasan Punclut yang digerus, beberapa Factory Outlet di Dago yang merusak karakter arsitektur Art Deco dan melanggar sempadan adalah contoh-contohnya.

 

Karenanya jangan heran jika banyak orang-orang pintar pergi dari Bandung setelah mereka lulus. Mereka hanya menumpang lewat. Mereka tidak melihat iklim kota Bandung dan sarana kotanya cukup kondusif untuk melakukan inovasi-inovasi dan bisnis yang selayaknya.  Sementara otak-otak kreatif yang tinggal dan berbisnis di Bandung hanya bisa  menggerutu dan bertahan semampunya tanpa bantuan dan dukungan yang signifikan dari pemerintah,

 

 

***

 

Kekuatan Bandung terbesar ada pada aset kualitas manusianya. Inilah kekuatan Bandung di masa depan.  Inilah tiket bersaing global. Jangan sampai ribuan orang-orang kreatif dan pintar ini selalu pergi ke Jakarta atau Singapura setelah mereka lulus sekolah di Bandung, Mereka harus diakomodasi untuk berbisnis dan berkarir di Bandung. Mereka harus distimulasi untuk mencintai kota Bandung. 

 

Karenanya pemerintah harus berinvestasi dengan 2 cara. Pertama, investasi dalam bentuk dukungan instrumen kebijakan ekonomi yang kondusif dan jangka panjang.  Instrumen ini untuk mendorong investasi ekonomi kreatif mengalir dan eksis di Bandung. Sehingga orang-orang kreatif dan pintar dari luar kota pun mau dan tertarik untuk pindah ke Bandung dengan membawa kapital, ide-ide kreatif atau inovasi-inovasi bisnisnya.

 

Kedua, pemerintah harus berinvestasi memperbaiki infrastruktur dan sarana kota. Memperbaiki lalu lintas, memperbanyak gedung-gedung pertunjukan atau galeri, memelihara dan mempercantik bangunan-banguan bersejarah, berinovasi dalam ruang hijau kota atau menyuntikkan seni dalam penataan kawasan kota. Ingat, kreativitas dan inovasi mudah lahir dari wadah yang inspiratif.

 

Persaingan dunia bukan lagi antar negara, tapi antar kota.  Karena itulah strategi-strategi perencanaan kota yang inovatif  sudah dilakukan oleh kota London, Glasgow, Taipei, Singapura, Bangalore, Buenos Aires dalam merespon ekonomi baru ini. Kebijakan ekonomi kreatif yang responsif dan peningkatan kualitas sarana kota, bersatu kompak bagai dua sisi dalam satu koin uang. Pemerintah kota Bandung sudah saatnya berpikir inovatif diluar norma-norma standar pengelolaan kota-kota Indonesia. Kita harus berpikir dan berinovasi seperti kota-kota dunia.

 

”Bandung Kota Dunia” bukanlah hanya mimpi. Kita sudah punya modal awal yaitu aliran sumber daya manusia yang kreatif dan kompetitif berkelas dunia. Modal ini harus disempurnakan dengan kualitas sarana kota yang berkelas dunia pula. Inilah reposisi dan wajah baru  Bandung di era milenium. Wajah baru yang menyempurnakan era Bandung sebagai wajah pemersatu Asia Afrika tahun 1955.  Jangan biarkan mimpi ini mati sebagai mimpi. Mari sama-sama bekerja keras menghadiahkan masa depan yang indah untuk generasi cucu kita.

Urbanisme Cina: Memberantas Korupsi dengan Sayembara Desain

Kompas, 01/09/2002

CINA hari ini adalah Cina yang bersolek. Di kota-kota utama, ratusan gedung pencakar langit, taman kota yang lega, jalur pejalan kaki yang teduh lebar, transportasi publik dan infrastruktur yang modern, tumbuh subur dalam kedipan mata. Cina hari ini memang sedang berlari dan berpesta, jauh meninggalkan tetangga-tetangganya di Asia yang masih lemah tertatih oleh pukulan krisis ekonomi sejak 1997 lalu.

Dengan modal pertumbuhan ekonomi 7 persen yang stabil, kota-kota di Cina serempak membangun, mempercantik diri dan berlomba-lomba mengundang investasi asing. Ini termasuk memanggil secara moral keturunan Cina di seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi di negeri berpenduduk 1,3 milyar terbesar di dunia ini. Tak heran jika dalam lawatan ke Cina, mantan Presiden Megawati menyiratkan rasa kagetnya akan kemajuan pembangunan di Cina yang sebagian terbaca dari citra fisik kota-kotanya.

Cina hari ini adalah juga Cina yang kukuh. Terutama dalam pemberantasan korupsi. Sejak awal tahun 80-an ratusan ribu kasus korupsi sudah dibawa ke pengadilan. Bulan lalu seorang wakil walikota dihukum mati karena terbukti melakukan kolusi dengan pengusaha-pengusaha yang ia beri kemudahan dalam urusan bisnis. Ia dituding menerima hibah sekitar 2 milyar rupiah. Sebuah nilai yang “tak seberapa” untuk ukuran korupsi di Indonesia, yang biasanya dengan banyak alasan berakhir dengan ringannya hukuman atau bebasnya si pelaku.

