Going Green is Good Business

Ini tentang Jakarta. Beberapa tahun terakhir ini saya iseng membandingkan dua perkara: jumlah dan nilai proyek properti di Jakarta diperbandingkan dengan indeks kualitas hidup Jakarta. Hasilnya mencengangkan tapi tidak mengagetkan. Empat tahun terakhir investasi properti komersial sudah lebih dari 150 trilyun. Artinya banyak uang sudah digelontorkan untuk menjadi ratusan bangunan baru di Jakarta. Namun anehnya kualitas hidup kota Jakarta malah terus menurun. Tahun 2004 rankingnya 139 dari 215 kota yang disurvey oleh Mercer Consulting. Tahun 2007 turun menjadi 142. Tahun ini turun lagi menjadi 146. Aneh.

Nampaknya ada yang salah dengan hidup kita. Trilyunan hadir tapi tidak memperbaiki peradaban kota. Ibaratnya ada orang kaya baru dengan uang berlimpah namun penampilannya tetap kusut dan lusuh, wajahnya tetap kotor berjerawat serta badannya tetap bau dan sakit-sakitan. Berlimpah uang tapi tidak menyehatkan hidupnya. Kota ini makin panas dan stress. Kota ini makin kejam dan galak. “To survive, you have to be rich dan mean in Jakarta,” kata sahabat saya orang Australia sudah 5 tahun tinggal di sini. Ia berkesimpulan, hanya orang berduit yang ketus hatinya yang bisa menikmati kota ini dengan leluasa.

Di sisi lain, pasti ada yang salah dengan cara arsitektur dibangun di kota Jakarta. Ribuan bangunan baru hadir di Jakarta. Namun hampir semuanya sangat tidak kontekstual. Ia sibuk sendiri dengan geometrinya. Ia hanya asyik sendiri dengan performa ekonominya. Ia seharusnya bisa dirancang juga untuk merespon satu dua masalah kualitas hidup kota. Dua aspek sering dilupakan para arsitek jika merancang bangunan publik di Jakarta: kontribusi ruang sosial dan ruang hijau publik. Jika negara gagal membawa kota ini menjadi kota layak tinggal, seharusnya dunia swasta bisa memberi kontribusi. Membantu memberi solusi terhadap krisis sosial dan krisis lingkungan melalui arsitektur. Jangan hanya panik saat krisis ekonomi saja. Giliran krisis sosial dan lingkungan hadir disekitarnya, ia tidak bergeming dan menyerahkan semua urusannya kepada negara.

Sudirman CBD adalah contohnya. Ia yang sudah di konsepkan lewat Urban Design Guidelines pun, hasil akhirnya hanyalah sekumpulan bangunan baru yang mewah dan rapi jali. Tidak ada roh kehidupan urban yang sehat dan menyenangkan. Jarang terlihat publik bercengkrama santai di jalur pedestriannya yang ternyata tetap terputus-putus. Tidak ada stimulasi ‘street life’. Semua orang sibuk melarikan diri ruang dalam di Pacific Place. Dalam satu forum arsitek di Singapura, saya menyampaikan keluhan bahwa arsitek-arsitek Singapura yang merancang gedung di Jakarta, tidak menerapkan standar arsitektur yang tinggi dan responsif terhadap isu sosial dan ekologis kota seperti halnya di negaranya sendiri. Giliran mendapat proyek di Jakarta, mereka sama saja dengan sebagian dari kita yang arsitekturnya anti sosial. Padahal ciri kota yang baik, adalah kota yang bisa menggoda warganya untuk keluar rumah dengan sukarela. Bersantai di jalur pedestrian atau bibir bangunan atau berinteraksi di taman kota. Setidaknya itu definisi Enrique Penelosa, mantan walikota Bogota.

***

Salah satu upaya arsitek dalam merespon menurunnya kualitas hidup kota Jakarta adalah memperbaiki pemahaman tentang apa itu hakekat hidup berkota secara sosiologis dan bagaimana arsitektur bisa merespon isu itu. Hidup berkota pada dasarnya kita bersepakat untuk menjadikan aspek anonimitas, heterogenitas, densitas/kepadatan dan aspek intensitas sosial yang ekstrim sebagai isu-isu yang harus kita respon. Sehingga hadirnya ruang jeda atau ruang istirahat sangat dibutuhkan warga kota yang kadar stressnya tinggi. Karenanya GSB atau area sempadan bangunan bisa kita desain dan siasati untuk menjadi ruang jeda dan ruang istirahat sebagai kontribusi dari ranah privat.

Upaya lain dari arsitek adalah dengan memulai usaha untuk merespon krisis lingkungan dangan inovasi-inovasi kretivitas desain atau teknologi jika memungkinkan. Kehadiran ruang sosial atau ruang hijau publik bisa hadir di dalam proyek privat. Atap-atap hijau di rumah-rumah karya Adi Purnomo bisa dijadikan referensi tentang inovasi ruang-ruang hijau kecil dari ranah privat. Jika jumlahnya ribuan bahkan jutaan, mereka pasti bisa merubah struktur ruang hijau kota dan sekaligus menurunkan efek panas dari bangunan. Namba Park di Osaka atau Yokohama Ferry Terminal di Jepang adalah contohyang paling mutakhir. Mereka mengkonversi seluruh atapnya untuk menjadi ruang sosial dan taman publik yang hijau. Sementara ini seluruh lantai dua gedung-gedung tinggi di kawasan CBD Hongkong diberikan untuk publik agar bebas bergerak untuk pedestrian yang bergegas. Inovasi ramah sosial dan ramah lingkungan sudah menjadi menjadi keharusan dikota-kota besar dunia, tidak terkecuali di Jakarta.

***

Momentum perubahan paradigma ini harus dilakukan sekarang, karena dunia bisnis pun sudah mulai melakukan perubahan orientasi. Sudah banyak perusahaan multinasional menjadikan isu green ini sebagai strategi bisnis. Strategi baru ini ternyata terbukti mampu meningkatkan performa bisnisnya. Strategi going green ini dilakukan karena tekanan pasar dan konsumen yang sudah mulai lebih selektif dan hanya memilih produk-produk atau melakukan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang ‘going green’. Majalah Newsweek bulan April tahun 2007 meliput sekitar 10 perusahaan yang performa bisnisnya meningkat tajam setelah mengumumkan ke publik bahwa produk dan cara kerja mereka sudah merespon isu ekologis. Mereka antara lain Adidas, Vestas, Royal Bank of Canada, Lafarde, Westpac Banking, Yell Group, Denso.

Di Jakarta, beberapa developer di Jakarta sudah mulai memahami, bahwa sekarang masyarakat dan pasar lebih memilih proyek-proyek yang punya konsep kuat terhadap isu lingkungan. Survey yang dilakukan oleh pengembang Puri Botanical Garden di Kebon Jeruk membuktikan bahwa isu ramah lingkungan telah menjadi alasan terpenting dari pasar dalam keputusan membeli rumah. Bukan gaya arsitektur atau kemewahan spek bangunan. Karenanya pengembang ini akan meluncurkan konsep green home yang mencoba secara ilmiah untuk benar-benar green. Bahkan tadinya proyek ini akan disertifikasi ke LEED di Amerika Serikat, namun tidak jadi karena LEED belum memiliki mekanisme untuk melakukan sertifikasi rumah tipe kecil diluar negaranya.

Perusahaan-perusahaan multinasional terutama dari Amerika Serikat pun sekarang sudah mulai diwajibkan untuk hanya menyewa gedung perkantoran yang bersertifikasi green. Artinya gedung-gedung perkantoran di Jakarta jika tidak merespon isu ini dengan serius, maka jangka panjang mereka akan ditinggalkan oleh pasar yang semakin selektif. Apalagi menurut beberapa konsultan properti internasional, perusahaan multinasional ini umumnya mau membayar sedikitnya 10 persen lebih mahal untuk bangunan yang ramah lingkungan ini.

Dari pengalaman pribadi memang tidak mudah untuk meyakinkan banyak pihak dalam hal ini. Pemilik proyek umunya masih ragu-ragu terhadap isu green building ini dan selalu beralasan takut mahal dan selalu terburu-buru dalam kejar tayang proyeknya. Padahal isu ini perlu dicerna oleh semua pihak dengan waktu yang cukup. Ini juga terjadi karena kita tidak punya panduan yang jelas dan sederhana. Tidak ada panduan yang user-friendly. Sehingga para arsitek sering terbata-bata jika ditanya hal-hal yang sudah sagat teknis. Ditambah lagi para insinyur mekanikal elektrikal dan konsultan quantity surveyor sering setali tiga uang tidak mau repot untuk melakukan riset tentang produk-produk atau teknologi yang responsif terhadap isu green ini.

Namun diluar kendala-kendala itu, momentumnya sebenarnya sudah hadir. Ini saatnya kita harus bisa merayu semua pihak untuk mulai bersama-sama merespon krisis kualitas hidup kota-kota besar di Indonesia seperti halnya Jakarta. Kiamat planologis sudah di depan mata. Kita harus sama-sama bergerak merespon krisis ekologis dan krisis sosial ini sambil tetap menyeimbangkan kualitas performa bisnis yang baik. Good design while going green is good business. Mari berusaha ke arah sana, berhasil tidaknya tidak harus menjadi ukuran terpenting untuk saat ini. Minimal sudah mencoba dan berupaya. Sisanya kita serahkan pada Yang Kuasa.


13 Responses to “Going Green is Good Business”


  1. 1 salman November 18, 2008 at 4:02 am

    Sebenarnya masyarakat perkotaan mulai sadar akan pentingnya penghijauan dan taman untuk peningkatan kualitas hidup. Jika bapak menyempatkan untuk berjalan2 menyusuri gang2 sempit di kota jakarta, (seperti yang sering saya lakukan bersama anak batita saya) akan menemukan bahwa hampir di setiap rumah di gang sempit dan becek walaupun tidak mempunyai halaman luas mereka berusaha “menghijaukan” lingkungannya dengan caranya sendiri, ada yg menanam tanaman rambat di atap, di tembok rumah/pagar, atau di sudut2 kelokan gang. Justru pemerintah kota yang amat sangat tidak peduli lingkungan, terlihat dari minimnya perawatan taman kota, tanaman yang dibiarkan tidak terawat,sampah, tidak adanya fasilitas bermain untuk anak (ini yg sangat saya sesalkan), kalaupun ada tempat bermain kondisinya sangat menyedihkan… justru masyarakat kota di dalam gang becek dan sempit lebih menyadari pentingnya “hijau” ,lebih memiliki “sense of belonging”…
    wah komennya kepanjangan nih pak , salam sesama city lover

  2. 2 rhozy akhmed November 21, 2008 at 2:06 pm

    mestinya penghijauan diiringi dengan sikap mental dan regulasi pemerintah yang terus-menerus; pemerintah harus tegas terutama dengan kepentingan-kepentingan kapital dan para tekong-tekong yang udah membabat habis hutan-hutan kita!percuma aja kalau penghijauan hanya di kota!

  3. 3 Endy December 3, 2008 at 3:03 am

    Setuju sekali Kang Ridwan, tapi solusinya gimana?, untuk SCBD aja dulu dech, krn kebetulan sy juga pernah terlibat pembangunan SCBD tahun 1994 atau 1995 dulu. Kalo sekarang SCBD salah, kira2 gmn memperbaikinya? karena mungkin saja pemilik lokasi (PT Danayasa) ‘sudah lupa’ dengan design & konsep awal SCBD. Mudah2an ini tdk akan terjadi di Bakrie Epicentrum…ya Kang?🙂

  4. 4 bams December 9, 2008 at 10:05 am

    mohon ijin ngelink ya bang

  5. 5 cia December 12, 2008 at 1:39 am

    mau curhat aja hehe… sebagai org yang tinggal di pinggiran jakarta (bintaro) dan pernah bekerja di pusat jakarta (sudirman) – tidak ada mobil, sehari-hari menggunakan transportasi umum… memang jakarta terasa “kejam” sekali. contoh: mau pulang ke rumah naik KRL, naik dari stasiun palmerah, saya jalan kaki dari senayan (sebrang hotel mulia), jalan di trotoar (ngga mau bilang pedestrian) yang ada dan tiada, kalau ada pun lebarnya paling cuma 50 cm, mana renjul lagi ngga rata. duh… tersiksa banget, sampai di stasiun, mau beli tiket musti turun naik pelataran tinggi 50 cm tanpa undakan.. weleh-weleh… betul sekali memang yang bisa menikmati jakarta dengan “indah” hanyalah orang berduit… huhuhu… dan akhirnya saya menyerah, berhenti kerja, dan mulai bekerja di rumah, ke pusat jakarta sekali-sekali saja kalau memang ada perlu.

  6. 6 sarojini December 19, 2008 at 11:09 pm

    Betul sekali pak Ridwan..
    Tampaknya Arsitek-arsitek Indonesia masih kurang perduli akan lingkungan. atau sebenarnya perduli tapi terdesak dengan permintaan owner project yang sering lebih mengutamakan sisi bisnis dan ekonomis dalam pemanfaatan ruang kota.

    Dua tahun lalu saya turut bergelut dalam dunia persampahan dalam lembaga Joint Initiative Program (JIP). menyatukan fisi & misi seluruh stake holders baik, MPR/ DPR, pemerintah, swasta, masyarakat, institusi akademis. lsm-lsm, industri, dll. Untuk bisa memecahkan masalah sampah kota yang sudah semakin kritis dan merugikan kehidupan kota secara keseluruhan. Kami fokus dalam penguatan kelembagaan di 3 kota yaitu Jakarta, Bandung, dan Depok. Banyak kenyataan yang kami temukan, masalah sampah masih dianggap itu tugas dinas Kebersihan atau LH saja..dan pihak lain kurang perduli..mereka menganggap selama bisa membayar retribusi angkut sampah, menjaga lingkungan bangunan dan halamannya bersih, sudah cukup, tidak usah memikirkan ruang orang lain atau ruang publik lainnya. Padahal itu tidak memecahkan masalah sampah secara skala kota.. karena yang mereka lakukan hanya memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain, bukan memhilangkan sampah. Dan tanpa disadari bahkan sampah mereka turut menambah masalah sampah kota yang menyebabkan banjir, ketidak rapihan kota,ksehatan buruk, dll. Tanah kota sudah penuh ditutupi sampah yang mayoritas sampah non organiK ( plastik, foam,dll) yang notabene tidak bisa terurai dalam tanah dalam kurun waktu ratusan tahun lamanya, dan jelas merusak kesuburan tanah) dan sulit dilakukan penghijauan.

    Tampaknya masalah sampah masih dianggap sepele, bahkan
    sempat saya menjadi bahan guyonan, ” ngapain arsitek ngurusin Sampah?” seakan menjadi makluk aneh.. ” Why not?” sebenarnya kuncinya menciptakan ruang kota yang nyaman dan indah dan “hijau” adalah di masalah sampah, dan tentu ini tanggung jawab juga ada di tangan para arsitek-arsitek kota.
    karena arsitek yang menciptakan ruang hidup manusia.. berkumpulnya berjuta manusia di dalam kota.. yang semuanya “nyampah” tiap hari..tiap jam..tiap menit..tiap detik..sampah-sampah itu bertambah tanpa bisa dibendung.
    masih sedikit atau mungkin belum ada ya? arsitek yang mendisain satu kawasan perumahan atau seperti CBD itu yang lengkap denga sistem pengolahan sampahnya.. agar sampah yang dihasilkan dari lingkungan itu tidak perlu lagi dibuang ke luar lingkungan, tapi diolah hingga nol/ zero waste.

    Banyak hal kenyataan yang kami temukan, masalah sampah masih dianggap itu tugas dinas Kebersihan atau LH saja..dan pihak lain kurang perduli.. padahal yang ” nyampah” itu semua orang, dan menanggung akibatnya juga semua orang yang hidup di dalam lingkungan kota tersebut. Dan Dinas Kebersihan bertugas masih sebatas mengangkut sampah yang kian hari semakin menumpuk, menggunung.. tentu saja kewalahan.. yang menanggung akibat adalah lingkungan lain seperti lingkungan sekitar tempat pembuangan akhir sampah (TPST).. seandainya tiap lingkungan perumahan, kota2 satelit memiliki sistem pengolahan sampah Tentu masalah penghijauan kota pun dapat diatasi.

  7. 7 nunk January 14, 2009 at 3:22 am

    Menarik sekali, ketika sebuah kota kehilangan kualitasnya, arsitek menjadi bulan-bulanan, padahal saya yakin para arsitek ini berusaha sekuat tenaga memadukan keinginan owner dan sisi idielisme untuk mewujudkan karya yang sustaianable, memadukan sisi ekonomi, environment dan sosial. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah sudah ada regulasi yang mengatur tata kota tersebut, bagaimana RTRW sudah mengantisipasi, apakah sudah ada RTBL, apakah ada zone regulation, kalau belum berarti pemerintahnya dong, kalau sudah berarti penegakan hukumnya termasuk didalamnya masyarakat dan arsitek

  8. 8 Koloritem February 9, 2009 at 9:35 am

    City is a multi layering WEBS
    Collections on living cells
    Growing chamber of any kids
    Scaled of Nation
    Playing area of anyone sad
    Dump of Money
    Rice pit for the empty stomach
    Arena of GodFathers
    Toys of big kids, the rule and his colleagues

    Be aware so, most city is..
    Bad soil for the trees
    Contagious for the water
    Killing field for the birds and butterflies
    Flaming fire for the moth people from the dark surrounding it
    Party hall of roach , aedes, worms and politicians

    Look….
    The leafs turn black of dioxide
    Canals as dark as the people future who life poor on her side
    Motorist spit tons of poison as they like, burn! burn! burn!

    Do you talk about zoning? A fabrication plant is beside my home, fog anywhere, I cant see my neighbor`s face. Is he mad or just ok to me?

    Do you see they smile on the paper today? Do you see the only one city park they fenced yesterday? our kids cant play no more.
    Do you see his profile today? he succeed making a super block this year but my son must go around to his school since it. Small thing, uh? I forgot something, they can make big trees grown on concrete..they must be got good sense of humor

    All People talk about the Going Green and makes lot of money today
    They spend it for plastic garbage and aerosol before dating someone`s wife or husband.
    Many poster of `lets planting trees` in any corner we could see
    At last to inviting journalist and public profiles is a must
    Look..They Smile again digging the holes like rats

    This city is poisoning our body, our soul and our minds and relationship
    People debating for this city future and solutions like crab!
    They doing nothing but show off of their (non)brilliant

    We love this city til death but this city does not for only a day!

    Please leave or be leaved dead in stink grave hole
    Lost of our humanity..
    Fight or be victim? again? No?
    Run or just hiding for nothing left beside? Yes?

    But.. where should we go now?
    back to village?

    Do we still call it village?
    So..
    Where is rice field and farm?
    Where is the woods and ponds we used to played when we kid?
    Where is the birds, butterfly, and funny frog?

    The most important is..not a bullshit
    I cant make money here..

    All I see only two levels buildings with `stuff` below
    They sell nothing for nothing of none needs
    To many vendors..they all selling city garbage again..
    People are typical, they live the city way, even they spits alike. Anything for the price and never care! they said trees are blocking the billboard, must cut!

    My daughter planted a flower last week morning, may be its blooming today..

    I`m confusing…
    I `LL BACK TO THE CITY!!
    LETS GET NUMB!

    JAKARTA TO BUKITTINGGI TO JAKARTA.., 9 Januari 2009

  9. 9 listyaning February 23, 2009 at 2:52 pm

    ide yang sangat bagus sekali pak
    Saya rasa isu ini memang tengah menjad tren di kalangan arsitek, tetapi masalahnya adalah dalam hal penerapannya. Bagaimana suatu arsitektur itu tidak hanya sekedar green dalam konsep bangunan tetapi juga green secara lifestylenya dan juga bagaimana meyakinkan para owner developer bahwa dengan konsep green itu malah akan menaikkan keuntungannya, itu yang masih agak susah dan harus dicoba.
    Go green design!!

  10. 10 elisa3da March 6, 2009 at 5:15 pm

    Maaf, permisi numpang lewat.
    Saya kok merasa kadang-kadang isu green dijadikan tameng untuk mengambil keuntungan lebih. Green hanya menjadi tren-langgam-gaya-diversifikasi, bukan isu.
    Banyak developer2 (dan mungkin arsitek juga?)hanya mengambil sekelumit dan kulit luar dari pengertian ‘green architecture’ dan ‘sustainable design’.
    Dan tentunya harga2 sesuatu yang berbau LEED pun lebih mahal – apalagi untuk mendapatkan sertifikasinya pun mahal juga.
    Karenanya, segala sesuatu yang diberi embel2 hijau oleh para developer disini pun dijual lebih mahal dibandingkan produk rumah biasa – padahal apakah benar produknya memperhatikan segi ekologis, keberlanjutan dan keberhidupan?

    Dan untuk perumahan di Jakarta Barat yang disebutkan sebagai contoh diatas, coba kalau benar-benar dimasukkan sertifikasi LEED – tapi setelah LEED selesai merumuskan sistem TEI terbaru mereka (Energy Intensity: tentang cara pencapaian dari dan ke tujuan) – jangan2 untuk dapet certified aja gak lolos, hehehe.
    Lokasi yang seakan mengamini urban sprawling, ketergantungan kendaraan bermotor (pribadi), sampai bentuk2 desain yang kerap ‘dituduh’ sebagai penyebab wall-mart effect: deret ruko+parkir luas.
    Sepertinya memindahkan isi kebun raya Bogor ke masterplan mereka, bukan berarti langsung otomatis dicap sebagai ‘hijau yang sesungguhnya’, begitu kiranya opini saya.

  11. 11 riolis May 7, 2009 at 4:57 pm

    sangat setuju bang Ridwan..go green!
    pikiran saya tergelitik menerawang jauh..saat cucu saya nanti lahir.. (sekarang masih bujang).. kondisi seperti apa yang ia dapatkan dan rasakan?…. saya sungguh kejam.. smoga saja tidak, hingga sy tidak perlu untuk berkata… maaf nak, kakek harus memakaikanmu masker..maaf.

  12. 12 Efraim Jacob July 7, 2009 at 4:09 pm

    Pak, akhirnya issue green architecture memang hrs di-generate oleh policy2 pemerintah. Namun drpd menunggu itu [dan terjebak dlm debat kusir chicken & egg ], arsitek pun hrs bisa menawarkan green dlm konteks desainnya meski dlm lingkup kecil.

  13. 13 windhaniansyah March 24, 2010 at 2:44 pm

    JAKARTA LEBIH KEJAM DARIPADA IBU TIRI !!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: