Strategi revitalisasi kota-kota Asia dalam konteks persaingan global

Salah satu sumber masalah terbesar dalam pembangunan perkotaan adalah distribusi urbanisasi yang tidak terkontrol. Data PBB menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 30 tahun (1995-2025) penduduk dunia yang bermukim dalam kawasan urban akan bertambah dua kali lipat dari 2,4 milyar ke 5 milyar (Hall, Pfeiffer, 2000). Fenomena sosial ini dapat dipastikan selalu membawa masalah dan konsekuensi besar pada mampu tidaknya sebuah kota mengakomodasi beban ini.

Strategi umum yang dilakukan oleh kota-kota besar di negara-negara berkembang umumnya merespon isu ini dengan melakukan konsep pembangunan melebar secara horizontal. Permukiman-permukiman berskala luas berdensitas rendah umumnya dibangun di kawasan pinggiran kota induk seperti halnya Bintaro dan Bumi Serpong Damai dalam konteks kota Jakarta. Dampak negatif dari horizontal development ini sangat beragam mulai dari isu kemacetan, beban infrastruktur/utilitas, sampai permasalahan sosial budaya yang memburuk.

Dalam konteks permasalahan di atas, ironisnya banyak ditemui kawasan-kawasan skala besar di pusat kota di Jakarta yang dibiarkan dan tidak dioptimalkan sebagai salah satu alternatif dalam mengatasi isu urbanisasi tersebut melalui konsep dan strategi pemadatan kedalam (inner city densification). Isu yang terjadi ini dapat dikategorikan kedalam beberapa aspek:

  1. Ketidakmampuan kawasan-kawasan bermasalah ini sebagai generator ekonomi baru kota.
  2. Kepadatan kawasan dan ketinggian bangunan yang tidak optimal.
  3. Dominannya fungsi tunggal (mono-use) dibanding fungsi campuran (mixed-use).

Berkaca pada berberhasilan beberapa kota besar di Asia seperti Hongkong, Shanghai dan Singapura dalam mengatasi isu-isu urban ini, secara strategis terlihat bahwa 3 isu diatas umumnya menjadi dasar dalam merevitalisasi kawasan-kawasan urban bermasalah. Kawasan-kawasan yang berhasil direvitalisasi ini umumnya memiliki densitas yang tinggi, berfungsi campuran yang adaptif/kreatif, berbasis transit dan mampu menjadi generator baru yang menangkap peluang-peluang ekonomi global kedalam kawasan tersebut.

Karenanya makalah ini mencoba memaparkan strategi-strategi revitalisasi kawasan urban dengan mengambil sudut pandang pada analisa studi kasus kawasan-kawasan yang sukses direvitalisasi di beberapa kota besar di Asia.

II. PERMASALAHAN UMUM KAWASAN URBAN YANG PERLU DIREVITALISASI

  • Matinya aktivitas ekonomi

Salah satu permasalahan umum dalam kawasan yang perlu direvitalisasi adalah adanya kondisi kawasan yang aktivitas ekonominya tidak mampu berkembang atau cenderung memburuk. Hal ini pada umumnya terjadi karena hilangnya daya kompetitif ekonomi yang tersaingi oleh kawasan lain yang lebih baik dan kompetitif. Di Amerika Serikat banyak pusat bisnis (downtown) dengan konsep fungsi tunggal (mono-use) di kota-kota besarnya di tahun 80-an ditinggalkan para pelaku ekonomi yang pindah ke kawasan sub-urban. Mereka mendirikan zona-zona komersial yang lebih dekat dengan kawasan hunian dan juga lebih murah dan atraktif secara investasi.

Menjamurnya kawasan commercial strip yaitu koridor kawasan tempat berderetnya bangunan-bangunan komersial di daerah-daerah pinggir kota atau sub-urban ini menjadi magnet yang menyedot aktivitas ekonomi di pusat kota. Hal ini diperburuk dengan tidak hidupnya aktivitas atau interaksi sosial dikarenakan konsep fungsi campuran (mixed-use) yang menjadi syarat dinamisnya suatu kawasan tidak berlaku di kawasan-kawasan yang bermasalah tersebut.

  • Menurunnya kualitas spasial dan fisik bangunan

Permasalahan berikutnya adalah matinya aktivitas ekonomi kawasan akibat banyaknya bangunan-bangunan tua yang tidak pergunakan atau area-area yang dibiarkan terlantar. Masalah ini umumnya terjadi di kawasan-kawasan yang memiliki sejarah panjang sebagai sentra ekonomi dimasa lampau. Namun seiring dengan kemajuan jaman ia ditinggalkan karena tidak mampu beradaptasi dengan kemajuan ekonomi modern. Di kawasan Shamian Island di Guangzhou, yang dahulunya merupakan kawasan bisnis konsuler internasional antara negara-negara Barat dan Cina, belasan bangunan-banguan kolonial yang unik terlantar dan dihuni oleh para tuna wisma secara ilegal. Hal yang sama juga ditemui di beberapa sudut kawasan Jakarta Kota dimana banyak ditemui bangunan-bangunan kolonial yang rusak terlantar dalam skala yang cukup besar.

  • Buruknya citra kawasan

Suatu kawasan urban seringkali ditinggalkan dan tidak diminati oleh para pelaku ekonomi dikarenakan citranya buruk sebagai sebuah kawasan. Citra buruk yang lazimnya terjadi dikarenakan oleh aktivitas sosial yang ekstrim seperti tingginya kriminalitas, dominannya sektor informal atau kuatnya ketidakteraturan sistem kota. Kawasan Mongkok di Hong Kong tidak begitu diminati oleh pelaku-pelaku properti modern papan atas di Hong Kong karena citra negatifnya sebagai kawasan kriminalitas dan pelacuran dengan kualitas fisik lingkungan yang buruk. Hal yang sama juga terjadi di kawasan Senen di Jakarta. Sejak krisis moneter, kawasan ini terdominasi oleh sektor informal yang tidak terkontrol dan premanisme yang menjamur. Hal ini menyebabkan banyak pelaku ekonomi yang mundur teratur dan pindah ke kawasan lain di Jakarta yang lebih baik.

  • Tidak memadainya/memburuknya infrastruktur kawasan

Masalah lainnya dalam konteks ini adalah tidak memadainya sistem infrastruktur kota. Kualitas sarana transportasi dan jaringan utilitas seperti air bersih, listrik dan telekomunikasi yang buruk sering menghambat aktivitas ekonomi yang terjadi sehingga mengakibatkan terjadinya efek high-cost economy. Contohnya adalah kawasan Xin Tian Di di Shanghai sebelum sukses direvitalisasi. Kawasan yang pernah dihuni oleh ribuan penduduk miskin kota ini sebelumnya sangat terlantar dengan akses yang buruk terhadap jaringan air bersih dan telekomunikasi. Hal ini menurunkan minat para pelaku ekonomi untuk beraktivitas di kawasan tersebut.

III. STRATEGI REVITALISASI KAWASAN URBAN

Dari pengalaman beberapa kawasan di kota-kota besar di Asia yang berhasil di revitalisasi, sekurangnya terdapat 5 strategi pembangunan yang bisa dijadikan studi kasus dalam kesuksesannya merevitalisasi suatu kawasan urban. Strategi-strategi ini antara lain:

1. Tersedianya inisiatif politik (political will) yang kuat dari pemerintah dalam mendorong percepatan proses revitalisasi ini.

2. Dibentuknya satu badan pengelola kawasan yang akan direvitalisasi dimana anggotanya terdiri dari para pemangku kepentingan (stake holders) di kawasan tersebut.

3. Memiliki satu strategi identitas ekonomi (district economic identity) yang unik dan kompetitif untuk bisa bersaing dengan kawasan-kawasan urban lainnya.

4. Memiliki konsep pengembangan kawasan campuran (mixed-use) yang terpadu dan terintegrasi (integrated development).

5. Memiliki strategi pentahapan (phasing strategy) yang pragmatis. Proses revitalisasi dimulai di area yang paling cepat dan mampu merepresentasikan wajah baru kawasan tersebut.

III.1 Inisiatif politik pemerintah kota yang kuat.

Banyak kota-kota di negara berkembang di Asia yang tidak menyadari bahwa kawasan-kawasan urban itu memiliki umur ekonomi atau economic life cycle yang dalam jangka waktu tertentu harus didaur ulang. Kawasan Far East Square di Singapore adalah contohnya. Kawasan yang dahulunya berupa ruko-ruko tradisional dikawasan Chinatown yang sudah tidak mampu bersaing secara ekonomi kemudian direvitalisasi di akhir 90-an untuk menjadi kawasan wisata urban yang sukses dengan tema resto/café/bar atau culinary district.

Adalah kemauan politik pemerintah yang menjadi kunci utama keberhasilan konsep revitalisasi. Pemerintah kota sebagai pemegang otoritas politik harusnya melihat revitalisasi sebagai peluang. Urban Redevelopment Authority (URA) di Singapura dan Hongkong adalah badan pemerintah yang paling aktif dalam mengembangkan konsep-konsep revitalisasi untuk menghidupkan kembali kawasan-kawasan tua yang mati secara ekonomi.

URA di Hongkong bahkan mengkonsepkan visi dan misinya dengan 4 pilar strategi perencanaan kota: Redevelopment untuk kawasan yang dikembangkan samasekali baru dilahan yang mati atau kosong. Revitalisation untuk mengembalikan denyut ekonomi di kawasan urban yang tua dan mati secara ekonomi. Rehabilitation untuk bangunan-bangunan yang sudah memburuk kualitas fisiknya. Preservation untuk kawasan dan bangunan yang memiliki signifikansi sejarah atau kualitas arsitektural yang harus dilestarikan.

III.2 Memiliki 1 badan pengelola kawasan

Di beberapa kasus kawasan urban yang direvitalisasi, kompleksitas masalah dan skala luasan kawasan seringkali memerlukan strategi managemen kawasan yang khusus. Untuk model pertama bisa kita lihat di negeri Cina. Di Cina dimana tanah sepenuhnya dimiliki negara, pengelolaan kawasan Xin Tian Di di Shanghai dan kawasan historis Shamian Island di Guangzhou diberikan sepenuhnya kepada developer yang diberi konsesi bisnis untuk merevitalisasi dan mengembangkan kawasan-kawasan ini. Xin Tian Di di kelola oleh developer Shui On Properties. Shamian Island oleh Swire Properties. Keduanya developer besar dari Hongkong. Dengan konsep ini, revitalisasi ekonomi dan fisik suatu kawasan urban menjadi terkendali dan terkontrol dengan baik.

Model kedua adalah seperti di Singapura dan Hongkong, dimana badan pengelola kawasan yang direvitalisasi tetap dari pemerintah. Ini terjadi dikarenakan badan pemerintah ini sudah cukup memiliki pengalaman solid dan visi ekonomi global yang kompetitif. Proyek revitalisasi Clarke Quay di kawasan Singapore River yang di revitalisasi sebanyak 2 kali adalah hasil dari konsep revitalisasi berbasis urban tourism yang langsung dilakukan dan dimotori oleh URA.

Untuk kasus di Indonesia dimana pada umumnya badan pemerintah tidak sepro-aktif URA Singapura atau Hongkong, maka terbentuknya badan pengelola kawasan sebagai mitra pemerintah yang terdiri dari para pemangku kepentingan (stake holders) lokal menjadi sangat krusial. Jika perannya tidak sebagai badan pengambil keputusan teknis seperti contoh di Cina, setidaknya badan ini punya peran kuat dalam menentukan strategi dan konsep yang cocok untuk kawasan yang akan direvitalisasi tersebut.

III.3 Memiliki identitas ekonomi baru yang kompetitif

Salah satu alasan matinya aktivitas ekonomi di kawasan urban adalah ketidakmampuan kawasan tersebut untuk beradaptasi terhadap tantangan ekonomi baru. Karenanya salah satu konsep strategi revitalisasi terpenting adalah melakukan reposisi identitas ekonomi atau economic re-positioning. Contohnya antara lain adalah kawasan Far East Square di Chinatown dan kawasan Mohamed Sultan, keduanya di Singapura, berhasil direvitalisasi dari kawasan perdagangan umum dan hunian yang terlantar menjadi kawasan wisata makan dan hiburan yang aktif dan sukses. Kawasan Jalan Bukit Bintang di Kuala Lumpur yang sebelumnya hanya dikenal sebagai kawasan perdagangan yang moderat, sekarang menjadi ikon pariwisata urban di Malaysia yang dikenal secara global.

Kota yang sukses secara ekonomi umumnya berhasil membagi kawasannya ke dalam distrik-distrik yang memiliki peran ekonomi yang berbeda-beda namun saling komplementer. San Francisco di Amerika Serikat adalah contoh yang baik dalam konteks ini. Kota ini membagi wilayahnya kedalam distrik budaya di Yerba Buena, Distrik bisnis di Market Street, Distrik Wisata di Fisherman Wharf, Distrik kreatif di SoMa, Distrik pendidikan di Golden Gate Park dan distrik hunian di perbukitannya.

III.4 Memiliki konsep pengembangan kawasan yang terpadu

Kesuksesan kawasan-kawasan yang direvitalisasi di Singapura, Kuala Lumpur dan Shanghai antara lain diperkuat oleh konsep Master Plan yang terpadu. Dokumen Master Plan ini memuat strategi-strategi perencanaan kawasan yang komprehensif. Contohnya antara lain Master Plan untuk revitalisasi Singapore River dalam upayanya mereposisi kawasan ini dalam menangkap peluang ekonomi global dari pariwisata urban yang sangat potensial. Di kawasan Boat Quay dan Clarke Quay yang berada di sepanjang Singapore River ini, konsep tata guna lahannya menggunakan pendekatan konsep high & best use dan dynamic tenant mix yang dilengkapi dengan panduan desain spasial kawasan dan desain perangkat streeetscape yang atraktif.

Biasanya untuk kawasan yang kepemilikan lahannya cukup kompleks dan dimiliki banyak pihak maka dokumen Urban Design Guidelines (UDGL) sebagai perangkat kendali desain kawasan atau bangunan menjadi penting. Ketika investasi mulai masuk dan pembangunan fisik mulai dilakukan maka UDGL berperan sebagai panduan dalam menyelaraskan konsep fisik dengan tema ekonomi keseluruhan kawasan.

III.5 Memiliki strategi pentahapan (phasing strategy) yang pragmatis

Pada umumnya kawasan urban yang direvitalisasi merupakan area yang cukup luas, sehingga tidak mungkin mengembangkan seluruh kawasan dalam waktu bersamaan. Karenanya strategi pentahapan (phasing strategy) menjadi krusial. Tahap awal atau proyek perintis umumnya dipilih di area yang paling mudah mengundang investasi dan area yang mampu merepresentasikan dengan kuat citra baru kawasan yang direvitalisasi.

Contoh yang baik adalah strategi pentahapan pembangunan di kawasan Xin Tian Di di Shanghai. Di kawasan seluas 32 Ha ini, proyek rintisan dimulai di zona historis seluas 4 Ha dan ruang terbuka berupa danau seluas 3 ha. Zona historis ini, yang didominasi bangunan kolonial peninggalan Perancis, dikonservasi dan direkonstruksi seperti aslinya untuk dirubah fungsinya menjadi restoran/café/bar kelas satu. Strategi ini terbukti sangat sukses. Gabungan antara area konservasi yang unik dan sukses secara bisnis dengan danau buatan ini menjadikan kawasan ini sebagai kawasan favorit atraktif untuk investasi properti di Shanghai.

IV. KESIMPULAN

Berkaca pada kawasan-kawasan urban percontohan dalam pembahasan di atas, terlihat, bahwa konsep dan strategi revitalisasi haruslah dilakukan secara inovatif dan komprehensif. Inovatif artinya pendekatan perencanaan kawasan revitalisasi yang isu utamanya berbeda-beda harus diselesaikan dengan inovasi-inovasi konsep yang kreatif dan tidak semata-mata selalu berdasarkan teori-teori umum perencanaan/perancangan kota. Komprehensif artinya semua aspek permasalahan dan keterlibatan semua pihak haruslah diselesaikan dan dilibatkan dari proses konsep sampai proses implementasinya.

Keberhasilan merevitalisasi kawasan-kawasan urban bermasalah ini ternyata secara tidak langsung bisa menjadi salah satu solusi dalam merespon permasalahan-permasalahan urban dalam konteks yang lebih besar sebagai dampak dari urbanisasi dan cepatnya perubahan budaya urban pada kawasan perkotaan di kota-kota besar di Asia.

4 Responses to “Strategi revitalisasi kota-kota Asia dalam konteks persaingan global”


  1. 1 radhitya tp November 22, 2008 at 1:59 pm

    menarik….

    tolong informasi studi2 dan teori revitalisasi

    trimakasih

  2. 2 nunk January 23, 2009 at 2:17 am

    Yang menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana dengan di Indonesia, permasalahan apa yang terjadi sehingga kita tertinggal dari Bangsa lain? Langkah konkrit apa yang harus kita lakukan, harus bagaimana Pemerintah kita?

  3. 3 Koloritem February 9, 2009 at 11:58 am

    Jadi inget ketikan skripsi TA dulu..
    Capeknya design 80%, ketak-ketik konsep 20%
    Waktu presentasi..
    Semua poinnya benar, 200%!(kan udah cs di asistensi)
    Semuanya pasti setuju, kalo gak ya gak lulus2 lah. (kost di atas cikapundung pula, mana tahan!)

    Waktu itu belum tahu Implemantasi bobotnya adalah 200.000 persen!

    Baru sadar nih, dunia pendidikan kita masih (-)2000%. yang mentereng design gedungnya saja. Dasar arsitek centil! Yang kuliah di luar ya sama juga benturannya di sini..mungkin lebih dahsyat karena udah keracunan utopist minded. curhatnya pasti extra panjang dalam ratusan artikel..ujung2 mereka tetap jadi `alat` kapitalis atau pejabat juga. tapi lebih `elegant` gitu.

    ….
    Kaum intelektual itu kaya pikiran dalam kepala
    Kepalanya ya The Rule alias yang punya power
    Badannya ya komunitas dia hidup
    Rumahnya ya lingkungan dia hidup, binaan atau alam

    Nah sekarang, antara pikiran, kepala dan badan sangat sering gak nyambung. Semuanya serba terhuyung-huyung. Celakanya satu sama lain gak saling protes.

    Si pikiran merasa pintar dan jitu
    Si kepala merasa paling atas dan mewah, kalau pikiran macam2 tingal di kickout jadi gelandangan.
    Badan juga gak tahu mau dibawa ke mana, buta, sibuk sendiri,yang penting dapat makan dari merobek-robek bumi

    Akhirnya semua hidup tanpa arti tanpa tahu siapa yang dibodohi
    Cirinya:Biasanya ide-ide `briliant` frustasi dan menuhin rak buku atau memori di Web saja
    Para penyelenggara komunal gak sadar diri
    Komunitasnya hanya bisa tepuk tangan gak jelas, boro2 ngerti. Nonton Jupe aja!
    Sementara lingkungan makin membusuk

    Nah,
    Kalau jalanan udah macet parah, banjir makin luas, bencana ekonomi sosial dan ekologi atau non ekologi terjadi baru sibuk diskusi di koran, tv dan Blog, ada jg yang jual jadi dokumenter. Ngalahin infotainmnet..

    Si pikiran kririk si kepala yang bebal
    Si kepala bilang: ini bukan tanggung jawab dia sendiri, anggaran yang kurang lah dan ini warisan orde sebelumnya juga
    Si Badan senasib biasanya ngumpul dan marah-marah karena ini udah urusan nasi. Mana tuh orang2 pintar yang berdebat tadi?! Mana pemerentah?

    Bingung Aing…..

    Tulisan ini bukan solusi tapi hanya potret hitam putih hubungan antisinergi akademisi, penyelenggara negara, ekonomi dgn kumunitas besar atau kecil dan ekologi.

    Blog adalah power to enlighten the community! just enlighten..

  4. 4 barah February 15, 2009 at 6:27 pm

    tolong infonya, dimana bisa didapatkan referensi tentang teori-teori revitalisasi kawasan khusunya untuk kawasan wisata sejarah atau budaya…

    trima kasih sebelumnya
    ___ BaraH___


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: