Archive for the 'life' Category

‘Greedy and Green’

Setiap pagi di hari-hari ini saya semakin gundah. Gundah, mengetahui modernitas yang kita tumpangi ternyata adalah perahu yang rapuh dan bocor. Hari-hari ini, dunia tiba-tiba mencemaskan hati. Sejak Lehman Brothers dinyatakan bangkrut, gara-gara kredit perumahan yang macet di Amerika, jutaan orang sudah mulai di-PHK, bisnis global sudah mulai lesu, indeks saham sudah mulai melorot.  Panik. Seorang pialang saham lulusan Harvard pun memutuskan bunuh diri bulan oktober lalu.

 Di dunia investasi saham yang sering rumit dan gerak grafik reksadana di monitor komputer yang sering kita tidak mengerti, keserakahan terlihat sebagai obor olimpiadenya. Dan Amerika adalah pembawa obornya. “In this business, greedy is the new religion,” ungkap seorang pialang saham di Wall Street. Keserakahan korporasi di dunia ekonomi yang Manuel Castels sebut sebagai fenomena‘weightless economy’ ini mulai berimbas ke mana-mana. Minggu ketiga Oktober lalu, hawanya mulai terasa di negeri kita. Resesi tampaknya mulai mengintip di lubang pintu.

 Dan kita paham apa itu resesi. Kita pernah melalui jalan itu. Ekonomi yang jalan ditempat. Bank yang pelit mengucurkan pinjaman. Proyek-proyek yang dihentikan. Fee arsitek yang ditunggak. Konsumen yang malas berbelanja. Pabrik-pabrik yang tutup. “Saya kira hanya efisiensi, ternyata hampir semuanya dirumahkan,”  isak Rina, gadis pekerja di Omnidata di Bandung yang terkena PHK minggu lalu. Di minggu kelabu itu, kita pun melihat saham-saham grup Bakrie, orang terkaya di negeri ini, berjatuhan.

 Tiba-tiba saya teringat Rully, adik kelas saya yang lulus saat krisis global di tahun 1998. Ia yang sangat berbakat dan sempat saya jagokan harus pindah haluan karena tidak ada pekerjaan untuk arsitek di negeri ini. Ia memutuskan bersekolah lagi di bidang ekonomi dan akhirnya bekerja di perusahaan susu multinasional.  Tiba-tiba pula saya teringat Harris, sahabat sepermainan saya di kampus dulu. Di tahun yang sama ia pun pergi jauh dari negeri ini untuk mencari sesuap nasi.  Dan ia memutuskan untuk tidak kembali lagi.

***

 Setiap siang di hari-hari ini saya semakin Risau. Risau, mengetahui perahu modernitas yang kita tumpangi ternyata dibajak oleh orang-orang serakah dan takabur. Di kota-kota kita, keserakahan itu terlihat kasat. Di Bandung, atas nama kemajuan, hutan kota akan dibabat untuk dijadikan shopping mall. Di Kemang, atas nama ekonomi, aturan Koefisien Luas Bangunan (KLB) bernilai satu bisa disulap menjadi delapan kalinya. Hari-hari ini, hidup di negeri sejuta koruptor ini begitu melelahkan.

 Dari sejumlah buku saya mencari paham. Rene Descartes, bapak filosofi Modern, menyatakan bahwa manusia adalah pusat dunia. “Cogito ergo sum”. Karena hanya manusia yang bisa berpikir. Namun sekelompok manusia menerjemahkannya lebih jauh. Bumi dan seisinya hanyalah penyempurna eksistensi manusia. Zat yang tidak bisa bicara dan berpikir hanya hadir untuk dieksploitasi oleh rasionalitas manusia.

 Disini saya sedikit paham, mengapa Istana Group selaku developer dan arsitek sewaannya dari Jakarta ingin membabat hutan Babakan Siliwangi untuk bangunan komersial. Mereka menganggap hutan, bumi dan air tidak bisa bicara dan berpikir, sehingga harus mengalah untuk rasionalitas mereka. Yaitu rasionalitas pertumbuhan kapital mereka yang harus bergerak eksponensial. Masalah ruang hijau Bandung yang hanya 8 persen dari amanat 30 persen tidak akan pernah masuk dalam rasionalitas mereka.

 Ini juga menjelaskan mengapa tidak semua orang Jakarta, Bandung ataupun Surabaya , yang hidup selalu bergegas, mau memahami arifnya filosofi  kultural orang Bali, bijaksananya kaum Baduy ataupun welas asihnya warga Kampung Naga dalam menempatkan alam raya sebagai mitra manusia yang setara. Dari kearifan emosional ini lahirlah konsep hutan larangan, danau sakral, gunung suci yang tidak boleh dijahili. Di mata mereka bumi seisinya bisa kesal, gundah dan marah sehingga harus selalu dijaga  suasana hatinya. Dan upacara-upacara ritual di laut, di hutan atau di bibir gunung adalah bentuk komunikasi dan cara mengobrolnya.

 Namun di mata manusia kontemporer dan kaum penelikung filosofi Modern, hal-hal di atas tidaklah masuk akal. Tidak rasional. Karena itulah Roland Barthes, filsuf semiotik menyebut masyarakat Asia masih didominasi budaya emosional bukan budaya rasional, seperti halnya yang dominan di Barat. Celakanya yang merusak dunia dengan membabat hutan, mengurug pantai, menghilangkan ruang sosial dan hijau kota saat ini lebih banyak dari kelompok yang terakhir  atas nama modernisasi.

 

***

 Setiap malam di hari-hari ini saya semakin khawatir. Khawatir, membayangkan perahu modernitas yang jadi tumpangan ternyata tidak pernah membawa kita sampai ke tujuan. Hari-hari ini, berpikir tentang masa datang selalu berakhir dengan ciutnya hati.

 Berpikir tentang bulan Februari di Jakarta adalah berpikir tentang datangnya banjir besar. Berpikir tentang macetnya Jakarta adalah berpikir tentang hilangnya 43 trilyun peluang ekonomi tahunan dan hilangnya senyum tulus di jalanan. Berpikir tentang Bandung 5 tahun ke depan adalah berpikir tentang parahnya kemacetan, hilangnya ruang-ruang hijau tempat keguyuban sosial, habisnya milyaran rupiah pajak untuk subsidi Persib yang kalah terus atau makin terkurungnya warga Bandung di rumah setiap akhir pekan karena tergerus arus turis Jakarta.

 Hal-hal di atas sering membuat saya merengut, apakah kita sebagai mahluk mathesis universalis Modern ini baru tergerak akal sehatnya setelah diberi amarah alam dan murka Tuhan. Kita baru bergerak membuat sistem kanal banjir, setelah banjir besar menenggelamkan dan mempermalukan Jakarta. Kita baru bergerak mengencangkan aturan perbankan  setelah krisis moneter dan BLBI menguap. Kita  baru bergerak untuk going green  ala arsitek William McDonough setelah hawa kota terasa makin panas, listrik PLN sering mati mendadak atau setelah Al Gore bertutur getir di film The Inconvenient Truth.

 Kadang terpikir,  di hidup yang hanya sekelebat ini, menarik juga melamunkan hidup sebagai warga pedalaman Kampung Baduy atau Kampung Naga yang sederhana. Lahir sederhana, berpikir dan bertindak sederhana serta mati pun sederhana pula. Tidak ada keserakahan.

 Setidaknya kita bisa belajar dari kearifan mereka tentang luhurnya definisi kata ‘cukup’.  Tentang pentingnya menghargai alam sebagai teman berdialog. Tentang perlunya memahami filosofi berbasis kearifan emosional.  Tak apalah Roland Barthes bilang kita kaum emosional. Daripada jadi kaum rasional penghancur dunia ala segelintir oportunis Wall Street atau segerombolan developer serakah yang kaya raya namun  merusak dunia.

 Mungkin sudah saatnya konsep manusia sebagai pusat dunia yang angkuh bergeser menjadi manusia sebagai rahmat dunia yang arif. Menjadi elemen ‘Rahmatan Lil Allamin’.

 

Praha, Oktober 2008

Advertisements

Arogansi ‘Gated-community’ di Kota Kita

KEHENINGAN subuh itu tiba-tiba pecah. Sunyi senyap pun tersergap oleh riuh rendah. Di awal April lalu, tidur nyenyak para penghuni kompleks perumahan Darmo Satelit di Surabaya itu terusik oleh teriakan dan letupan amarah warga setempat yang berunjuk rasa. Tanpa terduga, warga yang marah kemudian memblokade gerbang masuk dengan cara mengelas portal-portal besi di perumahan mewah ini. Portal besi simbol rasa aman dan eksklusif itu tiba-tiba berubah menjadi simbol keterasingan dan keterkungkungan, bak penjara yang menakutkan. Saking paniknya, seorang ibu dan anaknya yang harus ujian sekolah terpaksa sampai menyamar dengan pakaian lusuh untuk bisa menyelinap keluar. Memang ironis, ketika negosiasi dan komunikasi sosial membentur jalan buntu, maka simbol-simbol orang miskin-seperti halnya pakaian lusuh tersebut-kemudian dipersepsikan dan dimanipulasi menjadi satu-satunya media yang bisa menyelamatkan nyali mereka.

Hal yang serupa juga terjadi di Cimanggis Depok. Puluhan warga di sekitar perumahan mewah Vila Pertiwi marah besar dan memprotes keberadaan tembok pembatas yang mengelilingi perumahan ini. Tembok setinggi 2,5 meter ini digugat karena dianggap membuat gelap lorong sirkulasi di perumahan miskin yang ada dibelakangnya. Keberadaannya juga dianggap menyalahi aturan, karena sebelumnya tembok tinggi ini tidak pernah tergambar dalam site plan yang diajukan pihak developer ke Pemda. Namun, pihak mana yang menang, sepertinya bisa dengan mudah diduga.

 

Contoh-contoh ironis kontemporer di atas mengilustrasikan maraknya ancaman friksi sosial yang lahir dari fenomena negatif suatu desain perumahan yang lazim diistilahkan dengan sebutan ‘gated community’.  Praktek pembentengan kawasan perumahan dengan tembok tinggi dan akses tunggal ini memang sedikit banyak merefleksikan melemahnya dimensi sensitivitas sosial masyarakat di kota-kota besar. Faktor kepentingan ekonomi developer maupun kesan prestise dan eksklusif penghuni tipe perumahan ini terkadang sering ingin ditonjolkan melebihi kebutuhan rasa aman mereka.

Gelisah Andre Gide tidaklah keliru. Jurnalis pemenang Nobel ini sempat mengungkap bahwa bau jurang kemelaratan biasanya paling tajam tercium dan terlihat di kota-kota besar. Di sanalah ekses budaya dan friksi sosial saling sinis berpapasan dan bersentuhan. Di sana pulalah libido
sensasi-sensasi sosial pemicu friksi tersebut mengambil tempat. Di Jakarta, tidaklah mustahil jika kehadiran benteng-benteng tinggi yang sering provokatif itu sama banyaknya dengan dengusan perjumpaan antara proletar-proletar miskin lusuh dengan orang-orang necis yang biasa menghabiskan belanja jutaan rupiah dalam sekejap.

***

Menurut Mary Gail Snyder, sosiolog pengarang buku Fortress America, penyebab lahirnya gejala ini dapat dibagi menjadi beberapa aspek. Pertama adalah aspek prestise, dimana tinggal di kawasan elit berbenteng ini dianggap sebagai media imaji untuk menaikkan status sosial. Kedua adalah aspek ekonomi, dimana dalam sudut pandang developer, kawasan eksklusif gated community dinilai akan mampu menaikkan nilai lahan dan mudah untuk dijual. Sedangkan yang terakhir adalah aspek keterpaksaan, dimana pembentengan ini memang kadang terpaksa dilakukan karena berada di kawasan kota yang sangat rawan kriminalitas.

Nafsu prestise/gengsi melalui arsitektur yang diungkap Snyder ini memang lazimnya banyak dipengaruhi oleh godaan psikologis dan didikan budaya yang membentuk manusianya. Meminjam pemahaman seorang pemikir semiologi, Umberto Eco, wujud arsitektur itu selain menjadi obyek fungsional, juga sering dijadikan manusia sebagai objek atau media simbolik. Dalam perjalanan sejarah budaya manusia, arsitektur memang lazim dimaknai dan dibaca dengan beragam interpretasi melebihi aspek fungsionalitasnya. Seperti halnya menara Eiffel yang dibaca sebagai simbol Kota Paris, simbol cinta yang romantis atau beragam simbol lainnya, padahal Gustav Eiffel yang merancangnya hanya punya visi untuk menonjolkan menara ini sebagai simbol utilitas struktur semata.

Oleh karenanya beragam perumahan mewah berbenteng tinggi ataupun rumah-rumah putih bergaya Neo-klasik yang bertaburan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sering dimaknai oleh sebagian masyarakat kita sebagai simbol atau kartu nama dari suatu kelas sosial. Nafsu simbolik ini seringkali menjebak kita sehingga melahirkan persepsi bahwa seolah-olah tidak ada pilihan lain dalam gaya berarsitektur rumah mewah kecuali dengan gaya Neo-klasik tersebut. Demikian pula dengan konsep negatif gated-community yang mempersepsikan seolah-olah tidak ada pilihan lain dalam mendesain batas fisik suatu kawasan perumahan kecuali dengan benteng
tinggi lengkap dengan kawat berduri.

Harus diakui bahwa kaya akan harta memang tidaklah selalu berbanding lurus dengan kecerdasan seseorang dalam memahami desain yang baik maupun kearifan dalam membuka keran komunikasi sosial. Atas dasar selera massal dan gejala hedonisme psikologis masyarakat inilah, sebagian developer perumahan berhasil menemukan celah pangsa pasarnya. Beragam konsep pemasaran properti yang menawarkan rumah bergaya negeri dongeng atau replika kota-kota dunia akhirnya membanjiri lingkungan kita. Konsep-konsep simbolik ini dianggap
mampu menempelkan simbol-simbol status sosial serta memberi kepuasan akan ilusi-ilusi psikologis para pembelinya. Dan memang terbukti, konsep-konsep ini laku keras dan diminati oleh sebagian besar warga kota kita.

Beragam fenomena negatif di atas kemudian diperburuk oleh aliran deras dari gelombang kerusuhan sosial politik yang menghantam kota-kota besar Indonesia sejak lengsernya rezim Soeharto dua tahun lalu. Serempak, rumah-rumah berarsitektur benteng pun meningkat dengan tajam baik secara kualitas dan kuantitas. Pagar rumah setinggi 2.5 meter lengkap dengan
pecahan belingnya seolah menjadi pemandangan yang lumrah. Rasa tidak aman yang akut dan ketakutan yang kontinyu ini kemudian melahirkan variasi desain bangunan dan kawasan perumahan yang hiper defensif yang disebut sebagian orang dengan istilah architecture of fear.

Kehadiran fenomena architecture of fear ini kemudian memperumit kondisi sosial budaya kota yang sebenarnya sudah cukup parah dan akhirnya menjadi katalis dari sakitnya manusia-manusia kota secara psikologis. Sakit psikologis yang lazim lahir dari rasa ketakutan yang berlebihan dan bermuara pada tingkat individualitas yang tinggi ini kemudian ditelaah sosiolog Robert Bellah sebagai “hyper-individualism syndrome”.

***

FENOMENA-fenomena serupa pun banyak terjadi di negara-negara kapitalis maju seperti halnya Amerika Serikat. Di negeri yang mendewasakan privasi dan individualitas ini, tercatat sudah delapan juta orang bermukim di sekitar 30 ribu perumahan yang mengadopsi konsep negatif gated community tersebut. Walaupun alasan paling lazim adalah faktor keamanan, namun banyak sosiolog yang berargumen bahwa pembentengan ini hanyalah akan menciptakan rasa aman yang bersifat parsial dan merangsang friksi sosial karena tonjolan provokasi eksklusivitasnya.

Giuseppe Sacco, seorang ahli geografi Italia, menyebut fenomena ini sebagai medievalisasi struktur sosial masyarakat, dimana masyarakat cenderung kembali ke pola permukiman klan-klan pada abad pertengahan yang dibatasi oleh benteng-benteng tinggi dan gardu jaga. Semua yang di luar benteng biasanya selalu dianggap sebagai ancaman dan musuh yang harus diwaspadai
dan dicurigai. Namun beberapa tahun ke belakang ini, efek-efek negatif yang sering lahir dari fenomena isolasi sosial ini akhirnya memaksa banyak kota di Amerika Serikat mulai mengeluarkan undang-undang yang melarang pihak developer untuk membentengi proyek-proyek perumahannya tanpa alasan yang krusial.

Menjawab isu di atas, sebagian arsitek dan developer yang tercerahkan sudah mulai memperkenalkan konsep green buffer dengan mengganti benteng-benteng tinggi tersebut dengan deretan pohon-pohon rindang di batas kawasan, yang kemudian bisa dimanfaatkan juga oleh lingkungan warga setempat. Lebih lanjut, arsitek Peter Calthorpe pun sempat berargumen bahwa pendekatan desain yang sensitif dan kreatif seperti memperbanyak polisi-tidur, sudut
belokan yanag tajam, desain pagar yang transparan, lampu jalan yang memadai ataupun neighborhood watch sebenarnya bisa lebih efektif dalam mewujudkan rasa aman lingkungan. Bahkan sejak tahun ’60-an sosiolog urban terkenal Jane Jacobs sebenarnya sudah mengingatkan bahwa
eyes on the street atau kepedulian aktif warga terhadap lingkungan sekelilingnya merupakan pijakan terkuat dan mendasar dalam mewujudkan rasa aman dan ikatan sosial warga.

Seperti yang diungkap sosiolog Amitai Etzzioni dalam konsep revitalization of communitarianism, mudah-mudahan kita di Indonesia tidak sampai perlu melakukan sebuah revolusi sosial atau menunggu beberapa generasi hanya demi mengembalikan rasa kekeluargaan dan sensitivitas sosial yang sebenarnya telah menjadi nilai luhur timur bangsa kita.

 

Ataukah sebaliknya, mungkin kita cukup bersikap pasrah saja karena budaya kekeluargaan yang diajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar itu sebenarnya hanyalah ilusi mewah semata.

 

 

Menyelamatkan peradaban dengan desain

[1]
Seorang ibu tua gemuk dalam wajah yang lelah terlihat menenteng sebuah
kursi. Ia sumringah tersenyum puas. Antriannya selama berjam-jam dalam
panas terik tidaklah sia-sia. Sebuah kursi cantik, karya desainer
furnitur Inggris terkenal Tom Dixon, ia dapatkan dengan gratis.  Hari
itu, dalam rangka London Design Festival, Tom Dixon membagi-bagikan
ratusan kursi karyanya gratis kepada publik. Setelah dipamerkan
seharian dalam bentuk seni instalasi di ruang luar, hanya dalam tempo
15 menitan ratusan kursinya ludes diambil para pengantri.

Itulah salah satu cara Inggris mempopulerkan wacana desain. Desain
menjadi kata yang sangat populer minggu itu. Pada pertengahan
september lalu seluruh London seperti kerasukan wacana desain dengan
adanya London Design Festival. Festival ini menyelenggarakan pameran
karya-karya desainer muda, open house gedung-gedung privat untuk
dikunjungi umum, eksebisi kelas dunia untuk dunia interior, material-
material bangunan, ceramah umum desainer kelas dunia, seminar dan lain
sebagainya.

Inggris punya alasan.  Ia bermimpi untuk menjadi pusat desain dan
arsitektur dunia. Untuk visi itu, maka masyarakatnya harus dididik
untuk melek desain. Desain harus menjadi keseharian. Wacana`good
design is good business’ harus menjadi kebutuhan. Padahal di Inggris
15 tahun lalu wacana desain tidaklah menjadi hal krusial. Namun
sekarang, belasan majalah desain, arsitektur dan lifestyle memenuhi
rak-rak toko buku, acara-acara yang meliput kegiatan desain grafis,
iklan, furnitur sampai arsitektur menjadi hal yang umum.

“Jangan meremehkan mukjizat desain!” ujar Sir Terence Conran, seorang
entrepreneur legendaris di dunia desain. “Desain mampu melipatgandakan
nilai ekonomi sebuah objek”, lanjutnya. Ia mengungkapkan bahwa sebuah
kursi dengan harga produksi sebesar seratus dollar bisa dijual ribuan
dollar hanya karena keunikan desainnya, ungkap pemilik retail Habitat
dan Conran Store ini. Pesannya sangatlah jelas. Tanpa desain tidak ada
nilai tambah.

Museum Guggenheim di kota Bilbao Spanyol adalah contoh klasik dalam
konteks di atas untuk kategori arsitektur. Setelah ia berdiri, karena
publikasi yang mendunia, sekitar empat jutaan pelancong datang ke kota
tersebut hanya untuk melihat keunikan museum yang dirancang oleh
arsitek Frank Gehry. Bayangkan, jutaan pelancong itulah yang membawa
devisa 14 trilyun rupiah ke kota industri di Spanyol ini.  Maka tak
heran jika “The Bilbao Effect” menjadi impian para walikota kota-kota
di Eropa sana.

[2]

“Masa depan dunia adalah ekonomi kreatif,” ungkap Richard Florida,
sosiolog dari Amerika. Ia menyiratkan bahwa siapa pun yang memiliki
bakat (talent), jejaring (network) dan kewirausahaan yang inovatif
(entrepreneurship) dialah yang akan memenangkan persaingan global di
masa depan.  Dan industri desain, dari desain grafis sampai
arsitektur, adalah salah satu motor gerakan ekonomi kreatif  atau
populer juga dengan istilah `knowledge economy’.

Karenanya tetangga kita Singapura, yang selalu panik mereposisi
perannya di percaturan ekonomi global, melihat peluang ini juga secara
serius.Singapura berambisi menjadi pusat ekonomi kreatif di Asia.
Perdana Menteri Lee Hsien Long tahun 2005 meluncurkan tiga gerakan
nasional:  Design Singapore, Media 21 dan Rennaisance City 2.0. Mereka
berharap sumbangan bagi pertumbuhan ekonominya akan tumbuh dua kali
lipat selama tujuh tahun dari tiga industri kreatif tadi.

“Knowledge is power,” sabda filsuf Francis Bacon. Dan  Inggris pun
menterjemahkan filosofi itu dalam bentuk reposisi sistem ekonomi yang
merespons peluang ekonomi kreatif ini. Kota-kota industri seperti
Birmingham, Glasgow, Brighton atau NewCastle perlahan-lahan sudah
mulai meninggalkan ketergantungan pada ekonomi berbasis industri. Kota-
kota ini mulai menggiring iklim ekonominya ke arah ekonomi  kreatif
dan aktivitas industri desain sebagai tulang punggungnya. Ekonomi
kreatif adalah rumah barunya, dan desain adalah kunci pintunya.

Dunia akademik, swasta,  LSM dan pemerintah terlihat bersepakat untuk
kompak. Kawasan-kawasan kota yang mati diregenerasi lagi untuk menjadi
tempat berkiprah para pemula (start-up) di industri kreatif.  Insentif
ekonomi diperbesar. Hasilnya pun luar biasa. Pertumbuhan ekonomi
kreatif ini hampir 3 kali lipat dari pertumbuhan ekonomi nasionalnya.
Ekspor dari ekonomi kreatif ini sebesar 15 %. Lebih besar dari ekspor
ekonomi jasa sebesar 7% atau ekspor ekonomi umum lainnya yang hanya 4%.

[3]

“Saya suka London karena toleransi, keragaman budaya dan kemudahan
infrastruktur bagi desainer pemula,” ungkap Sebastian Noel, desainer
produk berbasis teknologi dari sebuah perusahaan bernama Troika.
Troika adalah firma pemula yang mempunyai visi mengawinkan teknologi
terapan dan desain untuk kepentingan publik. Di kota ini ia dengan
mudah bisa menghubungi institusi Creative London jika butuh bantuan
untuk mencari partner bisnis. Tinggal mampir ke London Design Council
jika butuh nasihat-nasihat teknis dan bank data pabrik manufaktur 
yang bisa mewujudkan ide-ide kreatifnya. Di acara London Design
Festival ia pergunakan untuk memamerkan karya-karya terbarunya ke
masyarakat. Dan puluhan firma pemula ala Troika pun menjamur subur di
London

London memang istimewa. Setiap tahun di bulan September, selama dua
minggu digelar belasan acara yang berhubungan dengan desain. Ada open
house firma-firma desain/arsitektur, open house gedung-gedung unik
yang sehari-hari tertutup untuk publik. Ada acara 100% DESIGN tempat
para desainer dari 30-an negara memamerkan karya-karya terbarunya,
acara 100% LIGHT dan 100% MATERIAL  untuk pameran teknologi lampu dan
material terbaru. Seluruh masyarakat London pun terkena deman desain. 

Kesiapan infrastruktur desain ini terkesan merata hadir di kota-kota
lain di Inggris. Di Glasgow terdapat gedung tua karya Charles Rennie
Mackintosh sebagai tempat bernaung organisasi desain bernama
Lighthouse. Sebuah one-stop design center. Di gedung 5 lantai ini
dihadirkan galeri-galeri tempat pameran karya para desainer/arsitek
museum desain, restoran/kafe, ruang pertemuan yang disewakan, retail
desain dan kantor-kantor firma desain.

Di sini pula didirikan  departemen Creative Entrepreneurs Club (CEC),
sebuah wadah serius tempat memotivasi dan melatih para desainer pemula
untuk berani mengembangkan bisnis desainnya dengan serius dan
mengglobal. Menariknya wadah ini membuka diri untuk menerima anggota
diri seluruh penjuru dunia.

[4]

Bagaimana dengan Indonesia?

Tahukan anda, bahwa di Indonesia bertebaran para desainer, arsitek dan
pekerja ekonomi kreatif lainnya yang sangat berbakat dan bedeterminasi
tinggi. Leo Theosabarata dengan karya kursi Accupunto; Castle
Production di Pasar Baru Jakarta yang menghasilkan animasi kelas dunia
Carlos the Catterpilar dan The Jim Elliot Story; Sibarani Sofyan
seorang urban designer muda yang karya-karyanya bertebaran di
Malaysia, Cina dan Dubai; Christiawan Lie, komikus GI Joe yang naik
daun di Amerika, Budi Pradono, arsitek muda yang mendapatkan
penghargaan Architectural Review. Dan masih banyak lagi yang
tersembunyi bergerilya mendunia dengan karya-karyanya tanpa kita tahu.

Salah satu masalah kita ada ketidakhadiran infrastruktur dunia desain.
Semua kelompok dalam industri desain, mulai dari dunia grafis sampai
arsitektur tercerai berai bergerak sendiri-sendiri. Tidak ada visi
bersama untuk arah jangka panjang yang jelas. Di luar negeri pun
Indonesia tidak punya reputasi atau `brand image’ yang kuat untuk
produk-produknya. Hal ini diperparah dimana pemerintah pun belum
melihat desain dan ekonomi kreatif sebagai prioritas. Sangat khas
Indonesia. Atau dengan istilah Florida, Indonesia itu penuh memiliki
bakat (talent) kelas dunia tetapi tidak memiliki jejaring (network)
dan kewirausahaan yang inovatif (entrepreneurship).

Sudah umum jika kita mendengar bahwa banyak para desainer yang
kebingungan mencari manufaktur yang bisa membantu mewujudkan idea-
idenya briliannya yang mungkin berpotensi bisnis milyaran rupiah.
Banyak arsitek muda yang kebingungan bagaimana memulai bisnis desain
dan menetukan fee desain. Para desainer juga sering kesulitan untuk
mencari modal ke Bank karena sering ditolak karena tidak punya fixed
asset kecuali ide-ide kreatifnya.

Tidak seperti di Skotlandia dengan Lighthouse atau Thailand dengan
Thailand Design Center (TDC), ketiadaan infrastruktur industri desain
di negeri kita, akhirnya melunturkan semangat `entrepreneurship’ dari
para desainer muda berbakat. Jangan heran jika terjadi yang dinamakan
Richard Florida sebagai `The Flight of Creative Class’, dimana para
manusia-manusia berbakat akhirnya mengungsi ke luar negeri yang lebih
kondusif.

Bayangkan jika seluruh desainer dari seluruh industri desain
bersepakat untuk menjadikan desain dan ekonomi kreatif sebagai
lokomotif ekonomi Indonesa di masa depan. Bayangkan jika ide-ide
kreatif yang brilian selalu bertemu dengan nafas semangat
kewirausahaan. Di Inggris, perkawinan inilah yang menghasilkan nilai
ekonomi sebesar 28 milyar poundstering untuk industri desain dan
arsitektur dan 112 milyar Poundsterling keseluruhan ekonomi kreatif.

Seperti yang pernah diwacanakan oleh Nigel Cross, bahwa peradaban
manusia berkembang dengan kemajuan tiga ranah keilmuan: Sains
(kebenaran), Humaniora (keadilan),  dan Desain (kecocokan). Karenanya
kapan lagi kita bergerak bersama mewujudkan Indonesia yang lebih
makmur melalui desain dan reputasi global yang lebih baik jika tidak
sekarang.

Mari kita selamatkan peradaban dengan Desain. Setidaknya untuk anak
cucu kita.