“Sediakan sepuluh peti mati bagi saya kelak!”, sumpah Zhu Rongji, Perdana Menteri Cina, dalam satu kesempatan. “Itu jika diakhir jabatan nanti, saya terbukti melakukan secuil korupsi”, cetusnya. Efek sumpah Bapak Zhu ini memang ampuh bergema di negeri yang sempat dikenal sebagai salah satu negara terkorup di dunia ini. Konsep clean government ini mulai terasa di beragam aspek, termasuk penerapan kompetisi dan transparansi dalam mekanisme membangun kota melalui proses sayembara urban design/planning.

***

MEREKA punya alasan sederhana. Dengan aliran kapital bak air bah untuk membangun kota, mereka harus yakin bahwa dana publik tersebut dibelanjakan secara presisi dan transparan. Di Beijing, menggunakan momentum olimpiade 2008, dana trilyunan rupiah pun siap dikucurkan untuk merevitalisasi kota, sebagaimana Barcelona di tahun 1986 dan Sydney di tahun 2000. Dan yang terpenting, melalui mekanisme sayembara desain, hanya ide-ide terbaiklah yang akan dipakai dalam membangun masa depan kota-kotanya termasuk mengejar ketertinggalan mereka dari kota-kota di negara maju.

Tengoklah kota Shanghai. Kota tepi air yang sarat dengan sejarah kolonial ini bisa menjadi cermin dari gemuruh pembangunan urban di Cina. Ia kini adalah gerbang utama bagi Cina. Adalah Deng Xiao Ping yang diakhir tahun 1978 melontarkan konsep `open-door policy’ untuk mengawinkan ekonomi pasar kedalam sistem politik Cina yang tetap komunis. Konsep anomali ini ternyata menjadi awal dari mengalirnya kapital dan investasi dalam pembangunan kota-kota di Cina termasuk Shanghai, yang sempat dimimpikan Bapak Deng sebagai ‘the Manhattan of the East’.

Di kota Shanghai, konsep Bapak Deng ini, diterjemahkan dengan dengan mereposisi dan menyepakati visi baru masa depan kotanya. Salah satu targetnya adalah menyingkirkan Hongkong sebagai gerbang Cina dan hub finansial di Asia Timur. Dari aspek perencanaan kota, hal ini ditindaklanjuti dengan diadakannya beragam sayembara internasional perencanaan tata ruang kota termasuk sayembara waterfront  redevelopment untuk kawasan di sepanjang Sungai Huangpu yang membelah Shanghai. Salah satunya dengan cara merelokasi zona pabrik-pabrik tua dan industri berat disepanjang sungai menjadi zona ruang hijau publik (promenade), zona bisnis dan zona permukiman berstandar internasional.

Setelah terpilih, konsep tata ruang terbaik dalam sayembara perencanaan ini dibakukan dalam peraturan perundang-undangan. Kemudian satu persatu pemilik lahan di sepanjang sungai Huangpu ini mereposisi peruntukan lahannya sesuai dengan aturan yang baru. Di tahap inilah, sesuai dengan kebutuhan dan potensi pasar, pemilik lahan melakukan sayembara internasional kembali untuk mencari ide-ide urban design yang terbaik dan lebih detail untuk zona kawasan yang mereka miliki.

Dalam dua dekade terakhir ini, pemerintah Cina juga mewajibkan penyelenggaraan sayembara arsitektur untuk desain bangunan yang memiliki potensi besar sebagai landmark kota dan atau gedung yang memiliki dampak terhadap kepentingan publik dan citra kota. Jin Mao Tower, menara tertinggi di Cina, yang terletak di kawasan bisnis Pudong adalah contoh dari perwujudan dari sayembara arsitektur internasional yang diselenggarakan di tahun 1998.

Menariknya, jika semua hasil sayembara urban design dan arsitektur ini dipadukan, maka tata ruang kota Shanghai yang baru ini bak deretan mutiara dari beragam siteplan terbaik dan gedung-gedung berarsitektur kelas dunia. Dari pengalaman kota Shanghai, proses sayembara ini secara umum sangat membantu menterjemahkan secara baik, jelas dan terarah dari beragam rumusan visi kota yang biasanya sangat abstrak dan generalis..

***

SAYEMBARA desain di Cina adalah pisau bermata dua. Ia adalah alat bedah untuk menghasilkan konsep desain yang terbaik. Ia juga merupakan media tajam untuk mengontrol transparansi dan efisiensi anggaran pembangunan fisik kota. Dengan cara ini tidak ada lagi celah bagi pimpinan proyek-proyek pemerintah untuk melakukan kolusi dengan rekanan bisnis atau konsultan perencananya. Tidak ada lagi eufimisme istilah seperti: `uang administrasi’, `uang pelicin’, `hibah’, `tanda terimakasih’ yang biasanya lazim terjadi di proyek-proyek di Indonesia. Mereka pun paham, nafsu korupsi dan kolusi di Cina saat ini bisa berakhir dengan hukuman mati.

Dengan publikasi yang jelas, sejak awal publik sudah mengetahui berapa biaya penyelenggaraan sayembara, termasuk hadiah untuk peserta dan nilai kontrak akhir untuk pemenangnya. Namun untuk memberikan fee atau kompensasi yang baik bagi peserta sayembara, biasanya proyek-proyek besar diselenggarakan dengan sayembara yang bersifat terbatas. Terbatas dalam arti hanya mengundang lima atau enam peserta baik konsultan internasional dan lokal berdasarkan kualifikasi dan pengalaman yang relevan.

Namun banyak juga sayembara yang bersifat terbuka dengan mengundang siapa saja yang tertarik untuk berkompetisi. Masterplan untuk Olimpiade tahun 2008, yang dimenangkan konsultan dari Amerika Serikat, adalah contoh dari sayembara terbuka yang diikuti ratusan peserta internasional dan lokal. Namun peserta yang kalah dalam sayembara terbuka ini umumnya harus menanggung resiko dengan tidak adanya kompensasi sama sekali.

Pihak swasta pun dianjurkan untuk melakukan mekanisme sayembara untuk proyek-proyeknya. Ini terutama bagi proyek yang punya dampak terhadap citra kota dan kepentingan publik. Hanya terkadang, dalam beberapa kasus, pihak swasta lebih pelit dalam memberikan kompensasi bagi peserta sayembara. Hal ini mengakibatkan citra yang buruk terhadap penyelenggaraan sayembara desain, karena dianggap sebagian pihak sebagai alat untuk mendapatkan konsep-konsep desain yang terbaik dengan biaya yang murah. Bahkan ada juga yang dengan liciknya tidak memberikan penghargaan sama sekali kepada peserta dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.

***

Semangat keterbukaan ini juga terlihat dari cara Dinas Tata Kota di Shanghai berkomunikasi dengan publik. Mereka punya ruang pameran rutin untuk menampung maket-maket hasil sayembara desain untuk direview dan dikomentari oleh publik yang berkepentingan. Bahkan dalam satu ruangan yang sangat besar, terdapat pula maket kota Shanghai dalam skala yang sangat detail. Hal ini untuk memberikan informasi yang jelas kepada publik akan visi masa depan kotanya dalam bentuk tiga dimensi dan tentunya tanpa sembunyi-sembunyi.

Sebagai negara yang sama-sama masih membangun, kota-kota di Indonesia tidak ada salahnya untuk mau melirik dan belajar dari Cina. Terutama bagaimana kepentingan publik dalam pembangunan urban dan semangat anti korupsi/kolusi bisa dicapai melalui proses sayembara desain. Dengan ini, kegairahan dan semangat membangun kota pun bisa lahir dengan kejujuran, kemuliaan dan tanpa pamrih. Seperti ungkapan seorang juri asing di sayembara masterplan Olimpiade 2008 di Beijing, “May the best idea prevail..”

Arsitektur pembunuh kota

Suatu sore temaram di Kuala Lumpur. Udara di Bukit Bintang Walk terasa sangat menyenangkan.  Dari teras sebuah kafe, secangkir cappuchino hangat pun saya seruput dengan perlahan.  Tiap menit, koridor jalan ini begitu hidup dengan lalu lalang para pelancong dan warga lokal. Toko, restoran dan kafe pun buka sampai larut malam. Cahaya dari  dalam toko menghangatkan suasana. Kaca-kaca transparan di restoran dan café  membuat rasa aman para pelancong seperti saya. Di sini, Starbucks pun digelar ala kaki lima di jalur pejalan kaki.

 

Sepanjang mata memandang, suasana dan cuacanya mengingatkan saya dengan kota Jakarta atau Bandung. Namun di sini terasa ada yang berbeda. Di sini tercium aroma Asia yang terasa lebih bersahabat. Terasa jauh lebih beradab. Koridor ini terasa seperti ruang keluarga. Sebuah ruang sosial yang hangat.

 

Kuala Lumpur, seperti halnya kota-kota dunia yang masuk kategori ‘world great cities’ umumnya memiliki kepedulian akan pentingnya ruang-ruang sosial kota. Dari London sampai Shanghai, dari New York sampai Singapura, semua memperhatikan ‘social space’ sebagai bagian dari ruh kehidupan sebuah kota. Kemajuan peradaban, teknologi dan kompleksitas budaya tidak seharusnya merusak definisi bahwa kota adalah untuk manusia.

 

Ruang sosial kota pun tidak melulu berupa alun-alun atau taman kota, tapi justru koridor jalan lah yang merupakan ruang sosial kota terpenting. Di sanalah deretan bangunan hadir dan bersentuhan dengan publik. Di sana pula, umumnya berjajar karya arsitektur pro publik yang sensitif menghidupkan kota atau malah berderet karya arsitekur anti publik yang mematikan ruh kehidupan kota. Arsitektur pembunuh kota

 

 

 

***

 

“The city is the people” begitu ungkapan sebuah pepatah tua.  Begitu dalam maknanya, namun begitu berat mengaplikasikannya.  Di Jakarta,  kehidupan kota lebih terbiasa diselami dari balik jendela mobil.  Kasihan orang Jakarta. Sudah diberi iklim panas tropis, tidak ada pula sarana untuk berbudaya urban yang positif karena memang tidak pernah disediakan secara memadai. Tidak disediakan karena tidak menjadi prioritas. Tidak diprioritaskan karena kita umumnya tidak  memiliki mentalitas membangun ruang publik.   

Mentalitas anti budaya urban ini juga lahir dari lingkungan fisik yang dirancang para arsitek. Banyak arsitek yang memiliki proyek-proyek komersial dan dalam skala besar tidak memiliki sensitivitas terhadap konteks kota. Mereka hanya fokus pada arsitekturnya tidak pada konteksnya. Sehingga bermunculan belasan dan puluhan bangunan-bangunan anti urban yang semakin akut.

 

Apa ciri-ciri desain anti urban?

 

Fungsi non-publik di lantai dasar.

Salah satu ciri kota yang aktif secara positif adalah hadirnya fungsi-fungsi publik atau retail di lantai dasar sebuah bangunan. Di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia, lantai dasar sebuah bangunan besar umumnya adalah ruang lobi formal yang tidak menyumbang apa-apa bagi kehidupan kota. Lihat Hong Kong. Sepanjang kita berjalan semua lantai dasar bangunan-bangunannya selalu diisi oleh toko, retail, kafé atau fungsi-fungsi publik yang membuat kota hidup dan atraktif sampai larut malam.

 

Kapling-kapling egois

Manusia sebagai mahluk sosial berkewajiban berperilaku sosial yang positif dan bertoleransi antar sesama. Begitu pula arsitektur kota. Seharusnya antar bangunan satu dengan lainnya bertoleransi dengan memberikan ruang untuk kelancaran publik bernegosiasi terhadap ruang kota. Di Bukit Bintang Walk di Kuala Lumpur, antar bangunannya tidak di kapling-kapling dan dibentengi ala Jakarta. Pedestrian di sana leluasa bergerak dari satu bangunan ke bangunan lain. Bahkan di Hong Kong antar bangunan dikoneksi dengan jembatan untuk publik.

 

Parkir dan drop-off di halaman depan.

Ruang paling berharga dalam konteks kota adalah ruang terbuka di depan bangunan, yaitu area dari batas lahan ke garis sempadan bangunan. Sayangnya para arsitek di Indonesia dengan rasa tidak bersalah selalu menjadikannya sebagai ruang parkir dengan drop-off formal. Parkir sebenarnya bisa langsung ke basemen dan drop-off bisa dari jalan samping atau di dalam kapling. Area inilah yang bisa berpotensi menjadi ruang sosial publik berupa ruang hijau, ruang duduk atau ruang luar dari sebuah kafe di lantai dasar. Perilaku desain ini yang dihadirkan di ratusan bangunan di kota-kota besar di Indonesia benar-benar mematikan potensi lahirnya kehidupan yang beradab dan aktif.

 

Banyak yang tidak sadar, perilaku negatif yang sedikit banyak dilakukan oleh para arsitek inilah yang mematikan budaya urban yang seharusnya lahir oleh arsitektur kota yang baik. Ibaratnya seperti aborsi yang membunuh bayi dalam kandungan sebelum ia lahir.  

 

Jadi bagaimana mau bermimpi memiliki budaya kota yang baik,  jika esensi tentang arsitektur kota saja kita tidak pahami.

 

 

 

 

 

 

 

7 Tren Desain Urban di Asia

Asia, benua tempat kita hidup, adalah wilayah dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan wilayah urban tercepat di dunia. Ketika setengah dari penduduk bumi saat ini tinggal di area urban, sekitar 22 kota di dunia, sebagian besar di Asia, sudah naik status menjadi ‘megalopolis’, dengan penduduk rata-rata 8 juta jiwa. Bahkan diperkirakan akan lahir 267 kota di Asia yang berpenduduk minimal satu juta jiwa di tahun 2015.

Dalam atmosfer densitas yang menekan dan heterogenitas sosial yang ramai, seperti didefinisikan sosiolog Louis Wirth, area urban pun tumbuh bergerak cepat dan mengalami banyak mutasi fisik untuk menjawab akselerasi kebutuhan baru para warganya. Akibatnya, lokalitas masalah urban di Jakarta hampir serupa dengan Bangkok, Bangalore atau Chongqing di Cina. Ledakan penduduk yang hebat, lingkungan alam yang tergeser kawasan urban, menguatnya konsumerisme global sampai lebarnya jurang kaya miskin, adalah nafas keseharian bagi kita yang tinggal di kota.

Namun sebagian berbeda pandangan dalam melihat kompleksitas masalah urban.”Masalah adalah peluang,” ungkap Vincent Lo, seorang pengembang properti besar di Hongkong. Dari masalah-masalah urbanlah sering lahir ide-ide dan beragam spekulasi bisnis. “Speculation is the driving force of urbanism,” cetus Rem Koolhaas dalam satu kesempatan. Ide dan spekulasi ini kemudian mewujud dalam bentuk arsitektur, infrastruktur ataupun ruang kota yang perlahan menggiring pada proses mutasi fisik dan perubahan sosial peradaban manusia di kota. Dalam perspektif ‘city as products’, di bawah ini terekam kurang lebih 7 tren desain urban kontemporer di Asia dewasa ini,

1. Mixed-Use Centers

Karena bosan dengan konsep ¡¥commuting¡¦ yang melelahkan, saat ini berkembang pesat kebutuhan warga kota atau ‘urbanites’ untuk melakukan aktivitas urban seperti bekerja, belanja, berekreasi dan berdomisili dalam lingkungan yang relatif dekat. Tren ini kemudian mendorong berkembangnya tipologi fungsi arsitektur kota yang baru yang bersifat multi fungsi atau ‘mixed-use center’


Hunian, hotel atau perkantoran di atas pusat perbelanjaan lengkap dengan fasilitas rekreasi dan sarana transportasi publik telah menjadi penggerak mutasi baru dalam kehidupan urban modern di kota- kota di Asia saat ini. Pacific Place di Hongkong, Roppongi Hills di Tokyo, Taipingqiao di Shanghai, Plaza Senayan dan Taman Anggrek di Jakarta adalah contoh-contoh ‘mixed-use center’ yang lahir dalam satu dekade terakhir.

2. Transportation-hub Shopping Retail

Di beberapa kota maju Asia, konsep mixed-use ternyata berkembang lebih jauh lagi. Hub transportasi seperti halnya bandara, stasiun kereta/subway atau terminal bis banyak digabungkan dengan fungsi-fungsi retail skala besar atau pusat perbelanjaan. Bandara Changi di Singapura, Chep Lap Kok di Hongkong dan Bandara Bangkok di Thailand
ternyata berhasil memperoleh keuntungan bisnis yang luar biasa besar dari ‘leasing space’ untuk fungsi retailnya.

Aliran pengunjung yang umumnya terus-menerus dan tiada henti di hub transportasi tersebut ternyata merupakan pangsa pasar yang luar biasa besar untuk ditangkap oleh fungsi retail. Selain di bandara, konsep ini kemudian diterapkan di stasiun-stasiun transportasi massal kota, seperti di semua Ferry Terminal/MTR di Hongkong dan di hampir semua stasiun MRT di Singapura. Karenanya, ketimbang membangun banyak Mall belanja di lokasi-lokasi tidak jelas dan sering terbukti malah menjadi sumber kemacetan baru, menggabungkan pusat belanja di hub-hub
transportasi jelas lebih baik dan menguntungkan.

3. Superblock Development

Kawasan pembangunan terpadu atau superblock development saat ini terus menjadi penggerak tren urban skala besar di beberapa kota besar di Asia. Sarana lingkungan dan infrastruktur yang terintegrasi dalam areal yang luas menjadi salah satu daya tarik bagi warga kota untuk bekerja dan melakukan kegiatan komersial di kawasan superblok tersebut. Kawasan Beijing Central Business District (CBD), Pudong CBD di Shanghai, Suntec City CBD di Singapura dan Sudirman CBD atau Mega Kuningan di Jakarta adalah contoh-contoh pengembangan kawasan terpadu berskala besar.

Namun di beberapa kota di negera berkembang, kesiapan infrastruktur transportasi publik dan utilitas dalam endukung keberhasilan konsep superblok ini sering dinomorduakan. Selain itu, dalam konteks Indonesia, penyediaan ruang dan penataan sektor informal juga harus menjadi perhatian penting dalam perancangan kawasan superblok ini. Hal ini dikarenakan sebagian dari warga superblok adalah golongan
menengah bawah dengan tingkat ekonomi terbatas.

4. Technology Park

Globalisasi, terutama pada bidang ekonomi ternyata banyak membawa dampak pada praktek ¡¥business outsourcing¡¦, berupa pengalihan sebagian fungsi pekerjaan ke luar wilayah kerja kantor pusatnya. Selain itu, pengoperasian pabrik-pabrik atau research center yang dekat dengan wilayah pasar tempat produk mereka dijual juga sudah menjadi hal yang lazim.

Banyak negara-negara di Asia yang berkompetisi untuk menarik investasi dari negara maju, dengan cara mendirikan kota-kota baru yang mengkhususkan diri pada fungsi-fungsi komersial berbasis teknologi. Cyber Jaya di Malaysia, Bangalore I.T. zone di India, Novavista dan Jurong di Singapura, Zhongquanchun di Beijing ataupun Guangzhou Science city adalah contoh kota-kota baru dengan konsep homogenisasi zona fungsi komersial yang berbasis riset teknologi informasi atau industri high-end

5. Mobility & Linear Space

Salah satu pemicu mutasi urban terhebat dalam struktur kota sejak awal abad 20 adalah hadirnya mobil dalam kehidupan manusia. Kuantitas infrastruktur jalan untuk kendaraan bermotor sering mendominasi konsep perancangan kota. Namun infrastruktur jalan tersebut umumnya hanya direncana secara kapasitas teknis semata dan secara spasial tidak didesain dengan teliti. Akibatnya potensi lahirnya ruang-ruang sosial kota menjadi hilang dan fisik kota pun akhirnya sering hanya bisa diapresiasi dari balik jendela mobil. Paradigma status quo ini juga banyak melahirkan ruang-ruang sisa mubazir atau junk space, seperti kita lihat di Jakarta dan Pudong di Shanghai.

Sementara di beberapa kota di kawasan Asia lainnya, ruang linear jalan yang secara spasial dirancang dengan baik dan serius dalam penataan kawasannya, ternyata berhasil menjadi ruang kota yang mampu menyedot kehadiran publik yang sangat besar dan memicu kesuksesan bisnis komersial. Bintang Walk di Kuala Lumpur yang meniru Orchard Road di Singapura, Nanjing Lu di Shanghai atau Bar Street di Beijing adalah contoh-contoh koridor jalan kota yang menjadi public & business place yang berhasil.

6. Adaptive-reuse in Urban Design

Orisinalitas adalah konsep dasar turisme berbasis arsitektur atau kawasan historis. Namun sudah menjadi fenomena umum, bahwa kegagalan dalam konservasi arsitektur dan kawasan kota ini adalah akibat dari kurangnya kreativitas atau ide-ide bisnis yang sensitif untuk menghidupkan kawasan historis secara swadaya. Tanpa bisa beradaptasi
dengan fungsi dan tren urban baru yang relevan, banyak bangunan dan kawasan historis yang mati, apalagi jika hanya mengandalkan subsidi dari pemerintah.

Saat ini di beberapa kota-kota Asia, konsep ‘adaptive-reuse’ dalam skala kawasan ternyata berhasil menjadi tujuan wisata utama di kota-kota besar Asia. Xintiandi dan The Bund di Shanghai, yang menggabungkan arsitektur kolonial dengan fungsi-fungsi retail modern hi-end, adalah contohnya. Kawasan Boat Quay atau Clarke Quay di Singapura juga merupakan contoh keberhasilan perkawinan konservasi kawasan historis dan kreativitas bisnis modern. Sementara di
Indonesia, kawasan Kota Lama di Semarang, Kesawan di Medan juga sebenarnya punya potensi besar untuk dikembangkan seperti model dan contoh sukses di kota-kota Asia tersebut di atas.

7. Sustainable Practice in Urban Design

Salah satu kelemahan ‘modern urban planning’ antara lain adalah kurangnya perhatian terhadap dampak ekspansi urban skala besar terhadap lingkungan ekologis dan interaksi sosial warga kota. Konsep sub-urban Amerika sekarang malah sudah membengkak tak terkendali menjadi ‘mega-suburban’ . Model ini yang umumnya berdensitas yang
amat rendah namun memakan skala ruang yang amat luas, berakibat negatif terhadap 3 hal: lingkungan alam yang terdesak dan tercemar, kohesi sosial warga kota yang lemah dan jurang kesetaraan ekonomi yang dalam akibat komersialiasi lahan kota.

Dalam konteks urban design, kesadaran akan hal-hal negatif tadi melahirkan beragam konsep baru yang secara umum berada dalam koridor ‘sustainable practice’.  Desain kota dengan pendekatan ‘optimized density’, ‘compact city’, ‘walkable neighborhood’, ‘urban growth boundary’ maupun perancangan berbasis transportasi publik atau ‘transit-oriented development'(TOD) telah menjadi pilihan-pilihan baru dalam konsep merancang kota. Pendekatan ini, seperti konsep Richard Rogers untuk Pudong CBD atau desain Tampines New Town di Singapura, umumnya mampu mengurangi ekses negatif ekspansi urban terhadap lingkungan alam, memotivasi interaksi sosial warga di ruang
kota dan meminimalkan komersialisasi lahan kota.

***

Dalam kehidupan kota yang bergerak intens dan dinamis, mutasi atau bahkan evolusi dalam tipologi arsitektur, infrastruktur dan ruang kota sering tidak terasa. Karenanya beragam fenomena kontemporer yang terjadi di kota-kota dunia di luar Indonesia, terutama di Asia, bisa secara arif kita jadikan cermin untuk terus belajar dan berhati-hati,
demi masa depan kota-kota di Indonesia yang, mungkin, bisa lebih baik.

Superblok sebagai model kendali pembangunan kota

Kota adalah akuarium perubahan. Di dalamnya peradaban manusia terus bergerak dan berubah. Siapa yang tidak mampu ikut arus peradaban, maka ia akan terlindas roda kemajuan zaman. Karenanya, sumber dari segala sumber masalah kota adalah ketidakmampuan sistem kota mengantisipasi pertumbuhan dan mengontrol perubahan. Peradaban manusia, gaya hidup dan fisik kota begitu cepat berubah, sementara antisipasi sistem kota dan mekanisme kontrolnya umumnya berjalan perlahan. Dan kota-kota besar di Indonesia pun mengalami sindrom ini.

Arus urbanisasi yang ekstrim, distribusi spasial & permukiman yang timpang, sistem transportasi kota yang seadanya, gaya hidup berkendaraan yang eksesif dan boros energi sampai alpanya kota menyediakan ruang-ruang pejalan kaki yang nyaman adalah rutinitas masalah kota-kota metropolitan di Indonesia. Inilah fenomena ketidaksiapan dari sebuah wadah peradaban yang bernama kota.

Dengan skala masalah yang gigantis ini, maka konsep dan strategi perancangan kota yang responsif terhadap perubahan dan mampu mengontrol pertumbuhan (growth control) menjadi kebutuhan mendesak. Ketidakmampuan kota-kota besar mengontrol ekses–ekses pertumbuhan dalam skala regional, akhirnya mendorong lahirnya konsep-konsep baru untuk skala kontrol yang lebih kecil dan memungkinkan (managable).

(2)

Salah satu konsep yang berkembang antara lain adalah menciptakan zona-zona terkontrol (controlled zone). Namun konsep ini pun bukanlah barang baru. Berbagai istilah dan konsep sudah banyak ditawarkan sejak abad lampau dengan aplikasi dan konteks yang beragam. Ebenezer Howard merintisnya dengan konsep ‘Garden City’ untuk populasi 32,000 penduduk. Frank Llyod Wright dengan konsep ‘ Broadacre’. Di Perancis dan Brasilia dikenal dengan istilah ‘Urban Sector’. Kelompok New Urbanism di Amerika Serikat menamai dengan istilah ‘Neighborhood Unit’. Namun konsep zona terkontrol di pusat kota (inner city) dalam konteks dunia properti kontemporer barat dikenal dengan istilah ‘Superblock’. Konsep ini dipelopori sejak tahun 20-an di Amerika Serikat oleh Perry & Stein dan di Eropa yang dikembangkan Le Corbusier terutama untuk kawasan hunian skala besar.

Superblok sendiri adalah suatu kawasan di konteks urban yang dirancang secara terpadu dan terintegrasi (integrated developement), berdensitas cukup tinggi dalam konsep tata guna lahan yang bersifat campuran (mixed-use). Salah satu kunci terpenting dalam keberhasilan sebuah superblok adalah keberhasilan mekanisme kontrol, seperti halnya konsep Urban Design Guidelines (UDGL) yang memuat regulasi-regulasi pengembangan superblok.

Sebenarnya tidak ada konsep yang jelas mengenai luasan kawasan superblok. Namun beberapa blok/lot gedung yang saling terintegrasi dalam satu konsep master plan sudah bisa diklaim sebagai superblok. Kawasan Cyberport di Hongkong, Raffles Place dan Suntec City di Singapura adalah contohnya. Postdamer Platz di Berlin. Sudirman CDB dan Mega Kuningan adalah kawasan superblok yang dikembangkan di kota Jakarta.

Menurut Danisworo (1996) terdapat sedikitnya 6 keuntungan dari konsep Superblok:

  1. Mendorong tumbuhnya kegiatan yang beragam secara terpadu dalam suatu wadah secara memadai
  2. Menghasilkan sistem sarana dan prasarana yang lebih efisien dan ekonomis
  3. Memperbaiki sistem sirkulasi
  4. Mendorong pengembangan sistem persil yang tidak kaku dan lebih fleksibel
  5. Mendorong pemisahan yang jelas antara berbagai sitem moda transportasi
  6. Memberikan kerangka yang luas bagi inovasi perancangan bangunan dan lingkungan.

Idealnya kawasan superblok mampu menjadi kawasan yang mandiri (independent controlled zone), dimana warga kota bisa tinggal, bekerja dan berekreasi (live, work & play district) dalam satu lokasi. Jika ini terjadi, maka ketergantungan warga kota untuk bepergian dengan kendaraan yang boros energi akan berkurang. Untuk kasus Jakarta, idealnya warga kota yang berkantor di Kuningan misalnya juga tinggal di kawasan yang sama, seperti halnya warga Hongkong yang tinggal dan bekerja di kawasan Central di pusat kota Hongkong. Dengan konsep ini kualitas waktu untuk interaksi sosial dengan keluarga pun bisa tetap dipertahankan dan waktu bekerja yang produktif bisa jauh lebih tinggi karena lokasi tempat kerja dan tinggal yang berdekatan (walkable environment).

Secara regional pun jika konsep superblok yang mandiri ini teraplikasikan dengan baik dan jumlahnya bisa berkembang secara signifikan, maka permasalahan ketidakefisienan sistem urban bisa sedikit banyak dikurangi. Apalagi jika antar kawasan-kawasan superblok mandiri ini bisa terkoneksi dengan baik oleh transportasi publik seperti halnya MRT, monorail atau busway.

Namun telah menjadi catatan sejarah, bahwa di Jakarta aplikasi konsep superblok yang terintegrasi dan terpadu umumnya tidak sepenuhnya bisa terwujud. Kontrol Urban Design Guidelines (UDGL banyak yang diabaikan oleh para pengembang yang membangun gedung-gedung di kawasan superblok ini. Akibatnya keinginan untuk mendapatkan kawasan yang nyaman, manusiawi dan inovatif secara desain tidak sepenuhnya terjadi. Kawasan superblok ini akhirnya hanya menjadi kumpulan blok-blok gedung yang bergabung dalam satu kawasan besar tanpa hubungan konektivitas (urban linkage) yang positif antar satu dengan lainnya. Karenanya konsep superblok ini pada umumnya bisa lebih berhasil jika dikembangkan dan dikelola oleh satu pengembang utama saja.

Selain itu dalam konteks Jakarta, ideologi ekonomi pasar yang begitu kuat menyebabkan blok-blok hunian di kawasan superblok ini hanya diperuntukan kepada masyarakat menengah atas. Belum ada terobosan untuk memberlakukan regulasi terhadap kawasan superblok agar menerapkan konsep densitas campuran (mixed income & mixed density), dimana masyarakat menengah bawah pun bisa tinggal di kawasan superblok ini. Hal lain yang tidak kalah penting adalah perlunya kesiapan infrastruktur/utilitas kota dalam mengantisipasi kebutuhan dan dampak dari densitas pembangunan kawasan superblok yang cukup tinggi ini.

(3)

Strategi Perancangan Superblok:

  1. Identity/Branding: Strategi ini lebih pada studi kelayakan dan konsep identitas ekonomi. Banyaknya kawasan-kawasan sejenis menyebabkan kawasan superblok pun harus memiliki identitas tematik. Contohnya antara lain seperti Suntec City di Singapura dengan konsep Business& Trade Superblock, Ropponggi Hill di Tokyo dengan konsep Lifestyle Superblock dan Kawasan Cotai di Macau dengan konsep Entertainment superblock. Dengan identitas ini maka kawasan ini memiliki posisi pasar (marketing positioning) yang kuat dan berbeda dengan kawasan-kawasan lainnya.
  2. Mix of Uses: Superblok yang mandiri harus memiliki tata guna lahan bersifat campuran (mixed-use) dimana fungsi hunian, publik, komersial dan rekreasi bisa hadir dalam satu kawasan. Selain itu, peruntukan lantai dasar (ground floor use) haruslah digunakan untuk kegiatan retail atau fungsi publik aktif yang secara fisik transparan untuk menjamin hadirnya aktifitas publik dari pagi sampai malam.
  3. Massing Framework: Tata bangunan dalam superblok harus memiliki kepekaan terhadap konteks urban. Konsep ‘streetwall’ dimana deretan bangunan lurus sejajar mendefinsikan ruang jalan disarankan dikombinasikan dengan penggunaan ruang di zona garis sempadan bangunan (GSB) sebagai jalur publik aktif. Satu bangunan tertinggi/terunik biasanya diperlukan sebagai tengaran (landmark) yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang tidak terlalu menonjol (background building).
  4. Efficient Vehicular Circulation: Konsep sirkulasi kendaraan dirancang seefisien mungkin. Strategi terbaik adalah dengan menyediakan transportasi publik internal yang terhubung dengan jaringan transportasi publik kota. Konsep drop off untuk kendaraan dan parkir di lantai dasar depan gedung sebaiknya juga dikurangi. Di beberapa kota di Asia, konsep basement yang terkoneksi (interconnected basement) juga menjadi inovasi dalam konteks manajeman lalu lintas di kawasan superblok.
  5. Mulit-layers Pedestrian Linkage: Pada dasarnya superblok harus menjadi kawasan yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki. Karenanya inovasi dalam konsep ‘urban linkage’ dan ‘air-rights’ untuk kepentingan pedestrian menjadi penting. Seperti halnya di beberapa kawasan superblok di Hongkong, jalur pejalan kaki tidak hanya disediakan di lantai dasar namun juga di lantai dua yang menembus gedung-gedung yang berada di kawasan tersebut. Konsep ini bisa diterapkan dengan imbalan insentif pembangunan berupa kenaikan KLB ataupun penurunan pajak bangunan.