Hiper-realitas Kota Kita

KOMPAS, Minggu 3 Maret 2001

“SUGUHI kami dengan fantasi, dan bawalah kami ke dunia khayal yang terjauh,” ungkap Robert Thompson, presiden International Pop Culture Association dalam satu kesempatan. Ungkapan Thompson tersebut adalah refleksi dari nafas kehausan sebagian besar masyarakat Barat yang saat ini beramai-ramai mencari lorong dan ruang-ruang pelarian budaya. Fantasi, khayal dan godaan budaya tontonan tampaknya telah menjadi norma budaya keseharian sebagian besar masyarakat Barat saat ini.

Di sebagian besar kota-kota dunia saat ini, gelombang theme-park dalam desain urban dan arsitektur tampaknya sedang menghipnotis perilaku budaya massa. 30 hektar artefak sejarah dinasti Cina ataupun situs kematian Isa Almasih di Jerusalem kuno ternyata berhasil direkonstruksi ulang seperti aslinya di Florida, Amerika Serikat. Skala satu banding satu kota Venesia pun bisa dinikmati di Las Vegas. Kemeriahan Disneyland dan Universal Studios ternyata sudah bisa diekspor ke Eropa, Jepang dan Cina. Di Jakarta dan Kota Ahmedabad di India, beragam legenda tujuh keajaiban dunia bisa dihadirkan sebagai tema dalam keseharian kompleks perumahan urban.

***

FENOMENA urbanitas kontemporer masyarakat metropolis tampaknya semakin kompleks saja. Hegemoni pisau konsumerisme dan budaya massa di era kapitalisme lanjut (late capitalism) ini begitu dalamnya menusuk segala sudut kebudayaan, tidak terkecuali urbanisme dan arsitektur. Lahirnya fenomena theme-park urbanism adalah salah satu contohnya, dimana beragam artefak fisik yang lepas dari konteks ruang geografis dan waktu, dengan begitu mudah dipinjam, dilipat,direproduksi dan diduplikasi dengan sempurna menjadi komoditas.

Ruang, waktu dan sejarah yang dibekukan ini bahkan sering terlihat lebih nyata, lebih surealis dan lebih dramatis dari aslinya.Contoh-contoh fenomena di atas memang paling mudah dilihat dan diselami di Amerika Serikat. Pemikir kebudayaan Jean Baudrillard menyebut Amerika sebagai tempat kelahiran ‘budaya tanpa referensi’ dan panggung ‘tour de force’ konsumerisme massa. Disneyland, Universal Studio, permukiman Celebration dan tentu saja kota Las Vegas kemudian menjadi contoh-contoh bagaimana theme-park urbanism ini hadir dan berhasil mensimulasikan fiksi dan khayal kedalam kehidupan urbanitas nyata masyarakat Amerika Serikat. Ia kemudian menjadi media dimana perbedaan fakta dengan fiksi, media dengan esensi seringkali menjadi tidak penting lagi.

Dengan menguapnya batas ruang dan waktu di era teknologi informasi dan globalisasi saat ini, kepingan-kepingan ‘budaya tanpa referensi’ tersebut akhirnya terbang, berjatuhan dan hadir juga di depan hidung kita. Ia kemudian hadir di berbagai tempat dalam berbagai bentuk. Di Jakarta, theme-park urbanism ini ternyata tidak hanya digagas sebagai sarana hiburan semata seperti Dunia Fantasi di Ancol. Namun secara laten, tampaknya ada sebagian dari kita yang sedang bereksperimen membawa misi sindrom Las Vegas ini ke dalam keseharian urbanitas nyata Kota Jakarta.Di Jakarta, perumahan yang bersebelahan dengan artefak Borobudur dan Colloseum Roma kuno ternyata bisa dihadirkan berbarengan dengan munculnya perumahan berarsitektur kastil abad pertengahan Eropa, bersuasana Kota Kyoto atau Paris sebagai tawaran tempat berhuni sekaligus berbudaya.

Ini adalah pecahan cermin dari satu kondisi kontemporer, dimana masyarakat berhasil dirayu untuk menerima citra sebagai sebuah realitas nyata, walaupun disadari bahwa yang terjadi hanyalah pemalsuan kebenaran dan dramatisasi realitas.

***

Fenomena ini juga kemudian menjadi ajang perdebatan beragam interpretasi makna (polysemy). Interpretasi antara sebuah kecerdasan marketing properti, ataukah sebuah wajah kebodohan dan kemunduran etika yang berdampak pada kemalasan apresiasi budaya di masyarakat. Namun lebih jauh, sosiolog Patrice Noviant berpendapat bahwa hal ini bisa terjadi karena masyarakat konsumer dewasa ini memang haus dalam mengkonsumsi segala sesuatu, tidak hanya objek nyata tapi juga objek tanda (object of sign). Syaraf psikologis mereka juga menurutnya mau dimanja untuk menerima kehadiran certain comfortable of false consciousness dalam menikmati ruang-ruang arsitektur di lingkungan sekelilingnya.

Hadirnya Kota Paris di Jakarta atau Jerusalem kuno di Florida, juga menjadi teater tempat pencerapan makna ‘sense of place’ bisa dibuat berantakan. Elemen-elemen pembentuk konsepsi ‘place’ seperti ruang fisik sebagai latar (background), interaksi positif manusia dalam ruang tersebut (action) dan interpretasi makna (meaning) akhirnya menjadi absurd.

 Ia menjebak kita untuk mencampuradukkan esensi ruang realitas dengan ruang palsu (pseudo place).Beragam absurditas yang kerap lahir dari fenomena-fenomena diatas, memang mau tdak mau mendorong syaraf kesadaran atau consciousness kita untuk selalu siap berakrobat dalam arus simulasi-simulasi realitas. Berakrobat dalam kemeriahan diktum baru ‘form follows fictions’. Berakrobat dalam era dimana pasangan fiksi dan estetika kerap meluluhkan pasangan fakta dan etika. Sebuah era baru, era hiper-realitas.

***

 All that is real becomes simulation.”

 

 

Ungkapan diatas adalah peringatan Jean Baudrillard, pemikir kebudayaan pascamodernisme, yang menyatakan bahwa sebagian besar kebudayaan kontemporer dewasa ini hanyalah berupa representasi dari dunia simulasi (simulation). Simulasi adalah rekayasa beragam model realitas yang tidak memiliki konteks, referensi maupun asal-usul. Yasraf Amir Pilliang menyebutnya sebagai “kenyataan” (real) yang ditutupi oleh “tanda kenyataan” (sign of the real). Karena itu, proses simulasi dalam kebudayaan ini biasanya melahirkan realitas-realitas yang melampaui batas-batas konvensional (transgression) yang lazim disebut dengan istilah hiper-realitas.

Oleh Baudrillard ruang-ruang tempat berlangsungnya proses simulasi dalam silang-sengkarut nilai, realitas, tanda dan citra tersebut kemudian diistilahkan sebagai simulacrum atau simulacra. Ia berpendapat, bahwa sebagian besar realitas-realitas zaman sekarang sebenarnya sudah tidak punya referensi lagi kecuali simulacra itu sendiri.

Simulacra juga sering berperan sebagai katalis dalam berkembangnya eklektikisme nilai maupun kolase pecahan-pecahan realitas. Berbagai artefak arsitektur dan desain urban seperti halnya Disneyland, Las Vegas, Colloseum di Jakarta atau replika Jerusalem di Florida yang dibahas di atas, memang akhirnya bisa dipahami melalui analisa simulasi dan simulcara yang digagas Baudrillard.Tanpa kita peduli atau sadari, sebenarnya proses-proses simulasi di simulacrum of space mungkin sudah menjadi norma di kota-kota besar di Indonesia.

Menjamurnya pusat perbelanjaan atau shopping center di kota-kota besar di Indonesia, seperti halnya Mal Pondok Indah dan Plaza Senayan adalah contoh simulasi bagaimana daya tarik realitas urbanisme sudah kalah oleh konsumerisme. Berbelanja di shopping center ini pada dasarnya adalah simulasi pengalaman empirik berbelanja dan jalan-jalan kaum urban (strolling flaneur) di ruang-ruang kota yang dilipat, disatukan dan diminiaturkan ke dalam satu ruang atau bangunan. Sebuah simulation of urbanity dimana shopping center bertindak sebagai ruang simulacrum-nya.

***
 Proyek Ancol Walk, yang rencananya akan dibangun di Jakarta dimana konsepnya meniru proyek City Walk di Universal Studios di Amerika Serikat, mungkin menjadi contoh simulasi Baudrillard dalam arsitektur dan desain urban yang tepat. Di proyek ini seperti halnya di Universal Studios, kita diskenariokan dan disimulasikan untuk seolah-olah sedang berjalan, beraktivitas dan menyelami beragam bangunan dan ruang-ruang kota yang sebenarnya semu.Konsekuensi berada di ruang-ruang simulasi atau simulacra ini, pengunjung biasanya dipaksa dan disterilkan perilakunya (controlled behaviour) agar sesuai dengan kategori perilaku urban versi mereka, yang sebenarnya tidak real dan alamiah. Sebuah realitas fasisme baru dalam urbanitas kita.

Jika kebetulan berada di Singapura, cobalah mampir ke Bugis Junction. Di proyek ini, tiga buah persimpangan jalan yang terdiri dari deretan ruko tua dipreservasi dan dikonversi menjadi sebuah shopping center modern yang sukses. Uniknya, seluruh badan jalan dipayungi oleh struktur skylight kaca, lengkap dengan AC pendinginnya. Di sini, pengunjung disimulasikan untuk berjalan dan berbelanja di deretan ruko tua yang secara fisik memang asli, namun dalam suasana yang berbeda, lebih nyaman dengan penghawaan udara dan lebih dramatis dari aslinya. Disini kita dibawa ke ruang dalam yang sebenarnya adalah ruang luar, dan sebaliknya ruang luar yang sebenarnya ruang dalam.Jika ditarik ke tataran yang lebih luas, sebagian orang menganggap bahwa dunia simulasi yang bersifat hiper-realitas ini adalah representasi wajah kebudayaan pascamodern, dimana budaya massa, budaya populer, konsumerisme dan nilai tanda menjadi sangat dominan.

Di luar perdebatan apakah pascamodernisme ini adalah pengganti ataukah sekedar perpanjangan proyek modernisme yang belum usai, fenomena-fenomena di diatas setidaknya mirip dengan beberapa ciri budaya pascamodern yang diungkap sosiolog Ariel Heryanto: menguatnya sistem tanda ketimbang makna, emosi ketimbang rasio, media ketimbang isi, permainan ketimbang keseriusan, fiksi ketimbang fakta dan estetika ketimbang etika.Karena itulah Baudrillard kemudian memetakan pascamodernisme sebagai kaca mata pembacaan realitas dan metode analisa kritis kebudayaan kontemporer.

Motivasi-motivasi realitas pascamodernisme ini sendiri kemudian disinyalir sebagian pihak sebagai konsekuensi dari kuatnya hegemoni sistem kapitalisme lanjut (late capitalism), yakni kapitalisme yang mengalami mutasi dari sistem kapitalisme awal. Kapitalisme yang menjadikan faktor konsumsi sebagai determinan utama ketimbang produksi. Kapitalisme yang berusaha mengglobalkan konsumerisme, budaya massa dan budaya tontonan melalui jaringan informasi terkini dan perusahaan multinasional sebagai agen-agennya. Kapitalisme yang secara laten berhasil menjadi sutradara besar yang mampu menyetir dan menskenariokan perilaku budaya masyarakat dewasa ini.

***

Oleh karenanya, sepakat atau tidak, fenomena hiper-realitas kota dan arsitektur ini tampaknya telah menjadi bagian dari paras kebudayaan kontemporer dunia dewasa ini. Di lain pihak, beragam skenario kebudayaan arahan sutradara kapitalisme lanjut lainnya tampaknya akan terus tampil menggoda dan menguras stamina psikologis kita. Pilihannya hanyalah antara diam dan menyerah kalah, atau sebaliknya bersiaga menjaga stamina untuk tetap bisa mencari alternatif-alternatif budaya berkota yang lebih sehat dan lebih baik.

Sebuah tugas yang tidak ringan memang.

 

 

 

 
 

 

 

 

 

4 Responses to “Hiper-realitas Kota Kita”


  1. 1 Paskalis Khrisno Ayodyantoro October 2, 2008 at 4:48 am

    mungkin kita perlu dia si semu semu itu untuk menyembunyikan realitas kita..

    menurut saya, kita masih perlu juga si simulacrum dan hiper realitas buat semacam penyadar atau mimpi yang membuat kehidupan ini berjalan, tapi mungkin esensi nya harus dicari lagi..

    dan jangan jangan konsep mixed used adalah satu simulasi lagi yang berusaha mewujudkan mimpi kepadatan penduduk disaat kita belum siap tapi bermimpi hidup seperti newyork..

    ah mumpung libur dan lagi banyak baca..🙂

  2. 2 ridwankamil October 2, 2008 at 4:17 pm

    Selama urban simulacrum tidak menggantikan realita sehari-hari harusnya tidak masalah. ia sebagai hiburan. Namun jika digunakan utk menggantikan realita. ia sangat berbahaya.

    saya khawatir dan penasaran dengan anak2 yg dibesarkan di kota Wisata Cibubur. Bagaimana ‘mental map’-nya setelah mereka beranjak dewasa?

  3. 3 salman November 18, 2008 at 4:23 am

    Saya baru merasakan pentingnya ruang terbuka setelah mempunyai anak batita… ketiadaan tempat bermain yang layak,inilah realita sebenarnya hidup di kota yang tidak manusiawi . Tempat bermain hanya ada di mall2 yang tentu saja tidak gratis . Kota seperti inikah yang akan diwariskan kepada anak cucu kita nanti? Saya lebih memilih menyerah kalah dan mencari tempat tinggal yang lebih baik kelak

  4. 4 dedy December 13, 2008 at 4:58 am

    nampaknya gempuran-gempuran moderenitas kota besar telah merubah wajah asli kota kita. dimana kearifan budaya lokal dengan mudah digantikan dengan pakem-pakem aristektur kota modern dari luar sana. Pergeseran nilai yang mau tak mau mesti kita telan. Mungkin seperti kata teman saya, kita harus berdiri menghadapi realita karena sudah tidak ada tempat bersembunyi lagi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: