Urbanisme Cina: Memberantas Korupsi dengan Sayembara Desain

Kompas, 01/09/2002

CINA hari ini adalah Cina yang bersolek. Di kota-kota utama, ratusan gedung pencakar langit, taman kota yang lega, jalur pejalan kaki yang teduh lebar, transportasi publik dan infrastruktur yang modern, tumbuh subur dalam kedipan mata. Cina hari ini memang sedang berlari dan berpesta, jauh meninggalkan tetangga-tetangganya di Asia yang masih lemah tertatih oleh pukulan krisis ekonomi sejak 1997 lalu.

Dengan modal pertumbuhan ekonomi 7 persen yang stabil, kota-kota di Cina serempak membangun, mempercantik diri dan berlomba-lomba mengundang investasi asing. Ini termasuk memanggil secara moral keturunan Cina di seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi di negeri berpenduduk 1,3 milyar terbesar di dunia ini. Tak heran jika dalam lawatan ke Cina, mantan Presiden Megawati menyiratkan rasa kagetnya akan kemajuan pembangunan di Cina yang sebagian terbaca dari citra fisik kota-kotanya.

Cina hari ini adalah juga Cina yang kukuh. Terutama dalam pemberantasan korupsi. Sejak awal tahun 80-an ratusan ribu kasus korupsi sudah dibawa ke pengadilan. Bulan lalu seorang wakil walikota dihukum mati karena terbukti melakukan kolusi dengan pengusaha-pengusaha yang ia beri kemudahan dalam urusan bisnis. Ia dituding menerima hibah sekitar 2 milyar rupiah. Sebuah nilai yang “tak seberapa” untuk ukuran korupsi di Indonesia, yang biasanya dengan banyak alasan berakhir dengan ringannya hukuman atau bebasnya si pelaku.

“Sediakan sepuluh peti mati bagi saya kelak!”, sumpah Zhu Rongji, Perdana Menteri Cina, dalam satu kesempatan. “Itu jika diakhir jabatan nanti, saya terbukti melakukan secuil korupsi”, cetusnya. Efek sumpah Bapak Zhu ini memang ampuh bergema di negeri yang sempat dikenal sebagai salah satu negara terkorup di dunia ini. Konsep clean government ini mulai terasa di beragam aspek, termasuk penerapan kompetisi dan transparansi dalam mekanisme membangun kota melalui proses sayembara urban design/planning.

***

MEREKA punya alasan sederhana. Dengan aliran kapital bak air bah untuk membangun kota, mereka harus yakin bahwa dana publik tersebut dibelanjakan secara presisi dan transparan. Di Beijing, menggunakan momentum olimpiade 2008, dana trilyunan rupiah pun siap dikucurkan untuk merevitalisasi kota, sebagaimana Barcelona di tahun 1986 dan Sydney di tahun 2000. Dan yang terpenting, melalui mekanisme sayembara desain, hanya ide-ide terbaiklah yang akan dipakai dalam membangun masa depan kota-kotanya termasuk mengejar ketertinggalan mereka dari kota-kota di negara maju.

Tengoklah kota Shanghai. Kota tepi air yang sarat dengan sejarah kolonial ini bisa menjadi cermin dari gemuruh pembangunan urban di Cina. Ia kini adalah gerbang utama bagi Cina. Adalah Deng Xiao Ping yang diakhir tahun 1978 melontarkan konsep `open-door policy’ untuk mengawinkan ekonomi pasar kedalam sistem politik Cina yang tetap komunis. Konsep anomali ini ternyata menjadi awal dari mengalirnya kapital dan investasi dalam pembangunan kota-kota di Cina termasuk Shanghai, yang sempat dimimpikan Bapak Deng sebagai ‘the Manhattan of the East’.

Di kota Shanghai, konsep Bapak Deng ini, diterjemahkan dengan dengan mereposisi dan menyepakati visi baru masa depan kotanya. Salah satu targetnya adalah menyingkirkan Hongkong sebagai gerbang Cina dan hub finansial di Asia Timur. Dari aspek perencanaan kota, hal ini ditindaklanjuti dengan diadakannya beragam sayembara internasional perencanaan tata ruang kota termasuk sayembara waterfront  redevelopment untuk kawasan di sepanjang Sungai Huangpu yang membelah Shanghai. Salah satunya dengan cara merelokasi zona pabrik-pabrik tua dan industri berat disepanjang sungai menjadi zona ruang hijau publik (promenade), zona bisnis dan zona permukiman berstandar internasional.

Setelah terpilih, konsep tata ruang terbaik dalam sayembara perencanaan ini dibakukan dalam peraturan perundang-undangan. Kemudian satu persatu pemilik lahan di sepanjang sungai Huangpu ini mereposisi peruntukan lahannya sesuai dengan aturan yang baru. Di tahap inilah, sesuai dengan kebutuhan dan potensi pasar, pemilik lahan melakukan sayembara internasional kembali untuk mencari ide-ide urban design yang terbaik dan lebih detail untuk zona kawasan yang mereka miliki.

Dalam dua dekade terakhir ini, pemerintah Cina juga mewajibkan penyelenggaraan sayembara arsitektur untuk desain bangunan yang memiliki potensi besar sebagai landmark kota dan atau gedung yang memiliki dampak terhadap kepentingan publik dan citra kota. Jin Mao Tower, menara tertinggi di Cina, yang terletak di kawasan bisnis Pudong adalah contoh dari perwujudan dari sayembara arsitektur internasional yang diselenggarakan di tahun 1998.

Menariknya, jika semua hasil sayembara urban design dan arsitektur ini dipadukan, maka tata ruang kota Shanghai yang baru ini bak deretan mutiara dari beragam siteplan terbaik dan gedung-gedung berarsitektur kelas dunia. Dari pengalaman kota Shanghai, proses sayembara ini secara umum sangat membantu menterjemahkan secara baik, jelas dan terarah dari beragam rumusan visi kota yang biasanya sangat abstrak dan generalis..

***

SAYEMBARA desain di Cina adalah pisau bermata dua. Ia adalah alat bedah untuk menghasilkan konsep desain yang terbaik. Ia juga merupakan media tajam untuk mengontrol transparansi dan efisiensi anggaran pembangunan fisik kota. Dengan cara ini tidak ada lagi celah bagi pimpinan proyek-proyek pemerintah untuk melakukan kolusi dengan rekanan bisnis atau konsultan perencananya. Tidak ada lagi eufimisme istilah seperti: `uang administrasi’, `uang pelicin’, `hibah’, `tanda terimakasih’ yang biasanya lazim terjadi di proyek-proyek di Indonesia. Mereka pun paham, nafsu korupsi dan kolusi di Cina saat ini bisa berakhir dengan hukuman mati.

Dengan publikasi yang jelas, sejak awal publik sudah mengetahui berapa biaya penyelenggaraan sayembara, termasuk hadiah untuk peserta dan nilai kontrak akhir untuk pemenangnya. Namun untuk memberikan fee atau kompensasi yang baik bagi peserta sayembara, biasanya proyek-proyek besar diselenggarakan dengan sayembara yang bersifat terbatas. Terbatas dalam arti hanya mengundang lima atau enam peserta baik konsultan internasional dan lokal berdasarkan kualifikasi dan pengalaman yang relevan.

Namun banyak juga sayembara yang bersifat terbuka dengan mengundang siapa saja yang tertarik untuk berkompetisi. Masterplan untuk Olimpiade tahun 2008, yang dimenangkan konsultan dari Amerika Serikat, adalah contoh dari sayembara terbuka yang diikuti ratusan peserta internasional dan lokal. Namun peserta yang kalah dalam sayembara terbuka ini umumnya harus menanggung resiko dengan tidak adanya kompensasi sama sekali.

Pihak swasta pun dianjurkan untuk melakukan mekanisme sayembara untuk proyek-proyeknya. Ini terutama bagi proyek yang punya dampak terhadap citra kota dan kepentingan publik. Hanya terkadang, dalam beberapa kasus, pihak swasta lebih pelit dalam memberikan kompensasi bagi peserta sayembara. Hal ini mengakibatkan citra yang buruk terhadap penyelenggaraan sayembara desain, karena dianggap sebagian pihak sebagai alat untuk mendapatkan konsep-konsep desain yang terbaik dengan biaya yang murah. Bahkan ada juga yang dengan liciknya tidak memberikan penghargaan sama sekali kepada peserta dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.

***

Semangat keterbukaan ini juga terlihat dari cara Dinas Tata Kota di Shanghai berkomunikasi dengan publik. Mereka punya ruang pameran rutin untuk menampung maket-maket hasil sayembara desain untuk direview dan dikomentari oleh publik yang berkepentingan. Bahkan dalam satu ruangan yang sangat besar, terdapat pula maket kota Shanghai dalam skala yang sangat detail. Hal ini untuk memberikan informasi yang jelas kepada publik akan visi masa depan kotanya dalam bentuk tiga dimensi dan tentunya tanpa sembunyi-sembunyi.

Sebagai negara yang sama-sama masih membangun, kota-kota di Indonesia tidak ada salahnya untuk mau melirik dan belajar dari Cina. Terutama bagaimana kepentingan publik dalam pembangunan urban dan semangat anti korupsi/kolusi bisa dicapai melalui proses sayembara desain. Dengan ini, kegairahan dan semangat membangun kota pun bisa lahir dengan kejujuran, kemuliaan dan tanpa pamrih. Seperti ungkapan seorang juri asing di sayembara masterplan Olimpiade 2008 di Beijing, “May the best idea prevail..”

3 Responses to “Urbanisme Cina: Memberantas Korupsi dengan Sayembara Desain”


  1. 1 nur khamim December 6, 2008 at 10:31 am

    bisa nggak ya di indonesia juga diadakan sayembara desain tata kota, sehingga kota kota di indonesia tidak hanya didominasi kota besar saja namun juga bisa dipadukan antara kota-kota pantai, kota-kota pegunungan. tentu juga disiapkan industri -industri penunjang, sesuai dengan produk-produk lokal. bila di pinggir laut bisa industri berbasis kelautan, sedangkan di pegunungan adalah industri berbasis hutan dan pertanian. pariwisata,kuliner dan industri perhotelan. bahkan juga bisa industri sekolah.

  2. 2 Koloritem February 9, 2009 at 1:06 pm

    Sayembara desain itu menarik

    Kita sering terkaget-kaget melihat pemenangnya yang belum dikenal (ada yang `ingusan` kata Pak Yuswadi Saliya)
    Walaupun ada juga perancang yang cari hidup dari sayembara (emang ada? mungkin ketagihan karena yang pertama menang tapi tdk tahu kbtln waktu itu jurinya pada `sakit`)

    Sayembara adalah salah satu cara mendemokratisasi kota dimana semua orang dapat saja idenya diimpelemntasikan jadi bangunan penting dalam kota. Judulnya elitnya `Ide individu komunitas kota diapresiasi`

    Di Indonesia?
    Lain lubuk lain belalang, lain padang lain lele nya he.he.

    Yang udah kapok katanya ini cuman cara jaring `ide` murah bagi penyelenggara..kayak cerokan aja. Siapa tahu ada bandeng lewat.

    Ide-ide itu biasanya kemudian dipilah-pilih, dipotong-potong yang bagus2 lalu digodog sama mantra2 para juri. Jadilah sebuah karya arsitekteur..kepalanya kakap, badanya kerapu, ekornya tongkol, Lalu yang juara? dapat lah `kompensasi` atau uang `kerohiman` lalu mereka hilang di rimba mana.

    Yang sering juara biasanya mulai `dilirik` `dikedip` dan di suit-suit para pialang project supaya naksir die. Biasanya gini “eh, kita lagi buat proposal nih..tertarik kontribusi nggak?”

    Juri biasanya ada `pejabatnya` dan umur dibatasi ke atas, tau sendiri tuh sense of art nya paling `strong` di antara juri lepas yang dibayar.

    Hadiah proyek? Statistiknya rendah. Yang pasti uang kerohiman itu plus janji jadi project designer (baca gak TOR nya? hak cipta kan jadi milik penyelenggara)

    Tapi ada yang dapet project juga dong, ya Akang ini sering.

    Banyak lho arsitek yang meniti popularitasnya melalui sayembara design dan kompetisi lainnya (termasuk tinju dan tarik2 pita suara)

    Masih Banyak Sayembara luar negri yang layak diikuti, lihat dulu profil penyelenggaranya. Istilahnya jangan buang cuka ke laut, tetep asin. Kadang kita tidak tahu kriteria pemenangnya apa, kadang mungkin `penyelenggaranya` mahasiswa yang lagi Tugas Sekolah atau konsultan yang jadi bandit design di Web.

    Kalau di Indonesia yang kompeten biasanya lembaga resmi, institusi pendidikan atau asosiasi arsitek (iyai)

    Sayembara adalah sarana demokratisasi design
    dengan Catatan: Penyelenggaranya harus demokratis dulu.

    Selamat berkarya!

  3. 3 miphz December 9, 2009 at 10:21 am

    Korupsi adalah “ngambil keuntungan yang bukan hak-nya”. Secara mendasar siapa saja bisa melakukan korupsi di mana saja, sekalipun istilah korupsi diarahkan untuk menyoroti para penyelenggara negara yang busuk, ternyata setiap kitapun bisa meraih predikat busuk tersebut, dan hanya setiap kita yang bisa merefleksi apakah kita termasuk koruptor? http://miphz.wordpress.com/2009/12/09/korupsi-seorang-arsitek-2/ Selamat Hari Anti Korupsi.😉


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: