Terjebak di Rumah Susun

Di suatu masa di tahun 2008 saya pernah diminta mendesain sebuah proyek rumah susun di Jakarta. Merasa tertantang, karena sering melihat desain-desain rumah susun yang memprihatinkan, tidak inovatif berbaris membosankan seperti bedeng tentara. Berawal dari niat untuk menghasilkan sebuah konsep hunian bertingkat yang murah, manusiawi dengan desain yang inovatif. Mula-mula isi kepala bersemangat penuh dengan ide-ide ini dan itu. Namun dalam perjalanan banyak sekali benturan kepentingan. Diujung proses, realita ekonomi pasar dan aturan-aturan pemerintah yang tidak matang akhirnya menelanjangi dan memreteli impian-impian tadi . Satu persatu idealisme desain pun menciut.

Karena diserahkan ke mekanisme pasar, maka pihak swasta lah yang memiliki peran terkuat dalam memproduksi rumah susun. Agar bisnis mereka masih masuk akal, mereka pun kemudian berhitung dengan cermat. Jika harga harus murah seperti yang dipatok pemerintah maka mereka menuntut banyak kompensasi . Triknya adalah membangun dengan meter persegi yang sangat tinggi yang tercermin dari jumlah lantai yang banyak dan biaya konstruksi yang ditekan. Di sisi lain mereka menuntut desain harus sangat efisien, dimana 85 persen lantai untuk dijual sisanya untuk sirkulasi. Di tiap lantai pun harus ‘double loaded’ dimana kiri dan kanan koridor adalah unit-unit yang dijual dengan ukuran luas yang minim atau secukupnya. Ukurannya adalah 18, 21, 27, 30 atau 36 meter persegi. Dari sisi argumentasi ekonomi, semua permintaan di atas terdengar wajar.

Namun pada saat garis rancangan ditarik di atas kertas gambar, barulah ketahuan konflik-konfliknya. Pada saat desain tapak dirumuskan, keluarlah masalah-masalahnya. Persi s seperti membuka kotak Pandora.

Untuk rumah susun di Jakarta, pemerintah umumnya memberikan hitungan KLB sebesar 5 atau luas total bangunan adalah sebesar 5 kali luas lahan. Jika luas tanah 2 hektar maka luas bangunan adalah 10 hektar. Efeknya ternyata diluar dugaan. Karena unitnya kecil-kecil maka jumlah penduduk 2 hektar ini jumlahnya bisa mencapai 16 ribu jiwa. Waktu disimulasikan, ternyata jika semua penduduk ini tiba-tiba turun ke lantai dasar untuk evakuasi, maka ruang terbuka yg tersedia yang rata-rata sekitar 60 persen dari total luas lahan tidak akan bisa menampung mereka. Sungguh merisaukan. Peraturan ini memberikan insentif untuk pengembang namun melupakan dampak ledakan populasi yang terjadi.

Dengan meter persegi yang sangat besar di atas lahan terbatas ini, maka tinggi bangunan menjadi berlapis-lapis sampai belasan atau duapuluhan lantai. Koridor pun menjadi sangat panjang, sehingga menghasilkan efek lorong yang panjang dan gelap. Lebih rumit lagi ketika ide memperlebar koridor atau membuang beberapa unit untuk lubang cahaya ditolak dengan cepatnya. Alasannnya proporsi luas terjual dan sirkulasi menjadi timpang tidak efisien. Proyek pun menjadi tidak fisibel lagi kilahnya. Dan cerita proyek Pruitt Igoe di Amerika yng dirubuhkan karena isu sosial dan keamanan rumah susun yang akut, ikut menghantui perjalanan proses ini.

Ide memperbanyak elevator agar lebih manusiawi pun sering ditolak pengembang . Alasannya mahal katanya. Padahal dengan kepadatan begitu tinggi bisa-bisa pada jam pergi atau pulang kerja , banyak penghuni yang bisa pingsan kesemutan atau mati berdiri, karena menunggu lebih dari 30 menit hanya untuk turun atau naik di rumah susun ini. Belum lagi masalah kepadatan ini pasti memicu isu-isu sosiologis. Mereka yang biasa hidup di kontrakan kampung kota, tiba-tiba harus tinggal di lantai 20. Butuh penyesuaian sosial dan kultural yang luar biasa. Isu keamanan di lorong koridor, parkir atau ruang berjualan kakilima yang juga pasti selalu hadir. Juga jangan harap rumah susun yang dibangun pihak swasta bisa punya konsep koridor sisi tunggal atau ‘single loaded’ seperti khayalan pemerintah. Pasti arsiteknya sudah dilempar sepatu duluan , ala eks presiden Bush, oleh pengembangnya.

***

Minggu-minggu setelah penugasan proyek ini adalah minggu-minggu penuh perdebatan dan adu argumentasi. Pada akhirnya memang terjadi kompromi, namun yang diatas angin tetap argumentasi hitung-hitungan ekonomi yang dibawa pihak developer. Kedudukan sementara: kreativitas babak belur oleh kalkulasi ekonomi. Pelajaran berharga yang melelahkan.

Muara dari baku hantam di atas, adalah akibat dari lemahnya peran negara dalam menjamin hak warga negara untuk memiliki rumah. Seharusnya pemerintah menyediakan perumahan atau rumah susun ini tanpa terlalu banyak peran dari pihak swasta. Sekalinya diserahkan ke hukum pasar, maka hitung-hitungan yang mengedepan ekonomi menjadi lokomotifnya. Isu sosiologis, kultural dan ekologis sering terabaikan. Kampanye 1000 tower yang dicanangkan pemerintah akhirnya lebih terdengar sebagai bualan politik di atas awan ketimbang rencana planologis yang masuk akal.

Memang harga jual sudah dipatok tidak lebih tinggi dari 144 juta untuk para pembeli yang berpenghasilan maksimal 4,5 juta Rupiah. Seolah-olah dengan harga yang dianggap cukup terjangkau ini, urusan selesai. Padahal pihak pengembang tetap saja berpikir bisnis. Oke lah harga ditekan rendah, tapi beri saya jumlah unit yang ribuan, pikir mereka. Mereka berkalkulasi, tidak apa-apa mendapatkan recehan, asal jumlahnya segudang ala kekayaan karakter komik Paman Gober dari majalah anak-anak. Itulah asal muasal diberi kepadatan bernilai 5 kali dari luas lahan.

Lucunya, setelah direnungkan, ternyata akhirnya ketahuan bahwa semua pihak sedang belajar apa itu artinya rumah susun. Pemerintah yang kurang teliti, pengembang yang berhitung ekonomi namun tidak berhitung biaya sosial kultural, dan tentunya arsitek-arsitek yang cemas terjebak dalam pusaran ini. Pihak-pihak yang sering mengeritik wacana rumah susun pun sering lupa bahwa rumah susun yang ideal secara sosiologis dan kultural hanya bisa terjadi jika proyeknya disediakan 100 persen oleh pihak pemerintah dengan subsidi yang sangat besar. Dalam pusaran hukum pasar ini, saya sendiri melihat langsung bagaimana proyek-proyek rumah susun yang lolos dalam proses perjinan, desainnya sangat minim inovasi, berbaris bak bedeng tentara, tampak bangunan yang polos sambil tinggi menjulang. Bahkan sayembara-sayembara desain rumah susun yang katanya hasilnya sangat inovatif, dijamin banyak yang tidak aplikatif jika diceburkan dalam konteks hukum pasar seperti ini. Proses berarsitektur adalah proses berkompromi.

Itulah pelajaran pertama dari perjalanan yang melelahkan ini. Lelah karena harus berjibaku argumen atau ide antara idealisasi desain dengan tekanan hitungan ekonomis yang maha berat. Pelajaran berikutnya adalah sebuah kesimpulan bahwa negaralah yang seharusnya menjadi konseptor sekaligus pengembang rumah susun ini. Tapi apa daya, negara selalu mengaku tidak punya dana cukup.

Namun pelajaran terpenting dari perjalanan yang melelahkan ini adalah bahwa rumah susun berkepadatan tinggi tetap menjadi konsep berhuni yang paling kontekstual dalam merespon beban kota-kota besar di Indonesia. Karenanya wahai para arsitek, anda tidak boleh putus asa dan teruslah berinovasi yang disempurnakan dengan berdoa. Demi masa depan peradaban kita semua, masa depan kota, masa depan tempat tinggal anak dan cucu kita. ***

26 Responses to “Terjebak di Rumah Susun”


  1. 1 cmils February 5, 2009 at 3:12 am

    Kang Emil, senang membaca postingan ini, krn saya ( dan tim tentunya) juga sedang berada di tengah pusaran serupa, meskipun bukan dalam posisi perancangnya hehe…membaca ini membuat saya bercermin lagi, apa yang sudah saya sumbangkan untuk solusi perputaran masalah ini…posisi di tengah menjadikan kami seperti polisi dengan backing peraturan yang ambigu, mencoba kuat tapi tidak didukung oleh perangkat yang memadai hehe…
    anyway, trims atas semangat yang kang Emil tiupkan di postingan ini, semoga ini jadi pembelajaran buat semua pihak…
    salam, mila🙂

  2. 2 husni February 5, 2009 at 3:33 am

    Menarik catatannya Emil tentang rusun ini, apalagi dari real pengalaman merancang yang tahun lalu itu. Memang kunci semua ada di kebijakan pemerintah dan harga tanah, kita gak bisa menyalahkan pengembang yang sebetulnya udah banyak berjasa (walau dengan banyak catatan buruk bagi lingkungan)untuk sektor perumahan. Konflik idealisme disain dan bisnis pasti selalu ada, dan akhirnya para disainer harus menyelami sedalamnya logika para developer. ada solusi sebetulnya bila kita sudah sering bermain bersama (becek-becek mungkin) para developer. menarik kok berfikir bersama mereka. ini pengalaman saya juga disana. good luck.

  3. 3 Feylin February 5, 2009 at 3:49 am

    Menarik membaca “curhat” bapak soal rusun ini..saya setuju sekali rusunami tsb hanyalah semata bualan politik …dinegara manapun jika pihak swasta yg diajak pasti yg pertamakali dikalkulasikan adalah hitungan dr sisi ekonominya… untung ngak? kalo ngak ngapain?
    Jakarta misalnya melalui sk 136 pemda dki yg waktu itu msh dipimpin Gub Sutiyoso berusaha “merayu” pihak swasta dg klb sampai dg klb 6 tanpa embel2…swasta pun tertarik dan “memakan” umpan tersebut.swasta pun ramai2 mulai membebaskan lahan yg peruntukkannya untuk program 1000 tower rusun..katanya dalam sebulan mereka bisa jualan ribuan unit. rekor yg tak pernah ada sblmnya dlm penjualan hunian vertikal.
    Tetapi apa lacur, atas saran dan masukan dr tim penasehat arsitektur tata kota kepada gub Fauzi bowo, setelah kajian seperti apa yg bpk curhatkan di atas, ternyata ada potensi BAHAYA bagi generasi yg akan menempati rusun tersebut..
    Tetapi pertanyaannya ketika sk 136 tersebut dikeluarkan apakah hal2 seperti jumlah unit yg boleh di jual,koridor,populasi, lift, dll tidak msk dalam hitungan dinas tata kota sehingga akhirnya sk 136 yg disebut2 sbg kapal pembawa semangat rusunami bg swasta tdk diperhitungkan?
    Melihat kenyataan yg ada dan revisi yg dilakukan pemda dki terkait sk 136 tsb saya yakin banyak pengembang yg mogok membangun..buat apa membangun kalo untungnya “payah”..
    Padahal jakarta adalah pilot project rusunami…
    Tetapi yg perlu kita cermati adalah dg aturan yg ada skrg seperti yg bpk kemukakan di atas maka br DKI jakarta yg “ngeh” akan bahaya jika tingkat kepdatan tdk dibatasi..pertanyaannya bgm dg pemda lain yg blm ngeh? apakah mrk sudah memikirkan itu?

  4. 4 bas February 5, 2009 at 3:56 am

    writing of the day as of today, 05 02 2009, pak emil😀

  5. 5 pRANG February 6, 2009 at 6:30 am

    ALHAMDULILAH, UNTUNG GAK JADI BELI RUSANAMI 1000 TOWER, UNTUNG-UNTUNG ……
    TRIMS INFONYA

  6. 6 rarasati February 7, 2009 at 1:24 pm

    wah..
    jadi mnurut pak emil, rusun itu solusi atau malah jd masalah?
    sy jg pernah melakukan interview dg dosen sy yg dulunya megang proyek rusun juga, disitu beliau jd perancangnya jg spt bapak.
    tp akhrnya krna berbagai kndala yg tidak jauh berbeda dg bapak, proyek itu ia tinggalkan.
    ketika sy tnya bagaimana sbaiknya solusi utk memberikan tpt tinggal bagi penduduk yg notabene nya “banyak banget” ini, beliau mengatakan lebih baik pemerintah memberikan dana ke stiap org utk mengembangkan dn mengelola pemukimannya masing2.

    klo mnurt bpk bgmn?

  7. 7 Koloritem February 9, 2009 at 6:11 am

    Kita hidup bukan di metropolis tapi “ Kampung Besar“
    Jakarta itu atau kota besar lain gak ada bedanya ama kampung tapi skalanya sangat besar

    Di tengah2 kampung itu berdiri gedung-gedung besar ada yang bagus ada yang jelek. Ada yang ber`konsep` ada yang asal

    Tapi kenyataan si karya2 arsitek itu tetap aja ada di tengah kampung yang besar yang sangat ruwet itu. Kadang gak kasih kontribusi malah makin bikin beban kampung yang udah cakadut makin besar.

  8. 8 nunk February 10, 2009 at 3:59 am

    Inilah yang menjadi esensi dari pembangunan yang berkelanjutan/sustainable development, mengakomodir unsur ekonomi, sosial dan environment. Arsitek dalam mendesain jangan hanya berkutat dalam sisi idealisme dan inovasi desain, tetapi juga sisi ekonomi bahkan sosial budaya, apalagi dalam konteks ini adalah rumahsusun sebagai bangunan komersial, Yang menjadi masalah pemerintah sebagai regulator seharusnya dapat berperan sebagai penengah dengan regulasinya, akan tetapi kadang hanya berpihak pada pemegang modal tanpa mengindahkan pembangunan berkelanjutan. Bahkan regulasi yang ada penuh dengan nuansa kepentingan yang sesaat.

  9. 9 salman February 10, 2009 at 8:16 am

    …Muara dari baku hantam di atas, adalah akibat dari lemahnya peran negara dalam menjamin hak warga negara untuk memiliki rumah. Seharusnya pemerintah menyediakan perumahan atau rumah susun ini tanpa terlalu banyak peran dari pihak swasta …

    Wah saya setuju sekali , padahal bunyi pasal 33 UUD 1945 ayat 3 :
    (3)” Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

  10. 10 jamurkomik February 14, 2009 at 11:58 pm

    edan tenan…

    saya pernah mencoba menelusuri mekanisme marketing rusun bersubsidi…
    hasilnya?ya yg seperti di tivi, konsumennya tetep kalangan bermobil yang bener2 gak pantas disubsidi…
    padahal kan seperti bapak tulis, negara beralasan gak punya cukup dana… untuk “hal2” seperti ini…

  11. 11 raymond February 15, 2009 at 5:31 pm

    pak emil, kalau saya perhatikan, model rusun yang ‘beredar’ di negara-negara berkembang memang demikian, seperti bedeng tentara… pendapat saya mungkin klise, yakni tidak ada yang benar2 memprioritaskan kondisi rakyat kecil.

    lain halnya dgn negara2 maju, dimana proporsi kaum menengah paling besar jumlahnya, sehingga proyek2 rusun yg inovatif berhasil dijalankan…

    saya juga mau bertanya pak, apa juga mungkin hal ini menyebabkan ruang2 publik di negara2 berkembang yang kurang ‘hidup’ dibandingkan dgn negara2 maju?

  12. 12 Sally March 6, 2009 at 9:55 am

    Salam, pak..

    Haduh2, otak saya makin puyeng baca tulisan bapak..
    Saat ini saya sedang mengerjakan TA dengan objek rusun..
    Pertama kali saat disuruh memilih (dengan alasan yang mantap, untuk mengabdi ke masyarakat) dengan yakin saya memilih objek rusun..
    Setelah melakukan survey dan melihat kenyataan yang sesungguhnya, jadi berciut nyali..
    Tapi udah terlanjur nyebur, yah… sekalian renang dan minum airnya aja dah..
    Makasih buat “pencerahannya” =)

    Salam hangat,
    Sally

  13. 13 astungkara handyan adhyatmakasukha March 13, 2009 at 12:59 am

    kang emil..
    saya mahasiswa ugm tahun terakhir.
    Saya juga mengambil TA rusun dan bukan hanya kali ini saya mendesain rusun, sudah ketiga kalinya pertama pada mata kuliah rekayasa permukiman, studio desain tematik II, dan Studio TA ini. Permasalahan yang timbul dari tiap site bisa berbeda..
    seperti site pertama saya melakukan urban renewal pada daerah resapan air, site kedua juga urban renewal pada tepian kali, dan yang ketiga urban renewal untuk kaum komuter dan menambah daerah resapan.
    Tiap masalah ada benang merahnya, jika membaca tulisan prof johan silas, membaca tulisan mempera, membaca tulisan eko budiharjo, dan membaca tulisan kang emil.
    Perspektif yang di ambil memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menyikapinya. Tetapi memiliki permasalahan yang sama.
    Unit hunian..
    banyak seperti itu apakah konfigurasi kolom berbeda-beda dapat memperbanyak ongkos cetak beton.
    harga yang murah pada lahan yang cukup mahal, ngga realis bgd klw di pkir.
    belum nanti perilaku yang menyimpang seperti rusun2 di jaqata. Sebua permasalahan sosial yang membuat orang enggan tinggal di hunian yang murah ini dengan alasan status sosial.
    ketinggian bangunan yang memaksa untuk lantai banyak, padahal singapura dan china perlu waktu 60 tahun untuk membiasakan masyarakatnya. Negri kita ajaib sekali..rusun 4lantai saja belum berjalan dengan skema yang di inginkan.
    ironis, seharusnya dari segala bidang bekerja sama untuk memecahkan masalah kebutuhan hunian ini.
    landed to vertical
    not easy
    banyak pendekatan yang harus di pelajari dengan seksama
    ecodesain
    sosial-ekonomi
    prilaku
    dan lainnya..

    mari kita sama2 memecahkan masalah kebutuhan hunian ini dengan pemikiran kedepan.
    regards

    sukses selalu kang emil..

  14. 14 Felicia March 24, 2009 at 5:29 am

    Halo Pak Ridwan Kamil

    Senang membaca blog ini. Rasanya mengungkap semua permasalahan dan fenomena perancangan rumah susun sederhana yang sedang saya geluti sekarang dalam menyelesaikan tugas akhir. Membayangkan rusun sebagai perbaikan hunian dengan segala cita2 untuk menghasilkan desain rusun hemat dengan prinsip hemat energi (cross ventilation,pencahayaan alami) blum lagi rancangan yang fit to site serta sesuai dengan konteks tapak pupus sudah berbenturan dengan kenyataan. Seperti tulisan yang BApak kemukaan di atas, banyak permasalah yang timbul. Diantaranya permasalahan efisiensi lahan dan segala peraturan perundangan yang membelitnya. Belum lagi fenomena sosial yang terjadi tentang perilaku calon2 penghuninya dan harga sewa yang nantinya akan muncul sebagai konsekuensi desain yang dibuat. Sungguh suatu tipologi bangunan yang rumit dan menantang untuk diwujudkan walaupun hanya berupa suatu proyek tugas akhir apalagi membayangkan perwujudannya dalam skala 1:1.

    Demikianlah
    salam hangat dan sukses untuk proyek2nya Pak!

  15. 15 Realrich April 22, 2009 at 10:35 am

    Mas emil, ayo kita ubah sistem yang sudah ada perlahan – lahan namun pasti🙂

  16. 16 agus santoso April 27, 2009 at 2:59 am

    salut buat bapak. dan semoga pelajaran yang bapak berikan bisa juga menjadi pelajaran untuk saya selaku developer…..
    paling tidak saya tahu apa yang di rasakan oleh Arsitek ketika kalkulasi ekonomi saya berbicara .
    terima kasih ..

  17. 17 ilham June 15, 2009 at 4:51 am

    Pa Emil, postingannya sangat bagus, memang sebagai arsitek di salah satu developer yang katanya tertua di Bandung, merasa proyek yang akan kita buat di Cimahi berupa RUSUNAMI terbentur dengan masalah2 yang sama dengan pembahasan yang diutarakan bapa…
    sebagai developer pastinya ingin mengikuti hukum ekonomi, tetapi untuk mewujudkannya seringkali berakibat fatal karena harus mengurangi beban2 biaya yang sifatnya maha penting seperti struktural dan material, atau apabila tidak mengurangi hal tersebut desainnya sangat biasa seperti bedeng tentara..
    Memang akhirnya saya tidak bisa apa2, tapi ini merupakan suatu pelajaran yang luar biasa bagi saya untuk bekal kedepan sebagai arsitek…

  18. 18 AUGI JD July 2, 2009 at 4:35 am

    Asslm.Wr.Wb.

    Saat awal kemerdekaan, kondisi ekonomi dan politik belum stabil namun mempunyai lahan yang luas, Pemerintah Pusat membangun kawasan Kota Satelit Kebayoran Baru untuk pegawai-pegawai Departemen, Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman.

    Kini lahan di Jakarta sudah sempit, sementara air baku PAM masih tetap dari Jatiluhur, Citarum serta tambahan dari Cisadane, Tanggerang. 13 Sungai terkena polutan dan tercemar bakteri e-coli.

    Bila demikian rumitnya rumah susun dari Menpera, lahan kosong di Kemayoran bisa beralih menjadi Apartement.

    Melihat water catchment area (Singapura), reservoir air yang cocok untuk Jakarta, dimana ? Bila masih di Jatiluhur, Apakah mungkin membangun kota satelit seperti Putra Jaya (Malaysia) di Jatiluhur ?

  19. 19 Yudi Iskandar September 2, 2009 at 3:53 am

    Menarik sekali tulisan bang Emil, pasalnya yang saya hadapi sama persis dengan bang Emil tuturkan. Saya harus mendesain rumah susun dengan inovatif bagus tapi dengan hitungan2 ekonomi yang ketat. Mungkin dengan kondisi seperti ini para arsitek harus lebih extra keras berfikir, bagaimana mendsesain rumah susun yang ideal, tapi juga manusiawi. Terimakasih bang Emil atas pencerahannya.

  20. 20 miphz November 24, 2009 at 8:22 pm

    Pak emil, pengalamannya menarik, hehe, yah namanya orang cari duit pak, yang ada di pikirannya ya duit, eh salah, mobil baru, hehe. Selalu benar, money changes everything, almost control everything. Proyek rusunami yang di cetuskan menteri perumahan rakyat 5 tahun yang lalu juga menjadi angin lalu, saya kira juga akibat materialisme developer. Kita harus belajar banyak dari tower city seperti tokyo, kota yang memiliki 7500 tower kantor dan hunian, kota yang berhasil menghidupkan 33 juta jiwa dalam satu kawasan megapolitan. Jakarta saja penduduknya 7 jutaan, setengahnya newyork city, ngurus ibukota saja masih semrawut, banjir disana sini, dll. Perjalanan masih panjang ya pak, hehe, btw bandung yang berpenduduk 2 jutaan ini juga… duh males ngomonginnya, hehe. Jadi teringat Bogota, yang walikotanya arsitek otoriter itu, dalam waktu kurang dari 10 tahun bisa meredesain entire city, khususnya sistem trsnportasi dan hunian. Kita memang perlu orang seperti Ir. Soekarno untuk mewujudkan visi dan idealisme yang bisa diterima hampir semua pihak.

  21. 21 DWI SUTARYONO April 19, 2010 at 12:51 pm

    maaf kalo terkesan gak etis nanya lewat blog pak…
    begini pak, saya mahasiswa jurusan t. arsitektur di unlam banjarbaru, rencananya kami mau ngundang bapak sebagai pembicara dalam seminar yang akan kami adakan…

    jadi mau tanya neh pak….bagaimana sistimatis cara untuk mengundang bapak sebagai pembicara…

    atas bantuannya saya ucapkan terima kasih..

  22. 22 reni August 28, 2010 at 9:32 am

    pak…saya lumyan rajin ngikutin blog ini…tapi dibuka kok tulisannya ini teruus yaaa…

  23. 23 saefrahman February 28, 2011 at 2:02 pm

    penguasa nggak ngerti,pengusaha serakah,penulis(arsitek) yg kejepit….kayanya harus ada arsitek jg jadi presiden lagi…

  24. 24 Antony Simon June 6, 2011 at 3:58 am

    Hi Ridwan,

    Benar-benar membuat semua bangga atas hasil karyanya. Sebuah ambisi yang membuat kita semua optimis akan Indonesia yang lebih baik. Saya sangat suka dengan tulisan-tulisan nya. Sangat memberikan inspirasi.

    Saya berpendapat, kenapa kita mengharapkan pemerintah saat pemerintah tidak bisa diharapakan? Akankah kita terus menunggu?

    Hitung-hitungan ekonomi pun berbenturan. Kenapa kita tidak mencari jalan tengah, social entrepreneurship? Saya percaya gebrakan tidak bisa satu disiplin ilmu saja. Perlu satu inovasi yang menyeluruh.

    Saya di Medan. Bukan arsitek, insinyur ataupun designer. Tapi tentu akan melakukan sesuatu untuk tata ruang di kota halaman. Mari berkontribusi sesuai dengan kemampuan di kota masing-masing. We will do something great together!

    Ditt you. It is about our grandchildren. Meminjam dari Anindya N. Bakrie: “We are living in time borrowed from our grandchildren”.

    Best,
    Antony

  25. 25 anugrah August 13, 2011 at 1:17 pm

    catatan dan analisa dari seorang yang luarbiasa kreasinya.
    saya salut kang dengan tulisan ini, semoga bisa menjadi pencerahaan bagi kita semua🙂

  26. 26 MAPPISARA TAHUDDIN August 4, 2014 at 7:36 am

    masih relevan hingga kini,….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: