<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>daydreamer's diary</title>
	<atom:link href="http://ridwankamil.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ridwankamil.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Feb 2009 02:55:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ridwankamil.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/6122ea63caef851126147ed64d54d2d3?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>daydreamer's diary</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Terjebak di Rumah Susun</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2009/02/05/terjebak-di-rumah-susun/</link>
		<comments>http://ridwankamil.wordpress.com/2009/02/05/terjebak-di-rumah-susun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 02:55:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwankamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture-Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu masa di tahun 2008 saya pernah diminta mendesain sebuah proyek rumah susun di Jakarta. Merasa tertantang, karena sering melihat desain-desain rumah susun yang memprihatinkan, tidak inovatif berbaris membosankan seperti bedeng tentara. Berawal dari niat untuk menghasilkan sebuah konsep hunian  bertingkat yang murah, manusiawi  dengan desain yang inovatif.  Mula-mula isi kepala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=103&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di suatu masa di tahun 2008 saya pernah diminta mendesain sebuah proyek rumah susun di Jakarta. Merasa tertantang, karena sering melihat desain-desain rumah susun yang memprihatinkan, tidak inovatif berbaris membosankan seperti bedeng tentara. Berawal dari niat untuk menghasilkan sebuah konsep hunian  bertingkat yang murah, manusiawi  dengan desain yang inovatif.  Mula-mula isi kepala bersemangat penuh dengan ide-ide ini  dan itu. Namun dalam perjalanan banyak sekali benturan kepentingan.  Diujung proses, realita ekonomi pasar dan aturan-aturan pemerintah yang tidak matang  akhirnya menelanjangi dan memreteli  impian-impian tadi . Satu persatu idealisme desain pun menciut.</p>
<p>Karena diserahkan ke mekanisme pasar, maka pihak swasta lah yang memiliki peran terkuat dalam memproduksi rumah susun. Agar bisnis mereka masih masuk akal, mereka pun  kemudian berhitung dengan cermat. Jika harga harus murah seperti yang dipatok pemerintah maka mereka menuntut banyak kompensasi . Triknya adalah membangun dengan meter persegi yang sangat tinggi  yang tercermin dari  jumlah lantai yang banyak dan biaya konstruksi  yang ditekan.   Di sisi lain mereka menuntut desain  harus sangat efisien, dimana 85 persen lantai untuk dijual sisanya untuk sirkulasi.  Di tiap lantai pun harus ‘double loaded’ dimana kiri dan kanan koridor adalah unit-unit yang dijual dengan ukuran luas yang minim atau secukupnya.  Ukurannya adalah 18, 21, 27, 30 atau 36 meter persegi. Dari sisi argumentasi ekonomi, semua permintaan di atas terdengar wajar.</p>
<p>Namun pada saat garis rancangan ditarik di atas kertas gambar, barulah ketahuan konflik-konfliknya. Pada saat desain tapak dirumuskan, keluarlah  masalah-masalahnya. Persi s seperti membuka kotak Pandora.</p>
<p>Untuk rumah susun di Jakarta, pemerintah umumnya memberikan hitungan KLB sebesar 5 atau luas total bangunan adalah sebesar 5 kali luas lahan. Jika luas tanah 2 hektar maka luas bangunan adalah 10 hektar. Efeknya ternyata diluar dugaan. Karena unitnya kecil-kecil maka jumlah penduduk 2 hektar ini jumlahnya bisa mencapai  16 ribu jiwa. Waktu disimulasikan, ternyata jika semua penduduk ini tiba-tiba turun ke lantai dasar untuk evakuasi, maka ruang terbuka yg tersedia yang rata-rata sekitar 60 persen dari total luas lahan tidak akan bisa menampung mereka. Sungguh merisaukan. Peraturan ini memberikan insentif untuk pengembang namun melupakan dampak ledakan populasi yang terjadi.</p>
<p>Dengan meter persegi yang sangat besar di atas lahan terbatas ini, maka tinggi bangunan menjadi berlapis-lapis sampai belasan atau duapuluhan lantai. Koridor pun menjadi sangat panjang, sehingga menghasilkan efek lorong yang panjang dan gelap. Lebih rumit lagi ketika ide memperlebar koridor atau membuang beberapa unit untuk lubang cahaya ditolak dengan cepatnya. Alasannnya proporsi luas terjual dan sirkulasi menjadi timpang tidak efisien. Proyek pun menjadi tidak fisibel lagi kilahnya. Dan cerita proyek Pruitt Igoe di Amerika yng dirubuhkan karena isu sosial dan keamanan rumah susun yang akut, ikut menghantui perjalanan proses ini.</p>
<p>Ide memperbanyak elevator agar lebih manusiawi pun sering ditolak pengembang . Alasannya mahal katanya. Padahal dengan kepadatan begitu tinggi bisa-bisa pada jam pergi atau pulang kerja , banyak penghuni yang bisa pingsan kesemutan atau mati berdiri, karena menunggu lebih dari 30 menit hanya untuk turun atau naik di rumah susun ini.  Belum lagi masalah kepadatan ini pasti memicu isu-isu sosiologis. Mereka yang biasa hidup di kontrakan kampung kota, tiba-tiba harus tinggal di lantai 20. Butuh penyesuaian sosial  dan kultural yang luar biasa. Isu keamanan di lorong koridor, parkir atau ruang berjualan kakilima yang juga pasti selalu hadir. Juga jangan harap rumah susun yang dibangun pihak  swasta bisa punya konsep koridor sisi tunggal atau ‘single loaded’  seperti khayalan pemerintah.  Pasti arsiteknya sudah dilempar sepatu duluan , ala eks presiden Bush, oleh pengembangnya.</p>
<p>***</p>
<p>Minggu-minggu setelah penugasan proyek ini adalah minggu-minggu penuh perdebatan dan adu argumentasi. Pada akhirnya memang terjadi kompromi, namun yang  diatas angin tetap  argumentasi hitung-hitungan ekonomi yang dibawa pihak developer. Kedudukan sementara: kreativitas  babak belur oleh kalkulasi ekonomi.  Pelajaran berharga yang melelahkan.</p>
<p>Muara dari baku hantam di atas, adalah akibat dari lemahnya peran negara dalam menjamin hak warga negara untuk memiliki rumah. Seharusnya pemerintah menyediakan perumahan atau rumah susun ini tanpa terlalu banyak peran dari pihak swasta. Sekalinya diserahkan ke hukum pasar, maka hitung-hitungan yang mengedepan ekonomi menjadi lokomotifnya.  Isu sosiologis, kultural dan ekologis sering terabaikan. Kampanye 1000 tower yang dicanangkan pemerintah akhirnya lebih terdengar sebagai bualan politik di atas awan ketimbang rencana planologis yang masuk akal.</p>
<p>Memang harga jual sudah dipatok tidak lebih tinggi dari 144 juta untuk para pembeli yang berpenghasilan maksimal 4,5 juta Rupiah. Seolah-olah dengan harga yang dianggap cukup terjangkau ini, urusan selesai. Padahal pihak pengembang tetap saja berpikir bisnis. Oke lah harga ditekan rendah, tapi beri saya jumlah unit yang ribuan, pikir mereka.  Mereka berkalkulasi, tidak apa-apa mendapatkan recehan, asal jumlahnya segudang ala kekayaan karakter komik Paman Gober dari majalah anak-anak. Itulah asal muasal diberi kepadatan bernilai 5 kali dari luas lahan.</p>
<p>Lucunya, setelah direnungkan, ternyata akhirnya ketahuan bahwa semua pihak sedang belajar apa itu artinya rumah susun. Pemerintah yang kurang teliti, pengembang yang berhitung ekonomi namun tidak berhitung biaya sosial kultural, dan tentunya arsitek-arsitek yang cemas terjebak dalam pusaran ini. Pihak-pihak yang sering mengeritik wacana rumah susun pun sering lupa bahwa rumah susun yang ideal secara sosiologis dan kultural hanya bisa terjadi jika proyeknya disediakan 100 persen oleh pihak pemerintah dengan subsidi yang sangat besar.    Dalam pusaran  hukum pasar ini, saya sendiri melihat langsung bagaimana proyek-proyek rumah susun yang lolos dalam proses perjinan, desainnya sangat minim inovasi, berbaris bak bedeng tentara, tampak bangunan yang polos sambil tinggi menjulang.  Bahkan sayembara-sayembara desain rumah susun yang katanya hasilnya sangat inovatif, dijamin banyak yang tidak aplikatif jika diceburkan dalam konteks hukum pasar seperti ini.  Proses berarsitektur adalah proses berkompromi.</p>
<p>Itulah pelajaran pertama dari perjalanan yang melelahkan ini. Lelah karena harus berjibaku argumen atau ide antara idealisasi desain dengan tekanan hitungan ekonomis yang maha berat. Pelajaran berikutnya adalah sebuah kesimpulan bahwa negaralah yang seharusnya menjadi konseptor sekaligus pengembang rumah susun ini. Tapi apa daya, negara selalu mengaku tidak punya dana cukup.</p>
<p>Namun pelajaran terpenting dari perjalanan yang melelahkan ini adalah bahwa rumah susun berkepadatan tinggi tetap menjadi konsep berhuni yang paling kontekstual dalam merespon beban kota-kota besar di Indonesia. Karenanya wahai para arsitek, anda tidak boleh putus asa dan teruslah berinovasi yang disempurnakan dengan berdoa.  Demi masa depan peradaban kita semua, masa depan kota, masa depan tempat tinggal anak dan cucu kita.  ***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridwankamil.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridwankamil.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridwankamil.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridwankamil.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridwankamil.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridwankamil.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridwankamil.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridwankamil.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridwankamil.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridwankamil.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=103&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridwankamil.wordpress.com/2009/02/05/terjebak-di-rumah-susun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d204641a48eeb814683d05c691508d8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridwankamil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Going Green is Good Business</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/11/17/going-green-is-good-business/</link>
		<comments>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/11/17/going-green-is-good-business/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 16:27:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwankamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture-Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[ Ini tentang Jakarta. Beberapa tahun terakhir ini saya iseng membandingkan dua perkara: jumlah dan nilai proyek properti di Jakarta diperbandingkan dengan indeks kualitas hidup Jakarta. Hasilnya mencengangkan tapi tidak mengagetkan. Empat tahun terakhir investasi properti komersial sudah lebih dari 150 trilyun. Artinya banyak uang sudah digelontorkan untuk menjadi ratusan bangunan baru di Jakarta. Namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=95&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US ZH-TW X-NONE               MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> <span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ini tentang Jakarta.<span> </span>Beberapa tahun terakhir ini saya iseng membandingkan dua perkara:<span> </span>jumlah dan nilai proyek properti di Jakarta diperbandingkan dengan indeks kualitas hidup Jakarta.<span> </span>Hasilnya mencengangkan tapi tidak mengagetkan.<span> </span>Empat tahun terakhir investasi properti komersial sudah lebih dari 150 trilyun. Artinya banyak uang sudah digelontorkan untuk menjadi ratusan bangunan baru di Jakarta.<span> </span>Namun anehnya kualitas hidup kota Jakarta malah terus menurun.<span> </span>Tahun 2004 rankingnya 139 dari 215 kota yang disurvey oleh Mercer Consulting. Tahun 2007 turun menjadi 142. Tahun ini turun lagi menjadi 146.<span> </span>Aneh. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Nampaknya ada yang salah dengan hidup kita.<span> </span>Trilyunan hadir tapi tidak memperbaiki peradaban kota. Ibaratnya ada orang kaya baru dengan uang berlimpah namun penampilannya tetap kusut dan lusuh, wajahnya tetap kotor berjerawat serta badannya tetap bau dan sakit-sakitan.<span> </span>Berlimpah uang tapi tidak menyehatkan hidupnya. Kota ini makin panas dan stress. Kota ini makin kejam dan galak. “To survive, you have to be rich dan mean in Jakarta,” kata sahabat saya orang Australia sudah 5 tahun tinggal di sini. Ia berkesimpulan, hanya orang berduit yang ketus hatinya yang bisa menikmati kota ini dengan leluasa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Di sisi lain, pasti ada yang salah dengan cara arsitektur dibangun di kota Jakarta. Ribuan bangunan baru hadir di Jakarta.<span> </span>Namun hampir semuanya sangat tidak kontekstual. Ia sibuk sendiri dengan geometrinya. Ia hanya asyik sendiri dengan performa ekonominya. Ia seharusnya bisa dirancang juga untuk merespon satu dua masalah kualitas hidup kota. Dua aspek sering dilupakan para arsitek jika merancang bangunan publik di Jakarta: kontribusi ruang sosial<span> </span>dan ruang hijau publik. Jika negara gagal membawa kota ini menjadi kota layak tinggal, seharusnya dunia swasta bisa memberi kontribusi. Membantu memberi solusi terhadap krisis sosial dan krisis lingkungan melalui arsitektur. Jangan hanya panik saat krisis ekonomi saja. Giliran krisis sosial dan lingkungan hadir disekitarnya, ia tidak bergeming dan menyerahkan semua urusannya kepada negara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Sudirman CBD adalah contohnya. Ia yang sudah di konsepkan lewat Urban Design Guidelines pun, hasil akhirnya hanyalah sekumpulan bangunan baru yang mewah dan rapi jali. Tidak ada roh kehidupan urban yang sehat dan menyenangkan. Jarang terlihat publik bercengkrama santai di jalur pedestriannya yang ternyata tetap terputus-putus. Tidak ada stimulasi ‘street life’. Semua orang sibuk melarikan diri ruang dalam di Pacific Place.<span> </span>Dalam satu forum arsitek di Singapura, saya menyampaikan keluhan bahwa arsitek-arsitek Singapura yang merancang gedung di Jakarta, tidak menerapkan standar arsitektur yang tinggi dan responsif terhadap isu sosial dan ekologis kota seperti halnya di negaranya sendiri. Giliran mendapat proyek di Jakarta, mereka sama saja dengan sebagian dari kita yang arsitekturnya anti sosial. Padahal ciri kota yang baik, adalah kota yang bisa menggoda warganya untuk keluar rumah dengan sukarela. Bersantai di jalur pedestrian atau bibir bangunan atau berinteraksi di taman kota. Setidaknya itu definisi Enrique Penelosa, mantan walikota Bogota.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Salah satu upaya arsitek dalam merespon menurunnya kualitas hidup kota Jakarta adalah memperbaiki pemahaman tentang apa itu hakekat hidup berkota secara sosiologis dan bagaimana arsitektur bisa merespon isu itu. Hidup berkota pada dasarnya kita bersepakat untuk menjadikan aspek anonimitas, heterogenitas, densitas/kepadatan dan aspek intensitas sosial yang ekstrim sebagai isu-isu yang harus kita respon. Sehingga hadirnya ruang jeda atau ruang istirahat sangat dibutuhkan warga kota yang<span> </span>kadar stressnya tinggi. Karenanya GSB atau area sempadan bangunan bisa kita desain dan siasati untuk menjadi ruang jeda dan ruang istirahat sebagai kontribusi dari ranah privat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Upaya lain dari arsitek adalah dengan memulai usaha untuk merespon krisis lingkungan dangan inovasi-inovasi kretivitas desain atau teknologi jika memungkinkan. Kehadiran ruang sosial atau ruang hijau publik bisa hadir di dalam proyek privat. Atap-atap hijau di rumah-rumah karya Adi Purnomo bisa dijadikan referensi tentang inovasi ruang-ruang hijau kecil dari ranah privat. Jika jumlahnya ribuan bahkan jutaan, mereka pasti bisa merubah struktur ruang hijau kota dan sekaligus menurunkan efek panas dari bangunan. Namba Park di Osaka atau Yokohama Ferry Terminal di Jepang adalah contohyang paling mutakhir. Mereka mengkonversi seluruh atapnya untuk menjadi ruang sosial dan taman publik yang hijau. Sementara ini seluruh lantai dua gedung-gedung tinggi di kawasan CBD Hongkong diberikan untuk publik agar bebas bergerak untuk pedestrian yang bergegas. Inovasi ramah sosial dan ramah lingkungan sudah menjadi menjadi keharusan dikota-kota besar dunia, tidak terkecuali di Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Momentum perubahan paradigma ini harus dilakukan sekarang, karena dunia bisnis pun sudah mulai melakukan perubahan orientasi. Sudah banyak<span> </span>perusahaan multinasional menjadikan isu <em>green</em> ini sebagai strategi bisnis. Strategi baru ini ternyata terbukti mampu meningkatkan performa bisnisnya. Strategi <em>going green</em> ini dilakukan karena tekanan pasar dan konsumen yang sudah mulai lebih selektif dan hanya memilih produk-produk atau melakukan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang ‘going green’. Majalah Newsweek bulan April tahun 2007 meliput sekitar 10 perusahaan yang performa bisnisnya meningkat tajam setelah mengumumkan ke publik bahwa produk dan cara kerja mereka sudah merespon isu ekologis. Mereka antara lain Adidas, Vestas, Royal Bank of Canada, Lafarde, Westpac Banking, Yell Group, Denso.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Di Jakarta,<span> </span>beberapa developer di Jakarta sudah mulai memahami, bahwa sekarang masyarakat dan pasar lebih memilih proyek-proyek yang punya konsep kuat terhadap isu lingkungan. Survey yang dilakukan oleh pengembang Puri Botanical Garden di Kebon Jeruk membuktikan bahwa isu ramah lingkungan telah menjadi alasan terpenting dari pasar dalam keputusan membeli rumah. Bukan gaya arsitektur atau kemewahan spek bangunan. Karenanya pengembang ini akan meluncurkan konsep <em>green home</em> yang mencoba secara ilmiah untuk benar-benar <em>green.</em> Bahkan tadinya proyek ini akan disertifikasi ke LEED di Amerika Serikat, namun tidak jadi karena LEED belum memiliki mekanisme<span> </span>untuk melakukan sertifikasi rumah tipe kecil diluar negaranya.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Perusahaan-perusahaan multinasional terutama dari Amerika Serikat pun sekarang sudah mulai diwajibkan untuk hanya menyewa gedung perkantoran yang bersertifikasi <em>green</em>. Artinya gedung-gedung perkantoran di Jakarta jika tidak merespon isu ini dengan serius, maka jangka panjang mereka akan ditinggalkan oleh pasar yang semakin selektif. Apalagi menurut beberapa konsultan properti internasional, perusahaan multinasional ini umumnya mau membayar sedikitnya 10 persen lebih mahal untuk bangunan yang ramah lingkungan ini.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dari pengalaman pribadi memang tidak mudah untuk meyakinkan banyak pihak dalam hal ini. Pemilik proyek umunya masih ragu-ragu terhadap isu <em>green building</em> ini dan selalu beralasan takut mahal dan selalu terburu-buru dalam kejar tayang proyeknya. Padahal isu ini perlu dicerna oleh semua pihak dengan waktu yang cukup. Ini juga terjadi karena kita tidak punya panduan yang jelas dan sederhana. Tidak ada panduan yang <em>user-friendly</em>. Sehingga para arsitek sering terbata-bata jika ditanya hal-hal yang sudah sagat teknis. Ditambah lagi para insinyur mekanikal elektrikal dan konsultan quantity surveyor sering setali tiga uang tidak mau repot untuk melakukan riset tentang produk-produk atau teknologi yang responsif terhadap isu <em>green </em>ini.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Namun diluar kendala-kendala itu, momentumnya sebenarnya sudah hadir.<span> </span>Ini saatnya kita harus bisa merayu semua pihak untuk mulai bersama-sama merespon krisis kualitas hidup kota-kota besar di Indonesia seperti halnya Jakarta. Kiamat planologis sudah di depan mata. Kita harus sama-sama bergerak merespon krisis ekologis dan krisis sosial ini sambil tetap menyeimbangkan kualitas performa bisnis yang baik.<span> </span><em>Good design while going green is good business</em>. Mari berusaha ke arah sana, berhasil tidaknya tidak harus menjadi ukuran terpenting untuk saat ini. Minimal sudah mencoba dan berupaya. Sisanya kita serahkan pada Yang Kuasa.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><br />
</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridwankamil.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridwankamil.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridwankamil.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridwankamil.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridwankamil.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridwankamil.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridwankamil.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridwankamil.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridwankamil.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridwankamil.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=95&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/11/17/going-green-is-good-business/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d204641a48eeb814683d05c691508d8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridwankamil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>‘Greedy and Green’</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/11/11/%e2%80%98greedy-and-green%e2%80%99/</link>
		<comments>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/11/11/%e2%80%98greedy-and-green%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 01:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwankamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[
Setiap pagi di hari-hari ini saya semakin gundah. Gundah, mengetahui modernitas yang kita tumpangi ternyata adalah perahu yang rapuh dan bocor. Hari-hari ini, dunia tiba-tiba mencemaskan hati. Sejak Lehman Brothers dinyatakan bangkrut, gara-gara kredit perumahan yang macet di Amerika, jutaan orang sudah mulai di-PHK, bisnis global sudah mulai lesu, indeks saham sudah mulai melorot.  Panik. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=91&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal">Setiap pagi di hari-hari ini saya semakin gundah. Gundah, mengetahui modernitas yang kita tumpangi ternyata adalah perahu yang rapuh dan bocor. Hari-hari ini, dunia tiba-tiba mencemaskan hati. Sejak Lehman Brothers dinyatakan bangkrut, gara-gara kredit perumahan yang macet di Amerika, jutaan orang sudah mulai di-PHK, bisnis global sudah mulai lesu, indeks saham sudah mulai melorot.<span>  </span>Panik. Seorang pialang saham lulusan Harvard pun memutuskan bunuh diri bulan oktober lalu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> <span>Di dunia investasi saham yang sering rumit dan gerak grafik reksadana di monitor komputer yang sering kita tidak mengerti, keserakahan terlihat sebagai obor olimpiadenya. Dan Amerika adalah pembawa obornya. <em>“In this business, greedy is the new religion,”</em></span><span> ungkap seorang pialang saham di Wall Street. Keserakahan korporasi di dunia ekonomi yang Manuel Castels sebut sebagai fenomena‘weightless economy’ ini mulai berimbas ke mana-mana. Minggu ketiga Oktober lalu, hawanya mulai terasa di negeri kita. Resesi tampaknya mulai mengintip di lubang pintu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Dan kita paham apa itu resesi. Kita pernah melalui jalan itu. Ekonomi yang jalan ditempat. Bank yang pelit mengucurkan pinjaman. Proyek-proyek yang dihentikan. Fee arsitek yang ditunggak. Konsumen yang malas berbelanja. Pabrik-pabrik yang tutup. “Saya kira hanya efisiensi, ternyata hampir semuanya dirumahkan,”<span>  </span>isak Rina, gadis pekerja di Omnidata di Bandung yang terkena PHK minggu lalu. Di minggu kelabu itu, kita pun melihat saham-saham grup Bakrie, orang terkaya di negeri ini, berjatuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Tiba-tiba saya teringat Rully, adik kelas saya yang lulus saat krisis global di tahun 1998. Ia yang sangat berbakat dan sempat saya jagokan harus pindah haluan karena tidak ada pekerjaan untuk arsitek di negeri ini. Ia memutuskan bersekolah lagi di bidang ekonomi dan akhirnya bekerja di perusahaan susu multinasional.<span>  </span>Tiba-tiba pula saya teringat Harris, sahabat sepermainan saya di kampus dulu. Di tahun yang sama ia pun pergi jauh dari negeri ini untuk mencari sesuap nasi.<span>  </span>Dan ia memutuskan untuk tidak kembali lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Setiap siang di hari-hari ini saya semakin Risau. Risau, mengetahui perahu modernitas yang kita tumpangi ternyata dibajak oleh orang-orang serakah dan takabur. Di kota-kota kita, keserakahan itu terlihat kasat. Di Bandung, atas nama kemajuan, hutan kota akan dibabat untuk dijadikan shopping mall. Di Kemang, atas nama ekonomi, aturan Koefisien Luas Bangunan (KLB) bernilai satu bisa disulap menjadi delapan kalinya. Hari-hari ini, hidup di negeri sejuta koruptor ini begitu melelahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Dari sejumlah buku saya mencari paham. Rene Descartes, bapak filosofi Modern, menyatakan bahwa manusia adalah pusat dunia. &#8220;Cogito ergo sum&#8221;. Karena hanya manusia yang bisa berpikir. Namun sekelompok manusia menerjemahkannya lebih jauh. Bumi dan seisinya hanyalah penyempurna eksistensi manusia. Zat yang tidak bisa bicara dan berpikir hanya hadir untuk dieksploitasi oleh rasionalitas manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Disini saya sedikit paham, mengapa Istana Group selaku developer dan arsitek sewaannya dari Jakarta ingin membabat hutan Babakan Siliwangi untuk bangunan komersial. Mereka menganggap hutan, bumi dan air tidak bisa bicara dan berpikir, sehingga harus mengalah untuk rasionalitas mereka. Yaitu rasionalitas pertumbuhan kapital mereka yang harus bergerak eksponensial. Masalah ruang hijau Bandung yang hanya 8 persen dari amanat 30 persen tidak akan pernah masuk dalam rasionalitas mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Ini juga menjelaskan mengapa tidak semua orang Jakarta, Bandung ataupun Surabaya , yang hidup selalu bergegas, mau memahami arifnya filosofi<span>  </span>kultural orang Bali, bijaksananya kaum Baduy ataupun welas asihnya warga Kampung Naga dalam menempatkan alam raya sebagai mitra manusia yang setara. Dari kearifan emosional ini lahirlah konsep hutan larangan, danau sakral, gunung suci yang tidak boleh dijahili. Di mata mereka bumi seisinya bisa kesal, gundah dan marah sehingga harus selalu dijaga<span>  </span>suasana hatinya. Dan upacara-upacara ritual di laut, di hutan atau di bibir gunung adalah bentuk komunikasi dan cara mengobrolnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Namun di mata manusia kontemporer dan kaum penelikung filosofi Modern, hal-hal di atas tidaklah masuk akal. Tidak rasional. Karena itulah Roland Barthes, filsuf semiotik menyebut masyarakat Asia masih didominasi budaya emosional bukan budaya rasional, seperti halnya yang dominan di Barat. Celakanya yang merusak dunia dengan membabat hutan, mengurug pantai, menghilangkan ruang sosial dan hijau kota saat ini lebih banyak dari kelompok yang terakhir<span>  </span>atas nama modernisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Setiap malam di hari-hari ini saya semakin khawatir. Khawatir, membayangkan perahu modernitas yang jadi tumpangan ternyata tidak pernah membawa kita sampai ke tujuan. Hari-hari ini, berpikir tentang masa datang selalu berakhir dengan ciutnya hati.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Berpikir tentang bulan Februari di Jakarta adalah berpikir tentang datangnya banjir besar. Berpikir tentang macetnya Jakarta adalah berpikir tentang hilangnya 43 trilyun peluang ekonomi tahunan dan hilangnya senyum tulus di jalanan. Berpikir tentang Bandung 5 tahun ke depan adalah berpikir tentang parahnya kemacetan, hilangnya ruang-ruang hijau tempat keguyuban sosial, habisnya milyaran rupiah pajak untuk subsidi Persib yang kalah terus atau makin terkurungnya warga Bandung di rumah setiap akhir pekan karena tergerus arus turis Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> <span>Hal-hal di atas sering membuat saya merengut, apakah kita sebagai mahluk <em>mathesis universalis</em></span><span> Modern ini baru tergerak akal sehatnya setelah diberi amarah alam dan murka Tuhan. Kita baru bergerak membuat sistem kanal banjir, setelah banjir besar menenggelamkan dan mempermalukan Jakarta. Kita baru bergerak mengencangkan aturan perbankan<span>  </span>setelah krisis moneter dan BLBI menguap. Kita<span>  </span>baru bergerak untuk <em>going green </em></span><span><span> </span>ala arsitek William McDonough setelah hawa kota terasa makin panas, listrik PLN sering mati mendadak atau setelah Al Gore bertutur getir di film <em>The Inconvenient Truth</em></span><span>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Kadang terpikir,<span>  </span>di hidup yang hanya sekelebat ini, menarik juga melamunkan hidup sebagai warga pedalaman Kampung Baduy atau Kampung Naga yang sederhana. Lahir sederhana, berpikir dan bertindak sederhana serta mati pun sederhana pula. Tidak ada keserakahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Setidaknya kita bisa belajar dari kearifan mereka tentang luhurnya definisi kata ‘cukup’.<span>  </span>Tentang pentingnya menghargai alam sebagai teman berdialog. Tentang perlunya memahami filosofi berbasis kearifan emosional.<span>  </span>Tak apalah Roland Barthes bilang kita kaum emosional. Daripada jadi kaum rasional penghancur dunia ala segelintir oportunis Wall Street atau segerombolan developer serakah yang kaya raya namun<span>  </span>merusak dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Mungkin sudah saatnya konsep manusia sebagai pusat dunia yang angkuh bergeser menjadi manusia sebagai rahmat dunia yang arif. Menjadi elemen ‘Rahmatan Lil Allamin’.</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span>Praha, Oktober 2008</span></p>
<p><!--EndFragment--></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridwankamil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridwankamil.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridwankamil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridwankamil.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridwankamil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridwankamil.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridwankamil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridwankamil.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridwankamil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridwankamil.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=91&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/11/11/%e2%80%98greedy-and-green%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d204641a48eeb814683d05c691508d8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridwankamil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kota dan Ruang Demokrasi</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/kota-dan-ruang-demokrasi/</link>
		<comments>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/kota-dan-ruang-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 15:58:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwankamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture-Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[
MASIH segar di ingatan kita, saat semua mata tertuju pada adegan beberapa mahasiswa mengibarkan bendera merah putih diatas kubah gedung MPR/DPR pada saat klimaks revolusi 1998 lalu. Adegan langka tersebut ternyata cukup menggelitik banyak pihak, karena selain rasa was-was akan rubuhnya struktur kubah gedung rancangan Ir. Suyudi almarhum ini, adegan tersebut juga menjadi simbol kembalinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=89&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
MASIH segar di ingatan kita, saat semua mata tertuju pada adegan beberapa mahasiswa mengibarkan bendera merah putih diatas kubah gedung MPR/DPR pada saat klimaks revolusi 1998 lalu. Adegan langka tersebut ternyata cukup menggelitik banyak pihak, karena selain rasa was-was akan rubuhnya struktur kubah gedung rancangan Ir. Suyudi almarhum ini, adegan tersebut juga menjadi simbol kembalinya kekuasaan rakyat atas gedung demokrasi yang selama ini asing dan berjarak dari rakyatnya.</p>
<p>Gedung rakyat yang dulu bernama Conefo ini selama puluhan tahun diam membisu, membiarkan proses demokrasi rakyat mengambil tempat di jalan-jalan umum, di kamar-kamar kos mahasiswa, ataupun di ruang-ruang marjinal </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. Fenomena ini telah menjadi gambaran umum bagaimana civic architecture seperti gedung perwakilan rakyat yang seharusnya menjadi simbol demokrasi dan selayaknya menyediakan ruang berdemokrasi untuk rakyat, justru dengan sengaja/tidak sengaja telah mengambil jarak, menjauhi dan akhirnya dijauhi oleh rakyatnya.</p>
<p>Menurut pakar sejarah arsitektur Charles Jencks, demokratis tidaknya si penguasa bisa dilihat dari hangat tidaknya interaksi mereka dengan rakyatnya, dan dari tersedia tidaknya arsitektur atau ruang interaksi demokrasi publik yang disebut Leon Krier sebagai res publica. Sejarah telah banyak bicara bagaimana arsitektur begitu mudah diselewengkan menjadi alat untuk mengekspresikan keangkuhan kekuasaan. Belasan bangunan-bangunan publik di Uni Soviet dan Jerman ketika rejim Stalin dan Hitler berkuasa merupakan saksi bisu terhadap pemerkosaan konsep civic architecture tersebut.. Hal tersebut diperparah dengan banyaknya contoh bagaimana esensi orisinil mengenai demokrasi yang menjadikan rakyat sebagai subjek dan penentu kekuasaan, telah bergeser jauh dan hanya menempatkan peran rakyat sebagai penonton pasif dari sebuah kekuasaan.</p>
<p>Kata demokrasi lahir dari kata Yunani demokratia yang artinya &#8220;rule by the common or poor&#8221; atau aturan-aturan yang lahir dari rakyat untuk mengatur hak mereka dalam berpartisipasi dalam urusan-urusan publik. Menurut Jencks, walaupun konsep demokrasi ini tidak bisa dibandingkan dengan sebuah agama atau religi, namun konsep ini telah terbukti bisa mewadahi beragam kepentingan yang berseberangan. Demokrasi dianggap bisa menyeimbangkan kepentingan antara golongan kiri dengan kanan, antara golongan intelektual dengan philistine atau udik, ataupun antara penganut agama yang taat dengan kaum agnostic atau atheis.</p>
<p>Dari Yunani Kuno sampai </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Solo<br />
Agora di jaman Yunani kuno adalah ruang publik tempat seluruh lapisan masyarakat berinteraksi. Aktivitas berdagang, bermain, berdiskusi, berdebat dan berteriak melontarkan pendapat di depan publik adalah kegiatan sehari-hari yang menjadi esensi dari semangat demokrasi yang lahir di agora ini. Kecilnya skala negarakota atau polis sebagai kesatuan komunitas di Yunani kuno ini, memungkinkan setiap orang berhak untuk melontarkan ide dan didengar langsung pendapatnya oleh publik. Interaksi sosial sebagai esensi demokrasi di agora ini mungkin bisa kita lihat di episode film seri televisi Hercules.</p>
<p>Dalam perkembangan atmosfir berdemokrasi di agora ini, kemudian lahirlah beberapa tipologi fungsi arsitektur seperti Bouleuterion (bangunan legislatif), Prytaneion (bangunan eksekutif), Heliaea (bangunan yudikatif) dan Stoas (bangunan media untuk pameran, berdiskusi dll.). Kehadiran fungsi-fungsi baru tersebut tidaklah menjadi over dominan. Keberadaannya justru memperkuat eksistensi agora sebagai entiti arsitektur demokrasi yang paling luhur dan paling penting.</p>
<p>Arsitektur sebagai elemen demokrasi semestinya lahir dari prinsip res publica yang menjadikan arsitektur sebagai monumen sekaligus ruang yang melahirkan spontanitas politik publik atau ruang tempat collective power masyarakat tumbuh dan berkembang. Menurut Leon Krier, jika prinsip res publica ini terpenuhi, dan secara harmonis mau berinteraksi dengan fungsi res privata seperti jalan-jalan umum, ruang terbuka kota dan fungsi privat kota lainnya, maka akan terbentuklah apa yang Krier sebut sebagai the true city atau civitas.</p>
<p>Namun tidak demikian halnya dengan gedung-gedung pemerintahan atau ruang-ruang publik di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> kita, dimana democratic symbol dan attitude justru saling bertolak belakang. Gedung perwakilan rakyat yang dipagari tinggi-tinggi, rumit dan sulitnya akses ke halaman sebuah balai kota, diaturnya secara ketat jam pemakaian sebuah ruang terbuka atau taman, adalah contoh bagaimana arsitektur dan ruang kota hanya dimaknai sebagai sebuah aset kekuasaan dari sebuah rejim politik yang berkuasa.</p>
<p>Pergeseran makna res publica tadi diperburuk dengan angkuhnya mentalitas para pelaku kekuasaan dimana filosofi luhur &#8216;abdi rakyat&#8217; itu perlahan-lahan lenyap dari kamus sehari-hari mereka. Tidaklah mengherankan jika akumulasi kekecewaan sosial rakyat ini akhirnya bermuara pada banyaknya kasus pengrusakan aset-aset pemerintah, mulai dari pengrusakan kantor kecamatan sampai pembakaran sebuah balai </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> yang sempat kita saksikan di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Solo. Terlepas dari ada tidaknya provokator politik, penghangusan balai </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> yang dilakukan oleh sebagian rakyat Solo ini memang cukup mengherankan banyak pihak, apalagi jika dikaitkan dengan karakter wong Solo yang dikenal lemah lembut itu.</p>
<p>Contoh lainnya bisa tercermin pula dari banyaknya rumah-rumah dinas gubernur/bupati yang dibangun atau direnovasi dengan dana milyaran yang diperas dari pajak rakyat sendiri. Ironisnya, dana fantastis itu ternyata hanya menghasilkan kumpulan arsitektur Narcissist, arsitektur yang gemar bersolek dan memuja dirinya sendiri. Hal di atas ternyata masih relevan dengan kritikan Romo Mangun terhadap gedung-gedung pemerintahan di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: &#8220;..Sampai terjadi, arsitektur gedung DPA di Jakarta berbentuk luar bahkan warnanya pun pleg-persis dengan gedung-gedung berarsitektur Germania Hitler, buah hasil retorika, patetik dan patologis Menteri PU Nazi Albert Speer..&#8221;</p>
<p>Kecewa? Ternyata penguasa telah siap dengan sejumlah alasan klasik berupa pembenaran yang menyatakan bahwa rakyat mendambakan rumah dinas gubernur/bupati yang mewah dan bisa dibanggakan. Dengan mudahnya mereka mengatasnamakan rakyat, tapi rakyat yang mana sebenarnya yang mereka wakili?. Hal ini kontras sekali dengan kesederhanaan arsitektur kediaman Perdana Menteri Inggris di Downing Street No. 10 di London yang begitu menyatu dengan riuh rendahnya kota London. Rumah dinas ini konon sengaja dirancang sebagai simbol bahwa pemerintah Inggis adalah pelayan rakyat.</p>
<p>Privatisasi ruang publik dan dibatasinya secara ketat penggunaan ruang-ruang terbuka </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> adalah masalah krusial lainnya yang harus kita lawan. Contoh paling menarik adalah dengan dipasangnya pagar pengaman di sepanjang plaza linier dari arah Gedung Sate ke arah Monumen Perjuangan Jawa Barat di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bandung</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. Pihak Pemda dengan pelitnya hanya membuka ruang terbuka ini di setiap akhir minggu, selebihnya masyarakat dilarang berinteraksi di ruang terbuka ini, apapun alasannya.</p>
<p>Tidak adanya pemahaman bahwa ruang terbuka </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> sebenarnya menjadi hak publik untuk bersosialisasi, berinteraksi dan berdemokrasi, adalah pola pikir feodal dari pihak penguasa dalam memandang arsitektur dan ruang </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> sebagai aset kekuasaan. Bagi mereka, pengamanan fisik beragam monumen bisu berikut ruang terbuka disekelilingnya ternyata lebih penting ketimbang upaya memberdayakan public realm sebagai tempat interaksi sosial dan kegiatan berdemokrasi masyarakat.</p>
<p>Jika alasan keamanan atau mahalnya biaya pemeliharaan sering mucul sebagai alasan, maka secara tidak langsung hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya penguasa tidak siap dan tidak mampu dengan proyek-proyek utopis dan ambisius mereka sendiri. Proyek-proyek ambisius sepihak ini seringkali dibangun dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat banyak, padahal dengan angkuhnya berdiri di atas tanah hasil penggusuran-penggusuran rumah dan tanah rakyat mereka sendiri. Bahkan di kalangan warga di Kota Bandung muncul anekdot yang menyebut monumen di depan Universitas Padjajaran ini sebagai &#8220;Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat yang digusur oleh Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat&#8221;.</p>
<p>Dari aksi Semanggi sampai demokrasi Romawi<br />
Langkanya arsitektur dan ruang kota sebagai media untuk mengekspresikan keinginan rakyat, menyebabkan interaksi politik, debat publik, protes sosial dan demonstrasi akhirnya banyak mengambil tempat di jalur-jalur umum dan simpul-simpul penting kota. Jalan Jenderal Sudirman, Semanggi, Bundaran HI, adalah lokasi-lokasi &#8216;favorit&#8217; dari setiap demonstrasi atau aksi politik rakyat di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. Semboyan &#8216;revolusi lahir di jalanan&#8217; kelihatannya telah menjadi jargon dan fakta nyata dari proses berdemokrasi masyarakat kita.</p>
<p>Dampak kerugian secara sosial dan ekonomi pun akhirnya tak terhindarkan. Banyak warga </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> ketakutan, khawatir dan akhirnya menghentikan aktivitas sosial maupun kegiatan ekonominya jika mendengar adanya aksi politik yang mengambil tempat di jalanan atau di simpul </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. Kemacetan lalulintas, tutupnya toko-toko atau sekolah, aksi vandalisme dan anarki akhirnya menjadi sesuatu yang lumrah dalam proses demokrasi &#8216;jalanan&#8217; masyarakat kita</p>
<p>Matinya arsitektur sebagai elemen demokrasi, menurut Jencks dapat dibagi menjadi tiga hal: kesengajaan menjauhkan lokasinya dari eksisting struktur kota yang ada; angkuh atau monolit dalam ekspresi arsitektur; atau tidak tersedianya ruang positif yang mengundang warga kota untuk melakukan interaksi sosial dalam proses berdemokrasi.</p>
<p>Berbeda dengan Roman Forum di jaman Romawi yang menjadikan arsitektur dan plazanya sebagai jantung kegiatan demokrasi publik, simbol-simbol demokrasi seperti gedung MPR/DPR kita kelihatannya hanya menjadi simbol demokrasi yang semu. Hal ini bisa dilihat dari jarangnya kehadiran publik secara sukarela dan belum terwujudnya interaksi demokrasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Keberhasilan menempatkan arsitektur dan ruang positif </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> sebagai elemen demokrasi di Roman Forum ini kemudian banyak ditiru oleh negara Barat termasuk Perancis dan Amerika dalam merancang ibu kotanya.</p>
<p>Kita memang belum punya ruang positif </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> sekelas the Champs-Élysées di Perancis atau Washington Mall di Amerika yang dirancang sebagai media atau ruang interaksi berdemokrasi rakyat. Namun setidaknya hal ini bisa menjadi bahan pemikiran bagi para penguasa dan para arsitek/perencana </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> dalam mendukung kehidupan berdemokrasi yang sehat melalui penyediaan ruang positif </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> maupun arsitektur res publica yang kita dambakan bersama.</p>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridwankamil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridwankamil.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridwankamil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridwankamil.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridwankamil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridwankamil.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridwankamil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridwankamil.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridwankamil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridwankamil.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=89&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/kota-dan-ruang-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d204641a48eeb814683d05c691508d8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridwankamil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Regionalisme sebagai jalan tengah?</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/regionalisme-sebagai-jalan-tengah/</link>
		<comments>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/regionalisme-sebagai-jalan-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 15:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwankamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture-Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/regionalisme-sebagai-jalan-tengah/</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS, Minggu 9 Juli 2000
SALMAN Rushdie, pengarang The Satanic Verses yang menghebohkan itu, suatu waktu pulang mudik ke kampung halamannya di India. Dari balik kaca mobilnya, ia sempat tertegun melihat pesatnya pembangunan fisik Kota Bombay yang telah lama ditinggalkannya. Deretan gedung-gedung jangkung yang begitu seragam dan gemerlap, terlihat berjajar berbaris seakan menyambut kepulangannya.
Namun, di balik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=88&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">KOMPAS, Minggu 9 Juli 2000</p>
<p>SALMAN Rushdie, pengarang The Satanic Verses yang menghebohkan itu, suatu waktu pulang mudik ke kampung halamannya di India. Dari balik kaca mobilnya, ia sempat tertegun melihat pesatnya pembangunan fisik Kota Bombay yang telah lama ditinggalkannya. Deretan gedung-gedung jangkung yang begitu seragam dan gemerlap, terlihat berjajar berbaris seakan menyambut kepulangannya.</p>
<p>Namun, di balik kekagumannya itu pengarang yang dihukum mati in-absentia oleh Khomeini ini merasakan ada sesuatu yang tidak biasa. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> sesuatu yang hilang. &#8220;This is my </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Bombay</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">, but it is definitely not mine,&#8221; gumamnya.</p>
<p>Ternyata rona urbanitas lokal dan atmosfer kemajemukan Bombay-lah yang dirasakannya lenyap. Semuanya terlihat patah dan kalah oleh keseragaman fisik dan wajah gedung-gedung kotak bergaya arsitektur Modern. Dalam kegamangan itu, Rushdie pun disergap oleh suatu kerinduan yang mendalam sekaligus keasingan yang menusuk. &#8220;There is no there, there.&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>SIHIR arsitektur bergaya Modern di abad lampau memang begitu saktinya dalam menyulap wajah kota-kota besar dunia menjadi begitu serupa. Diktum &#8220;form follows function&#8221; dan imaji utopis arsitektur Modern dengan international style-nya telah membidani lahirnya ratusan kota-kota berpola mekanistis dan ribuan gedung-gedung berekspresi kotak minimalis. Saking mewabah dan merasuknya, sampai-sampai konsep modernitas pun selalu disalahartikan sebagai hidup dalam arsitektur dan lingkungan binaan bergaya arsitektur Modern.</p>
<p>Padahal menurut Marshal Berman dalam All that Solid Melts Into Air, makna modernitas itu sejatinya adalah upaya konsisten manusia untuk menyeimbangkan diri secara evolutif dengan percepatan kemajuan zaman. Jadi lebih kepada way of thinking ketimbang way of living. Dalam konteks ini, bertransaksi saham Wall Street di atas sebuah saung vernakular di tengah sawah pun sebenarnya merupakan fenomena yang lazim-lazim saja.</p>
<p>Kesalahkaprahan tersebut juga diperparah oleh lemahnya voltase resistensi budaya regional. Dalam konteks arsitektur di era globalisasi ini, kecepatan aliran arus informasi baik berupa literatur, publikasi, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">gaya</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> hidup, ketokohan, maupun inovasi teknologi konstruksi pada kenyataannya tetap didominasi Barat. Seperti kata Edward Said, secara politik kita-Dunia Ketiga-memang sudah merdeka, namun belum secara budaya. Akibatnya, esensi kemajuan pun kemudian sering diukur dari seberapa cepat kita bisa menyelinap ke dalam arus baru berarsitektur di Barat.</p>
<p>Mimpi indah utopia Modernisme yang sebagian besar telah berubah menjadi mimpi buruk (dystopia) pun akhirnya kita akrabi tanpa kita sadari. Arsitektur pun disulap menjadi barang yang elite, mahal dan tunggal rupa. Sejalan dengan itu sejarah membuktikan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> pun dibelah-belah dengan skala yang tidak manusiawi (megalopolis) dan dirancang untuk keleluasaan kendaraan bermotor ketimbang eksistensi manusianya. Penggusuran secara fisik dan pengorbanan rasa keadilan atas nama kemajuan pun akhirnya menjadi suatu keseharian. &#8220;You can&#8217;t make an omelet without breaking eggs&#8221;, demikian pembenaran klasik kaum Stalinis.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;LESS is more!&#8221; sabda Mies Van der Rohe.</p>
<p>Bukan. &#8220;Less is bore!&#8221; balas Robert Venturi di tahun 1966</p>
<p>Ahhh&#8230; &#8220;More is more!&#8221; timpal AM Stern di tahun 1985</p>
<p>Sementara mereka di Barat sibuk beradu filsafat arsitektur, kita di sini hanya pasrah melihat ruang dan lansekap budaya kita menjadi meja gambar eksperimen mereka. Untunglah di pelbagai belahan penjuru dunia, akumulasi kekecewaan akan dystopia Modernisme dalam arsitektur <span> </span>ini ternyata berhasil menyemaikan benih-benih resistensi.</p>
<p>Hasan Fathy, BV Doshi, Charles Correa maupun Ken Yeang, adalah sederetan arsitek yang kemudian tercerahkan dalam mempelopori semangat baru melawan out-of-place architecture ini.</p>
<p>Mereka kemudian berusaha membangun arsitektur yang bisa jujur bertutur tentang budaya lokal dan karakter iklimnya, namun juga lentur dalam mengakrabi laju teknologi modern. Pendekatan yang lebih menekankan pada cara berarsitektur bukan pada </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">gaya</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> ini kemudian disebut dengan nama Regionalisme. Semangat ini memang secara tidak langsung lahir dalam atmosfer gerakan arsitektur Postmodern. Istilah-istilah rethink, reform, rebuild, reinvent, redefine, ataupun reevaluate, menurut kritisi arsitektur Nan Ellin, telah menjadi wacana kritis sebagai reaksi terhadap dystopia Modernisme tersebut.</p>
<p>Dalam konteks lain, sosiolog Yasraf Amir Piliang pun menyebutnya sebagai semangat Renesans Asia. Semangat untuk melakukan resistensi, mengembangkan pluralisme dan menguatkan kembali nilai-nilai kearifan timur. Namun menurut pemikir arsitektur Kenneth Framton, yang harus dikembangkan bukanlah semangat regionalisme yang romantis, tetapi yang kritis (critical regionalism). &#8220;Contemporary acknowledging, but not bounded by historic definitions of the vernacular,&#8221; lanjut Framton. Suatu spirit berarsitektur yang menguatkan makna tempat (genius loci), tektonis namun ekspresif dalam konteks kontemporernya.</p>
<p>Menurut Framton, regionalisme yang romantis cenderung melahirkan kekakuan berpikir dan sikap menghindari kenyataan (escapist). Sebagian masyarakat kita memang punya hobi mencomot atau membekukan bentuk akhir arsitektur tertentu untuk dipaksakan sebagai identitasnya ketimbang mengkritisi proses dan filosofi pencariannya. Jogloisasi atau pemaksaan bentuk atap joglo di Jawa Tengah sebagai identitas regionalnya adalah contoh dari kepicikan tersebut. Jika tidak kritis dan arif, ungkap arsitek Alexander Tzonis, konsep regionalisme ini akan menjadi &#8220;powerful tool of repression or chauvinism&#8221; ala kuningisasi Orde Baru.</p>
<p>***</p>
<p>CONTOH menarik dalam konsep regionalisme kontemporer adalah karya Ken Yeang di Malaysia. Arsitek lulusan AA School London ini dikenal sebagai pionir yang mengintegralkan aspek ekologi dan iklim lokal kedalam sistem bangunan yang disebut bioclimatic skyscraper. Konsep ini diimplementasikannya pada rancangan Menara Mesiniaga yang menjadikan atrium sebagai ruang ventilasi alami, menempatkan skycourt sebagai ruang komunal vertikal untuk memaksimalkan pengaturan cahaya matahari, dan merancang selubung eksterior yang bersifat fragmentatif mengikuti orientasi garis matahari dalam iklim setempat. Prinsipnya, iklim itu bukan untuk dilawan, tetapi dirangkul atau diintegralkan ke dalam sistem bangunan.</p>
<p>Tanpa harus terhanyut oleh ornamentasi vernakular ataupun kotak minimalis ala arsitektur Modern, konsep bioclimatic skyscraper ini ia anggap bisa mewakili identitas arsitektur kontemporer di Malaysia, Indonesia, Singapura ataupun di kawasan tropis lainnya. Yeang berargumen bahwa faktor terpenting dalam konsep regionalisme adalah faktor iklim, karena dalam kurun waktu yang panjang, iklim akan selalu stabil, sementara sensibilitas estetik, selera visual dan faktor sosial budaya masyarakat bisa saja berubah. Regionalisme yang kritis lanjutnya, haruslah adaptif terhadap jiwa tempat, responsif terhadap iklim lokal dan tidak menerima mentah-mentah konsep yang memaksakan tradisi sebagai sesuatu yang rigid atau fixed.</p>
<p>Baginya, batas budaya yang berdasarkan kesamaan iklim dan geografis lebih penting ketimbang batas budaya yang dipisah secara politis seperti halnya batas propinsi atau batas negara. Secara filosofis, pemikir Martin Heidegger juga menyatakan bahwa batas budaya itu terdefinisi pada dimulainya transisi menuju sesuatu yang baru. Ia mengistilahkannya sebagai peras, sebuah kata Yunani yang mengartikan bahwa batas bukanlah garis akhir, melainkan awal dari kehadiran suatu fenomena atau objek baru.</p>
<p>Contoh kontemporer dalam regionalisme kritis lainnya adalah proyek Pusat Budaya Kanak di Kaledonia Baru rancangan arsitek Renzo Piano. Ia merancang suatu wujud arsitektur yang dianggap dapat merefleksikan semangat budaya Kanak modern tanpa harus terpaku pada penonjolan fisik vernakularnya. Di proyek ini, ia mendesain gugusan massa lengkung berbentuk bawang terbelah yang berderet menjulang ke langit. Rancangan ini merupakan perpaduan antara karakter bangunan adat setempat dengan karakter high-tech pada sistem struktur dan detailnya yang menjadi ciri Renzo Piano.</p>
<p>Jalinan struktur kayu lokal yang menjulang pada deretan massa bangunannya, ia adaptasi juga dari konsep struktur arsitektur setempat yang sangat responsif dan fleksibel terhadap faktor iklim lokal terutama angin yang kencang. Dari kejauhan, deretan gugus massa bangunan ini seolah menjadi bagian dari artefak alam yang secara dramatis memperkuat karakter lansekap dan topografi tapaknya.</p>
<p>Bagi masyarakat Kanak, proyek Pusat Budaya Kanak ini dianggap sebagai jawaban dari proses pencarian identitas bangsanya melalui wujud arsitektur. Fenomena pencarian identitas ini sebenarnya juga melanda sebagian besar masyarakat dunia ketiga yang rata-rata merdeka di pertengahan abad lalu. Namun celakanya, kegamangan dan kebingungan dalam pencarian identitas ini akhirnya termanfaatkan oleh masuknya arus homogenisasi arsitektur bergaya Modernisme yang hadir atas nama modernisasi.</p>
<p>Kita memang harus berhati-hati dalam merumuskan suatu identitas kolektif. Jika sudah bersifat kolektif, pelabelan identitas suatu budaya bukanlah suatu hal yang mudah. Disadari atau tidak, budaya yang hadir saat ini kadangkala merupakan superimposisi dari lapisan-lapisan sejarah yang mengkristal, seperti halnya asimilasi budaya Betawi, Cina dan India yang muncul pada baju pengantin Betawi. Apalagi identitas murni suatu budaya di negara ketiga, menurut sejarawan Jean Dethier, kadang dengan mudah didistorsi, dikomersialisasi, dan di-stereotipe-kan oleh sejarah kolonialismenya.</p>
<p>Oleh karenanya, pendekatan regionalisme yang kritis seperti yang ditawarkan Framton, bisa menjadi satu alternatif dalam penguatan karakter budaya setempat ketika beradaptasi dengan percepatan kemajuan jaman. Analoginya, untuk keseharian di kota kita yang indah dan tropis ini, apa kita mau memilih mantel bulu impor yang tebal dan mahal, memilih baju kebaya tradisional atau mencari alternatif cerdas lainnya demi sebuah identitas dan kenyamanan yang berkarakter? </span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridwankamil.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridwankamil.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridwankamil.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridwankamil.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridwankamil.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridwankamil.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridwankamil.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridwankamil.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridwankamil.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridwankamil.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=88&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/regionalisme-sebagai-jalan-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d204641a48eeb814683d05c691508d8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridwankamil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kota dalam belenggu politik &#8216;identitas&#8217;</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/kota-dalam-belenggu-politik-identitas/</link>
		<comments>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/kota-dalam-belenggu-politik-identitas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 15:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwankamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture-Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[ “HARUS Jakarta!” ujar Bung Karno di suatu hari.
Di bawah terik lapangan Ikada, dihadapan sekelompok pemuda antusias, ia berpidato tentang mengapa Jakarta harus menjadi ibukota Indonesia. “Bukanlah Surabaya yang kotanya orang Madura dan Jawa.”  “Bukan pula Bandung, sebesar-besarnya Bandung, itu adalah kota Sunda.” Di mata Bung Karno, hanya Jakarta yang layak dikedepankan sebagai ibukota dan etalase [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=86&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> “HARUS Jakarta!” ujar Bung Karno di suatu hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Di bawah terik lapangan Ikada, dihadapan sekelompok pemuda antusias, ia berpidato tentang mengapa </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> harus menjadi ibukota </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">. “Bukanlah Surabaya yang kotanya orang Madura dan Jawa.”<span>  </span>“Bukan pula </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Bandung</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">, sebesar-besarnya </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Bandung</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">, itu adalah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> Sunda.” Di mata Bung Karno, hanya </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> yang layak dikedepankan sebagai ibukota dan etalase identitas bagi </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> baru. Lainnya hanyalah kota-kota daerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Bung Karno<span>  </span>ingin </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> menjadi ‘The beacon of the New Emerging Forces’. Ia yang pada dasarnya ingin harga diri bangsa </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> terangkat setelah hancur dalam era kolonialisme, sempat memimpikan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> sebagai yang terbesar, terdepan dan termegah. “Lihatlah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">New York</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> atau Moskow,” tunjuknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Dan kita pun tahu kemana obsesi itu berlanjut. Tanah Senayan digerus dan 5000 keluarga diusir untuk pembangunan kompleks Stadion terbesar. Ruas jalan Thamrin dan Semanggi dihamparkan sebagai koridor bisnis. Masjid Istiqlal<span>  </span>dibangun sebagai yang termegah dan tugu Monas yang monumental pun ditegakkan. Semuanya menjadi parade pesan Bung Karno agar identitas baru </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> dilirik, dibaca dan diakui oleh komunitas internasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">MENGAPA<span>  </span>konsep beridentitas sebegitu penting?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Identitas adalah cara untuk menjaga ‘karakter’ dan ‘sifat beda’ kita. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Gaya</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> hidup, strata sosial, agama, usia, ras/etnis, bendera kelompok sampai orientasi seksual umumnya menjadi referensi penting dalam eksistensi identitas. Dan untuk memahaminya, kita biasanya perlu cermin pembanding. Kehadiran ‘mereka’ atau ‘other’ sebagai pembanding yang berbeda menjadi penting<span>  </span>untuk memahami siapakah gerangan ‘kita’ atau ‘self’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kelompok yang merasa dirinya lebih baik, cenderung menjadikan dirinya sebagai referensi dan secara sepihak menegasikan identitas-identitas diluar dirinya. Max Weber dalam “The City” di tahun 1921 merumuskan identitas masyarakat urban dunia dalam dikotomi ‘Occidential vs Oriental’. Baginya, identitas ‘Occidental’ alias ‘Barat’ tadi eksis sebagai kebalikan dari apa-apa yang menjadi ciri ‘Oriental’. Dan ketimbang memahami ‘Timur’ sebagai segugus sistem hidup yang saling melengkapi, ‘Barat’ malah mengukuhkan identitasnya dengan melabeli ‘Timur’ dengan segala keburukannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Persis seperti yang dilakukan psikiater Belanda P.H. Travaglino, yang menyimpulkan di tahun 1920, seperti yang dikutip Goenawan Mohamad, bahwa identitas orang Jawa dewasa umumnya tidak memiliki kematangan psikologis dan masih bersifat ‘kinderlijk niveau’ alias kekanak-kanakan. Kajian ‘ilmiah’ yang dipakai Belanda sebagai pembenaran untuk memperpanjang kolonialisme-nya di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">. Sebuah cara pandang filosofis yang dicoba dilawan dalam diskursus poskolonial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Karena mentalitas selalu melihat ‘Barat’ sebagai referensi inilah, tidak heran jika Roland Barthes dalam ‘Empire of Sign’, menceritakan kebingungannya berorientasi di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Tokyo</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">. Di Tokyo, menurut Barthes, rasionalisasi urutan jalan, alamat yang mudah dibaca dari peta, ‘main street’, maupun pusat </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> tidaklah hadir seperti di kota-kota Amerika atau Eropa. Ini karena, cara penduduk </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Tokyo</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> berorientasi memang berasal dari pengalaman mereka menyelami ruang-ruang organik kotanya. Dari memori sebuah ‘lived space’. Bukan dari pembacaan rasionalitas sistem kotanya seperti halnya kota-kota Amerika</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">“CITY air makes you free,”<span>  </span>cetus pepatah Jerman kuno. Ini karena </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> adalah artefak terbesar dari aspirasi budaya manusia. Tempat mimpi beradu dan ambisi hidup bebas bersaing. Struktur dan wajah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> pun bisa bercerita tentang kompleksitas persilangan identitas masyarakatnya.. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Yang paling mencolok sekaligus tak terasa adalah bagaimana kapitalisme mendeformasi struktur dan wajah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> berdasarkan strata kelas ekonomi. Strata identitas ini mudah terbaca dari lokasi dan lingkungan tempat mereka tinggal. Kaum miskin </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> umumnya tinggal di tempat kumuh dan sumpek, sementara kaum berpunya tinggal di lokasi mahal dan umumnya berdensitas rendah. Teori lokasi ini biasanya sebangun dengan strata sistem produksi ekonomi kapitalis yang dianutnya. Akibatnya konsep sosial ‘mixed income &amp; mixed density’ seperti di Bijlmermeer Belanda tahun 1992 atau di kota-kota Skandinavia lainnya menjadi konsep yang terasa asing. Fenomena kapitalisme kota ini sering dikaji kelompok ‘Marxian Urbanism’, yang melihat kota sebagai arena konflik antar kelas sosial, seperti dirintis Manuel Castells sejak “The Urban Question” di tahun 1977</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sementara itu, cara negara memproduksi identitas kolektif melalui arsitektur atau desain urban seperti Sukarno, juga terjadi di Mesir di era Anwar Sadat. Ia juga terobsesi untuk menampilkan identitas Kairo yang baru kehadapan dunia. Untuk itu ia butuh Kairo yang manis, bersih dan modern. Dengan slogan ‘open-door policy’ atau ‘infitah’, Sadat menghancurkan dan mengusir belasan ribu jiwa dari jantung kota Kairo untuk proyek-proyek mega atas nama modernisasi dan dolar turisme internasional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Jerman di era Hitler pun sempat merencanakan hal serupa. Ia yang dibantu arsitek Albert Speer sempat merencanakan untuk merekonstruksi Berlin dalam skala raksasa dan menggunakan ruang kota sebagai alat disiplin dan intimidasi identitas ‘Germania’.<span>  </span>Kasus serupa lainnya bisa kita baca dalam sejarah Brasilia ataupun Chandigarh di India.<span>  </span>Di kota-kota tadi, para penguasa politiknya cenderung terobsesi menjadikan wajah kota sebagai etalase politik identitas. “A city of parades and spectacles,” komentar Peter Hall.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Identitas kelompok berdasarkan ras dan etnis pun masih banyak ditemui dalam struktur kota yang seharusnya bersifat kosmopolitan. Chinatown atau Pecinan adalah contoh identitas ras yang eksis di banyak kota-kota besar di seluruh dunia. Litle India dan Arab Street di Singapura, Harlem untuk kulit hitam dan Litle Italy untuk imigran Italia di Manhatan juga menjadi contoh-contoh segregasi komunitas kota berdasarkan ras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Di Indonesia lain lagi. Di sini keyakinan beragama pun bisa hadir sebagai identitas lingkungan binaan. Griya Islami dan Vila Ilhami di Tangerang, Telaga Sakinah di Bekasi dan Taman Firdaus di Bogor adalah contoh-contoh perumahan yang membawa nama Islam atau ‘suasana Islami’. Ini unik. Walaupun hidup di negeri dengan 80 persen pemeluk Islam, ternyata eksistensi identitas beragama masih harus dikukuhkan juga melalui fisik religius lingkungan binaannya.<span>  </span>Ruang-ruang di rumah yang menghadap kiblat, sarana perniagaan khusus untuk merek-merek islami adalah beragam contoh ekspresi keagamaan dalam fisik lingkungan binaan versi pengembang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sementara di Amerika atau Eropa, lapisan identitas masyarakat berdasarkan gaya hidup atau orientasi seksual juga banyak terekam. Kelompok dengan gaya hidup seniman atau bohemian ini bisa ditemukan menetap di distrik Soho di London, Greenwich Village di Manhattan, Telegraph di Berkeley atau Garcia di Barcelona. Sementara Oxford Street di Sydney atau distrik Castro di San Francisco sekarang mungkin menjadi lokasi komunitas terbesar dunia bagi kaum gay dan lesbian. Dan untuk mengklaim eksistensi identitas mereka, biasanya acara ‘gay parade’ dijadikan ritual utama tahunan, terutama di San Francisco, Manhattan dan Sydney sebagai agenda politiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Gerakan feminisme pun tidak ketinggalan. Jane Jacobs dan Dolores Hayden memotori gerakan moral untuk meredefinisi kota-kota Amerika yang cenderung patriarki sentris. Jarangnya fasilitas penitipan anak, transportasi urban yang tidak nyaman, desain hunian urban yang tidak ‘defensible’, menyebabkan banyak perempuan kesulitan untuk beraktivitas produktif seperti halnya kaum lelaki. Di sisi lain, mereka juga menganggap sub-urbanisasi berhasil ‘membuang’ kaum perempuan untuk duduk mengurusi rumah tangga semata. Gerakan ini sempat menghentikan program ‘urban renewal’, membuat masyarakatnya mempertanyakan kembali konsep sub-urbanisasi dan mengangkat pentingnya isu feminisme dalam konteks kota di Amerika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">LAPIS demi lapis karakter identitas yang hadir di kota, haruslah dibaca sebagai keanekaragaman yang memperkaya budaya dan memperunik wajah kota. Berbeda bukanlah ancaman. Berbeda adalah pluralitas keunikan. Kerusuhan antar kampung di Jakarta, antar etnis di Kalimantan sampai ‘perang agama’ di Maluku adalah cermin bagaimana narsisisme identitas yang berlebihan hanyalah membawa petaka dan bala. Kita bisa hidup lebih baik dengan mengencangkan toleransi identitas dan menggunakan kota sebagai laboratoriumnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Dan mudah-mudahan pula kita tidak terjerumus dalam pengkotakan identitas dan politik segregasi yang berlebihan, apalagi dibarengi ancaman, seperti yang sempat diteriakkan George Bush secara menggelikan: “you are either with us or againts us!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridwankamil.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridwankamil.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridwankamil.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridwankamil.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridwankamil.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridwankamil.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridwankamil.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridwankamil.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridwankamil.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridwankamil.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=86&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/kota-dalam-belenggu-politik-identitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d204641a48eeb814683d05c691508d8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridwankamil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arogansi &#8216;Gated-community&#8217; di Kota Kita</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/arogansi-gated-community-di-kota-kita/</link>
		<comments>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/arogansi-gated-community-di-kota-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 15:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwankamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[KEHENINGAN subuh itu tiba-tiba pecah. Sunyi senyap pun tersergap oleh riuh rendah. Di awal April lalu, tidur nyenyak para penghuni kompleks perumahan Darmo Satelit di Surabaya itu terusik oleh teriakan dan letupan amarah warga setempat yang berunjuk rasa. Tanpa terduga, warga yang marah kemudian memblokade gerbang masuk dengan cara mengelas portal-portal besi di perumahan mewah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=84&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">KEHENINGAN subuh itu tiba-tiba pecah. Sunyi senyap pun tersergap oleh riuh rendah. Di awal April lalu, tidur nyenyak para penghuni kompleks perumahan Darmo Satelit di Surabaya itu terusik oleh teriakan dan letupan amarah warga setempat yang berunjuk rasa. Tanpa terduga, warga yang marah kemudian memblokade gerbang masuk dengan cara mengelas portal-portal besi di perumahan mewah ini. Portal besi simbol rasa aman dan eksklusif itu tiba-tiba berubah menjadi simbol keterasingan dan keterkungkungan, bak penjara yang menakutkan. Saking paniknya, seorang ibu dan anaknya yang harus ujian sekolah terpaksa sampai menyamar dengan pakaian lusuh untuk bisa menyelinap keluar. Memang ironis, ketika negosiasi dan komunikasi sosial membentur jalan buntu, maka simbol-simbol orang miskin-seperti halnya pakaian lusuh tersebut-kemudian dipersepsikan dan dimanipulasi menjadi satu-satunya media yang bisa menyelamatkan nyali mereka.</p>
<p>Hal yang serupa juga terjadi di Cimanggis Depok. Puluhan warga di sekitar perumahan mewah Vila Pertiwi marah besar dan memprotes keberadaan tembok pembatas yang mengelilingi perumahan ini. Tembok setinggi 2,5 meter ini digugat karena dianggap membuat gelap lorong sirkulasi di perumahan miskin yang ada dibelakangnya. Keberadaannya juga dianggap menyalahi aturan, karena sebelumnya tembok tinggi ini tidak pernah tergambar dalam site plan yang diajukan pihak developer ke Pemda. Namun, pihak mana yang menang, sepertinya bisa dengan mudah diduga.</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Contoh-contoh ironis kontemporer di atas mengilustrasikan maraknya ancaman friksi sosial yang lahir dari fenomena negatif suatu desain perumahan yang lazim diistilahkan dengan sebutan ‘gated community’.<span>  </span>Praktek pembentengan kawasan perumahan dengan tembok tinggi dan akses tunggal ini memang sedikit banyak merefleksikan melemahnya dimensi sensitivitas sosial masyarakat di kota-kota besar. Faktor kepentingan ekonomi developer maupun kesan prestise dan eksklusif penghuni tipe perumahan ini terkadang sering ingin ditonjolkan melebihi kebutuhan rasa aman mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"></p>
<p>Gelisah Andre Gide tidaklah keliru. Jurnalis pemenang Nobel ini sempat mengungkap bahwa bau jurang kemelaratan biasanya paling tajam tercium dan terlihat di kota-kota besar. Di sanalah</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">ekses budaya dan friksi sosial saling sinis berpapasan dan bersentuhan. Di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">sana</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> pulalah libido<br />
sensasi-sensasi sosial pemicu friksi tersebut mengambil tempat. Di Jakarta, tidaklah mustahil jika kehadiran benteng-benteng tinggi yang sering provokatif itu sama banyaknya dengan dengusan perjumpaan antara proletar-proletar miskin lusuh dengan orang-orang necis yang biasa menghabiskan belanja jutaan rupiah dalam sekejap.</p>
<p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">***</p>
<p>Menurut Mary Gail Snyder, sosiolog pengarang buku Fortress </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">America</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">, penyebab lahirnya gejala ini dapat dibagi menjadi beberapa aspek. Pertama adalah aspek prestise, dimana tinggal di kawasan elit berbenteng ini dianggap sebagai media imaji untuk menaikkan status sosial. Kedua adalah aspek ekonomi, dimana dalam sudut pandang developer, kawasan eksklusif gated community dinilai akan mampu menaikkan nilai lahan dan mudah untuk dijual. Sedangkan yang terakhir adalah aspek keterpaksaan, dimana pembentengan ini memang kadang terpaksa dilakukan karena berada di kawasan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> yang sangat rawan kriminalitas.</p>
<p>Nafsu prestise/gengsi melalui arsitektur yang diungkap Snyder ini memang lazimnya banyak dipengaruhi oleh godaan psikologis dan didikan budaya yang membentuk manusianya. Meminjam pemahaman seorang pemikir semiologi, Umberto Eco, wujud arsitektur itu selain menjadi obyek fungsional, juga sering dijadikan manusia sebagai objek atau media simbolik. Dalam perjalanan sejarah budaya manusia, arsitektur memang lazim dimaknai dan dibaca dengan beragam interpretasi melebihi aspek fungsionalitasnya. Seperti halnya menara Eiffel yang dibaca sebagai simbol </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Paris</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">, simbol cinta yang romantis atau beragam simbol lainnya, padahal Gustav Eiffel yang merancangnya hanya punya visi untuk menonjolkan menara ini sebagai simbol utilitas struktur semata.</p>
<p>Oleh karenanya beragam perumahan mewah berbenteng tinggi ataupun rumah-rumah putih bergaya Neo-klasik yang bertaburan di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> dan kota-kota besar lainnya sering dimaknai oleh sebagian masyarakat kita sebagai simbol atau kartu nama dari suatu kelas sosial. Nafsu simbolik ini seringkali menjebak kita sehingga melahirkan persepsi bahwa seolah-olah tidak ada pilihan lain dalam </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">gaya</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> berarsitektur rumah mewah kecuali dengan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">gaya</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> Neo-klasik tersebut. Demikian pula dengan konsep negatif gated-community yang mempersepsikan seolah-olah tidak ada pilihan lain dalam mendesain batas fisik suatu kawasan perumahan kecuali dengan benteng<br />
tinggi lengkap dengan kawat berduri.</p>
<p>Harus diakui bahwa kaya akan harta memang tidaklah selalu berbanding lurus dengan kecerdasan seseorang dalam memahami desain yang baik maupun kearifan dalam membuka keran komunikasi sosial. Atas dasar selera massal dan gejala hedonisme psikologis masyarakat inilah, sebagian developer perumahan berhasil menemukan celah pangsa pasarnya. Beragam konsep pemasaran properti yang menawarkan rumah bergaya negeri dongeng atau replika kota-kota dunia akhirnya membanjiri lingkungan kita. Konsep-konsep simbolik ini dianggap<br />
mampu menempelkan simbol-simbol status sosial serta memberi kepuasan akan ilusi-ilusi psikologis para pembelinya. Dan memang terbukti, konsep-konsep ini laku keras dan diminati oleh sebagian besar warga kota kita.</p>
<p>Beragam fenomena negatif di atas kemudian diperburuk oleh aliran deras dari gelombang kerusuhan sosial politik yang menghantam kota-kota besar Indonesia sejak lengsernya rezim Soeharto dua tahun lalu. Serempak, rumah-rumah berarsitektur benteng pun meningkat dengan tajam baik secara kualitas dan kuantitas. Pagar rumah setinggi 2.5 meter lengkap dengan<br />
pecahan belingnya seolah menjadi pemandangan yang lumrah. Rasa tidak aman yang akut dan ketakutan yang kontinyu ini kemudian melahirkan variasi desain bangunan dan kawasan perumahan yang hiper defensif yang disebut sebagian orang dengan istilah architecture of fear.</p>
<p>Kehadiran fenomena architecture of fear ini kemudian memperumit kondisi sosial budaya kota yang sebenarnya sudah cukup parah dan akhirnya menjadi katalis dari sakitnya manusia-manusia kota secara psikologis. Sakit psikologis yang lazim lahir dari rasa ketakutan yang berlebihan dan bermuara pada tingkat individualitas yang tinggi ini kemudian ditelaah sosiolog Robert Bellah sebagai &#8220;hyper-individualism syndrome&#8221;.</p>
<p>***</p>
<p>FENOMENA-fenomena serupa pun banyak terjadi di negara-negara kapitalis maju seperti halnya Amerika Serikat. Di negeri yang mendewasakan privasi dan individualitas ini, tercatat sudah delapan juta orang bermukim di sekitar 30 ribu perumahan yang mengadopsi konsep negatif gated community tersebut. Walaupun alasan paling lazim adalah faktor keamanan, namun banyak sosiolog yang berargumen bahwa pembentengan ini hanyalah akan menciptakan rasa aman yang bersifat parsial dan merangsang friksi sosial karena tonjolan provokasi eksklusivitasnya.</p>
<p>Giuseppe Sacco, seorang ahli geografi Italia, menyebut fenomena ini sebagai medievalisasi struktur sosial masyarakat, dimana masyarakat cenderung kembali ke pola permukiman klan-klan pada abad pertengahan yang dibatasi oleh benteng-benteng tinggi dan gardu jaga. Semua yang di luar benteng biasanya selalu dianggap sebagai ancaman dan musuh yang harus diwaspadai<br />
dan dicurigai. Namun beberapa tahun ke belakang ini, efek-efek negatif yang sering lahir dari fenomena isolasi sosial ini akhirnya memaksa banyak kota di Amerika Serikat mulai </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">m</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">engeluarkan undang-undang yang melarang pihak developer untuk membentengi proyek-proyek perumahannya tanpa alasan yang krusial.</p>
<p>Menjawab isu di atas, sebagian arsitek dan developer yang tercerahkan sudah mulai </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">m</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">emperkenalkan konsep green buffer dengan mengganti benteng-benteng tinggi tersebut dengan deretan pohon-pohon rindang di batas kawasan, yang kemudian bisa dimanfaatkan juga oleh lingkungan warga setempat. Lebih lanjut, arsitek Peter Calthorpe pun sempat berargumen bahwa pendekatan desain yang sensitif dan kreatif seperti memperbanyak polisi-tidur, sudut<br />
belokan yanag tajam, desain pagar yang transparan, lampu jalan yang memadai ataupun neighborhood watch sebenarnya bisa lebih efektif dalam mewujudkan rasa aman lingkungan. Bahkan sejak tahun &#8216;60-an sosiolog urban terkenal Jane Jacobs sebenarnya sudah mengingatkan bahwa </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">‘</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">eyes on the street</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">’</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> atau kepedulian aktif warga terhadap lingkungan sekelilingnya merupakan pijakan terkuat dan mendasar dalam mewujudkan rasa aman dan ikatan sosial warga.</p>
<p>Seperti yang diungkap sosiolog Amitai Etzzioni dalam konsep</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">’</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> revitalization of communitarianism</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">’</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">, mudah-mudahan kita di Indonesia tidak sampai perlu melakukan sebuah revolusi sosial atau menunggu beberapa generasi hanya demi mengembalikan rasa kekeluargaan dan sensitivitas sosial yang sebenarnya telah menjadi nilai luhur timur bangsa kita.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Ataukah sebaliknya, mungkin kita cukup bersikap pasrah saja karena budaya kekeluargaan yang diajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar itu sebenarnya hanyalah ilusi mewah semata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridwankamil.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridwankamil.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridwankamil.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridwankamil.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridwankamil.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridwankamil.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridwankamil.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridwankamil.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridwankamil.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridwankamil.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=84&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/arogansi-gated-community-di-kota-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d204641a48eeb814683d05c691508d8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridwankamil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hiper-realitas Kota Kita</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/hiper-realitas-kota-kita/</link>
		<comments>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/hiper-realitas-kota-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 04:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwankamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture-Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS, Minggu 3 Maret 2001
&#8220;SUGUHI kami dengan fantasi, dan bawalah kami ke dunia khayal yang terjauh,&#8221; ungkap Robert Thompson, presiden International Pop Culture Association dalam satu kesempatan. Ungkapan Thompson tersebut adalah refleksi dari nafas kehausan sebagian besar masyarakat Barat yang saat ini beramai-ramai mencari lorong dan ruang-ruang pelarian budaya. Fantasi, khayal dan godaan budaya tontonan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=76&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">KOMPAS, Minggu 3 Maret 2001</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">&#8220;SUGUHI kami dengan fantasi, dan bawalah kami ke dunia khayal yang terjauh,&#8221; </span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ungkap Robert Thompson, presiden International Pop Culture Association dalam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">satu kesempatan. Ungkapan Thompson tersebut adalah refleksi dari nafas kehausan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">sebagian besar masyarakat Barat yang saat ini beramai-ramai mencari lorong dan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ruang-ruang pelarian budaya. Fantasi, khayal dan godaan budaya tontonan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">tampaknya telah menjadi norma budaya keseharian sebagian besar masyarakat Barat</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">saat ini.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di sebagian besar kota-kota dunia saat ini, gelombang theme-park dalam desain </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">urban dan arsitektur tampaknya sedang menghipnotis perilaku budaya </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">massa</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. 30</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">hektar artefak sejarah dinasti Cina ataupun situs kematian Isa Almasih di</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jerusalem kuno ternyata berhasil direkonstruksi ulang seperti aslinya di</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Florida</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, Amerika Serikat. Skala satu banding satu </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Venesia pun bisa</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dinikmati di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Las Vegas</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. Kemeriahan Disneyland dan Universal Studios ternyata sudah bisa diekspor ke Eropa, Jepang dan Cina. Di Jakarta dan Kota Ahmedabad di</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">India, beragam legenda tujuh keajaiban dunia bisa dihadirkan sebagai tema dalam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">keseharian kompleks perumahan urban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">***</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">FENOMENA urbanitas kontemporer masyarakat metropolis tampaknya semakin kompleks </span></span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">saja. Hegemoni pisau konsumerisme dan budaya </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">massa</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> di era kapitalisme lanjut</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(late capitalism) ini begitu dalamnya menusuk segala sudut kebudayaan, tidak</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">terkecuali urbanisme dan arsitektur. Lahirnya fenomena theme-park urbanism</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">adalah salah satu contohnya, dimana beragam artefak fisik yang lepas dari</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">konteks ruang geografis dan waktu, dengan begitu mudah dipinjam, dilipat,direproduksi dan diduplikasi dengan sempurna menjadi komoditas. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ruang, waktu</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dan sejarah yang dibekukan ini bahkan sering terlihat lebih nyata, lebih</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">surealis dan lebih dramatis dari aslinya.<span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Contoh-contoh fenomena di atas memang paling mudah dilihat dan diselami di </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Amerika Serikat. Pemikir kebudayaan Jean Baudrillard menyebut Amerika sebagai</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">tempat kelahiran &#8216;budaya tanpa referensi&#8217; dan panggung &#8216;tour de force&#8217;</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">konsumerisme massa. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Disneyland</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, Universal Studio, permukiman Celebration dan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">tentu saja </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Las Vegas</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> kemudian menjadi contoh-contoh </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">b</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">agaimana theme-park</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">urbanism ini hadir dan berhasil mensimulasikan fiksi dan khayal kedalam kehidupan urbanitas nyata masyarakat Amerika Serikat. Ia kemudian menjadi media</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dimana perbedaan fakta dengan fiksi, media dengan esensi seringkali menjadi</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">tidak penting lagi.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan menguapnya batas ruang dan waktu di era teknologi informasi dan </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">globalisasi saat ini, kepingan-kepingan &#8216;budaya tanpa referensi&#8217; tersebut</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">akhirnya terbang, berjatuhan dan hadir juga di depan hidung kita. Ia kemudian</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">hadir di berbagai tempat dalam berbagai bentuk. Di Jakarta, theme-park urbanism</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ini ternyata tidak hanya digagas sebagai sarana hiburan semata seperti Dunia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Fantasi di Ancol. Namun secara laten, tampaknya ada sebagian dari kita yang</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">sedang bereksperimen membawa misi sindrom Las Vegas ini ke dalam keseharian</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">urbanitas nyata Kota Jakarta.<span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di Jakarta, perumahan yang bersebelahan dengan artefak Borobudur dan Colloseum </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Roma kuno ternyata bisa dihadirkan berbarengan dengan munculnya perumahan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">berarsitektur kastil abad pertengahan Eropa, bersuasana Kota Kyoto atau Paris</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">sebagai tawaran tempat berhuni sekaligus berbudaya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ini adalah pecahan cermin</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dari satu kondisi kontemporer, dimana masyarakat berhasil dirayu untuk menerima</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">citra sebagai sebuah realitas nyata, walaupun disadari bahwa yang terjadi</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">hanyalah pemalsuan kebenaran dan dramatisasi realitas.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">***</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Fenomena ini juga kemudian menjadi ajang perdebatan beragam interpretasi makna</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(polysemy). Interpretasi antara sebuah kecerdasan marketing properti, ataukah</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">sebuah wajah kebodohan dan kemunduran etika yang berdampak pada kemalasan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">apresiasi budaya di masyarakat. Namun lebih jauh, sosiolog Patrice Noviant</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">berpendapat bahwa hal ini bisa terjadi karena masyarakat konsumer dewasa ini</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">memang haus dalam mengkonsumsi segala sesuatu, tidak hanya objek nyata tapi</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">juga objek tanda (object of sign). Syaraf psikologis mereka juga menurutnya mau dimanja untuk menerima kehadiran certain comfortable of false consciousness</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dalam menikmati ruang-ruang arsitektur di lingkungan sekelilingnya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hadirnya Kota Paris di Jakarta atau Jerusalem kuno di Florida, juga menjadi </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">teater tempat pencerapan makna &#8217;sense of place&#8217; bisa dibuat berantakan.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Elemen-elemen pembentuk konsepsi &#8216;place&#8217; seperti ruang fisik sebagai latar</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(background), interaksi positif manusia dalam ruang tersebut (action) dan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">interpretasi makna (meaning) akhirnya menjadi absurd.</span></p>
<p> <span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ia menjebak kita untuk </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">mencampuradukkan esensi ruang realitas dengan ruang palsu (pseudo place).<span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Beragam absurditas yang kerap lahir dari fenomena-fenomena diatas, memang mau t</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dak mau mendorong syaraf kesadaran atau consciousness kita untuk selalu siap</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">berakrobat dalam arus simulasi-simulasi realitas. Berakrobat dalam kemeriahan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">diktum baru &#8216;form follows fictions&#8217;. Berakrobat dalam era dimana pasangan fiksi</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dan estetika kerap meluluhkan pasangan fakta dan etika. Sebuah era baru, era</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">hiper-realitas.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">***</span></p>
<p> A<span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ll that is real becomes simulation.&#8221;</span></p>
<div><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></p>
<div><span style="font-family:Arial;"> </span></div>
<p></span></div>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"> </p>
<p></span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ungkapan diatas adalah peringatan Jean Baudrillard, pemikir kebudayaan pa</span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">scamodernisme, yang menyatakan bahwa sebagian besar kebudayaan kontemporer</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dewasa ini hanyalah berupa representasi dari dunia simulasi (simulation).</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Simulasi adalah rekayasa beragam model realitas yang tidak memiliki konteks,</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">referensi maupun asal-usul. Yasraf Amir Pilliang menyebutnya sebagai</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;kenyataan&#8221; (real) yang ditutupi oleh &#8220;tanda kenyataan&#8221; (sign of the real).</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Karena itu, proses simulasi dalam kebudayaan ini biasanya melahirkan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">realitas-realitas yang melampaui batas-batas konvensional (transgression) yang</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">lazim disebut dengan istilah hiper-realitas.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oleh Baudrillard ruang-ruang tempat berlangsungnya proses simulasi dalam </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">silang-sengkarut nilai, realitas, tanda dan citra tersebut kemudian</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">diistilahkan sebagai simulacrum atau simulacra. Ia berpendapat, bahwa sebagian</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">besar realitas-realitas zaman sekarang sebenarnya sudah tidak punya referensi</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">lagi kecuali simulacra itu sendiri. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Simulacra juga sering berperan sebagai</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">katalis dalam berkembangnya eklektikisme nilai maupun kolase pecahan-pecahan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">realitas. Berbagai artefak arsitektur dan desain urban seperti halnya</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Disneyland, Las Vegas, Colloseum di Jakarta atau replika Jerusalem di Florida</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">yang dibahas di atas, memang akhirnya bisa dipahami melalui analisa simulasi</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dan simulcara yang digagas Baudrillard.<span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tanpa kita peduli atau sadari, sebenarnya proses-proses simulasi di simulacrum </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">of space mungkin sudah menjadi norma di kota-kota besar di Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Menjamurnya pusat perbelanjaan atau shopping center di kota-kota besar di</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Indonesia, seperti halnya Mal Pondok Indah dan Plaza Senayan adalah contoh</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">simulasi bagaimana daya tarik realitas urbanisme sudah kalah oleh konsumerisme.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berbelanja di shopping center ini pada dasarnya adalah simulasi pengalaman empirik berbelanja dan jalan-jalan kaum urban (strolling flaneur) di</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ruang-ruang kota yang dilipat, disatukan dan diminiaturkan ke dalam satu ruang</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">atau bangunan. Sebuah simulation of urbanity dimana shopping center bertindak </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">sebagai ruang simulacrum-nya.</span></p>
<div><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">***</span></span></div>
<div><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Proyek Ancol Walk, yang rencananya akan dibangun di Jakarta dimana konsepnya</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">meniru proyek City Walk di Universal Studios di Amerika Serikat, mungkin</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">menjadi contoh simulasi Baudrillard dalam arsitektur dan desain urban yang</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">tepat. Di proyek ini seperti halnya di Universal Studios, kita diskenariokan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dan disimulasikan untuk seolah-olah sedang berjalan, beraktivitas dan menyelami</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">beragam bangunan dan ruang-ruang kota yang sebenarnya semu.Konsekuensi berada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">di ruang-ruang simulasi atau simulacra ini, pengunjung biasanya dipaksa dan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">disterilkan perilakunya (</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">controlled</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> behaviour) agar sesuai dengan kategori</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">perilaku urban versi mereka, yang sebenarnya tidak real dan alamiah. Sebuah</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">realitas fasisme baru dalam urbanitas kita.</span></div>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jika kebetulan berada di Singapura, cobalah mampir ke Bugis Junction. Di proyek </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ini, tiga buah persimpangan jalan yang terdiri dari deretan ruko tua</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dipreservasi dan dikonversi menjadi sebuah shopping center modern yang sukses.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Uniknya, seluruh badan jalan dipayungi oleh struktur skylight kaca, lengkap</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dengan AC pendinginnya. Di sini, pengunjung disimulasikan untuk berjalan dan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">berbelanja di deretan ruko tua yang secara fisik memang asli, namun dalam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">suasana yang berbeda, lebih nyaman dengan penghawaan udara dan lebih dramatis</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dari aslinya. Disini kita dibawa ke ruang dalam yang sebenarnya adalah ruang</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">luar, dan sebaliknya ruang luar yang sebenarnya ruang dalam.<span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jika ditarik ke tataran yang lebih luas, sebagian orang menganggap bahwa dunia </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">simulasi yang bersifat hiper-realitas ini adalah representasi wajah kebudayaan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">pascamodern, dimana budaya massa, budaya populer, konsumerisme dan nilai tanda</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">menjadi sangat dominan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di luar perdebatan apakah pascamodernisme ini adalah</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">pengganti ataukah sekedar perpanjangan proyek modernisme yang belum usai,</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">fenomena-fenomena di diatas setidaknya mirip dengan beberapa ciri budaya</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">pascamodern yang diungkap sosiolog Ariel Heryanto: menguatnya sistem tanda</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ketimbang makna, emosi ketimbang rasio, media ketimbang isi, permainan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ketimbang keseriusan, fiksi ketimbang fakta dan estetika ketimbang etika.<span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Karena itulah Baudrillard kemudian memetakan pascamodernisme sebagai kaca mata </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">pembacaan realitas dan metode analisa kritis kebudayaan kontemporer.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Motivasi-motivasi </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">r</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ealitas pascamodernisme ini sendiri kemudian disinyalir</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">sebagian pihak sebagai konsekuensi dari kuatnya hegemoni sistem kapitalisme</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">lanjut (late capitalism), yakni kapitalisme yang mengalami mutasi dari sistem</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kapitalisme awal. Kapitalisme yang menjadikan faktor konsumsi sebagai</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">determinan utama ketimbang produksi. Kapitalisme yang berusaha mengglobalkan konsumerisme, budaya massa dan budaya tontonan melalui jaringan informasi</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">terkini dan perusahaan multinasional sebagai agen-agennya. Kapitalisme yang</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">secara laten berhasil menjadi sutradara besar yang mampu menyetir dan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">menskenariokan perilaku budaya masyarakat dewasa ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">***</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oleh karenanya, sepakat atau tidak, fenomena hiper-realitas kota dan arsitektur</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ini tampaknya telah menjadi bagian dari paras kebudayaan kontemporer dunia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">dewasa ini. Di lain pihak, beragam skenario kebudayaan arahan sutradara</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">kapitalisme lanjut lainnya tampaknya akan terus tampil menggoda dan menguras</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">stamina psikologis kita. Pilihannya hanyalah antara diam dan menyerah kalah,</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">atau sebaliknya bersiaga menjaga stamina untuk tetap bisa mencari alternatif-alternatif budaya berkota yang lebih sehat dan lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebuah tugas yang tidak ringan memang.</span></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p> </p>
<div><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></span></div>
<div><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></span></div>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </p>
<p></span></span></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridwankamil.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridwankamil.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridwankamil.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridwankamil.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridwankamil.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridwankamil.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridwankamil.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridwankamil.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridwankamil.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridwankamil.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=76&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/hiper-realitas-kota-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d204641a48eeb814683d05c691508d8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridwankamil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tragedi Dunia dalam Lensa Semiotika Arsitektur</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/tragedi-dunia-dalam-lensa-semiotika-arsitektur/</link>
		<comments>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/tragedi-dunia-dalam-lensa-semiotika-arsitektur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 03:59:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwankamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture-Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Kompas, januari 2002
 
SELASA pagi itu dunia terhenyak secara beruntun. Di New York, menara kembar World Trade Center runtuh. Di Virginia, gedung segilima Pentagon babak belur dihajar. Di hari kesebelas bulan kesembilan lalu, Amerika Serikat pun berduka. “Ini kejahatan terbesar terhadap kebebasan dan peradaban manusia,” geram George Bush dari Gedung Putih. Namun ironisnya, reaksi dunia ternyata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=73&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kompas, januari 2002</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">SELASA pagi itu dunia terhenyak secara beruntun. Di New York, menara kembar </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">World</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Trade</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Center</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> runtuh. Di Virginia, gedung segilima Pentagon babak belur dihajar. Di hari kesebelas bulan kesembilan lalu, Amerika Serikat pun berduka. “Ini kejahatan terbesar terhadap kebebasan dan peradaban manusia,” geram George Bush dari Gedung Putih. Namun ironisnya, reaksi dunia ternyata tidak satu suara. “Ah.., itu semua adalah pelajaran buat kesombongan Amerika,” ketus sopir taksi di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Beijing</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Lantas pada sisi mana kita akan bersikap? Bukankah hilangnya ribuan nyawa di debu reruntuhan itu adalah kesedihan universal? Mungkinkah reaksi dunia akan seragam jika yang dihancurkan ternyata sebuah rumah sakit? Mungkin saja. Tapi kenyataannya, reaksi dunia memang terbelah dua. Bahkan untuk melabeli pelaku dengan sebutan ‘teroris’ pun dunia ternyata sering tidak sepakat.<span>  </span>Sebutan ‘teroris’ di belahan dunia sebelah sini, bisa berarti ‘pahlawan’ atau ‘pejuang’ di belahan dunia yang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Di selasa hitam itu para teroris tampaknya mafhum benar dalam memilih target dan estimasi dampak psikologis dari aksinya. Mereka memilih menara kembar WTC dan Pentagon. Mereka paham bahwa tidak ada yang lebih mewakili kapitalisme ekonomi Amerika Serikat selain downtown </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Manhattan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> beserta menara kembarnya. Juga tidak ada yang lebih bisa merefleksikan simbol kekuatan -mungkin kesombongan- militer Amerika Serikat selain benteng segilima Pentagon tersebut. Pendek kata, sasaran yang dipilih adalah simbol-simbol fisik yang merepresentasikan nilai dari segugus mitos raksasa bernama Amerika Serikat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Karenanya tidak heran jika reaksi terhadap<span>  </span>tragedi ini saling beroposisi. Seorang pengusaha di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Bandung</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> mengaku punya hobi baru menonton ulang rekaman runtuhnya menara kembar WTC ini. “</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> kesenangan tersendiri menonton rontoknya kesombongan Amerika Serikat,” ungkapnya. Kontras dengan kesedihan Elizabeth McLaughlin dari Pentham, New Yok yang kehilangan suaminya di pagi itu.<span>  </span>Ia selalu tersedu-sedan setiap menyaksikan rekaman ulang video tersebut. “Hidup kami ikut hilang di reruntuhan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">sana</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">,” lirihnya dengan redup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">MENGAPA menara kembar WTC dan Pentagon?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Arsitektur, seperti halnya kata dan angka, sering dijadikan masyarakat dalam satu gugus budaya sebagai media untuk berkomunikasi atau menjadi simbol sebuah nilai.<span>  </span>Menara kembar WTC yang dirancang arsitek Minoru Yamasaki ini, di mata warga Amerika Serikat adalah simbol suatu kebanggaan dan keberhasilan. “Mereka dulu dibangun untuk menjadi simbol kejayaan ekonomi Amerika dalam seratus tahun ke depan,” jelas Larry Silverstein, properti developer menara kembar WTC ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Namun tampaknya tidak semua berpendapat sama. Di sebagian dunia ketiga, menara kembar ini malah dibaca sebagai simbol dari ketidakadilan dan kesombongan kapitalisme ekonomi Amerika Serikat. Perbedaan interpretasi makna tersebut kemudian bermuara pada justifikasi subyektif para ‘musuh’ Amerika Serikat untuk mencoba berulang kali menghancurkan simbol sekaligus<span>  </span>nilai yang mereka benci setengah mati ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Perbedaan ‘membaca dunia’ dan interpretasi makna ini sempat ditelaah melalui pendekatan semiotika. Semiotika sendiri adalah ilmu tentang tanda (sign). Namun ia juga adalah sebuah proses mental. Proses ketika kita mencoba menemukan makna (meaning) suatu obyek melalui rekonstruksi dan kombinasi tanda-tanda. Tanda yang kita rekonstruksi dan pinjam tersebut dapat berupa sebaris kata, sejumlah angka, selembar foto, sekelebat bahasa tubuh, sedenting bunyi ataupun sebuah karya arsitektur.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Seperti juga kata hijau. Makna kata hijau yang awalnya kita sepakati untuk menjelaskan satu dari tujuh spektrum warna, kini sudah melebar menjadi ragam makna yang luas. Dengan satu kesepakatan kultural, hijau kemudian bisa berarti identitas Islam, bisa pula bermakna belum matang alias muda. Hijau juga bisa berarti karakter fisik sehelai daun atau bahkan identitas sekelompok tentara. Cara pembacaan seperti ini juga sering terjadi pada karya arsitektur. Melalui kacamata visual semiotics atau semiotika visual, identitas sebuah karya arsitektur pun akhirnya bisa melar dan mengalir<span>  </span>menggelontorkan makna yang ragam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Dilihat dari esensinya, Taj Mahal di India mungkin hanyalah sebuah istana untuk menaungi sepetak mausoleum. Masjid Babri di India yang sudah hancur lebur itu mungkin hanyalah sebuah tempat ibadah. Dan gedung MPR/DPR di Jakarta juga mungkin hanyalah sebuah gedung rapat atau ruang sidang. Namun akibat dekapan mitos, bius sebuah impian, dengus kebencian atau gelegar peristiwa bersejarahlah yang kemudian menyihir mereka menjadi sebuah simbol nilai, melebihi esensi fungsinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">“Taj Mahal adalah cinta,”<span>  </span>ungkap Raja Syah Jahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">“Kubah ini adalah simbol agresi Islam di lokasi munculnya Dewa Krisna”, teriak seorang Hindu<span>  </span>fanatik sambil memalu remuk kubah Masjid </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Babri di Ayodhya</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">India</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">“Gedung DPR ini adalah simbol demokrasi. Ia adalah rumah rakyat, rumah anda semua!..,” teriak basa-basi seorang anggota DPR dihadapan ribuan buruh pendemo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">DI AWAL abad 20 lampau, Ferdinand de Saussure, pemikir semiotika strukturalis Perancis, memperkenalkan lebih lanjut konsepsi penanda (signifier) dan petanda (signified) dalam proses pencerapan sebuah makna secara semiotika. Esensi sebuah meja, pakaian, gedung, bukit ataupun ekspresi wajah adalah barisan contoh dari signifier. Sementara konsepsi fungsi meja, makna pakaian kebaya, ide filosofis sebuah karya arsitektur, makna kosmologis sebuah bukit atau kerlingan mata yang diartikan sebagai kegenitan, adalah deretan contoh dari signified.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Namun konsepsi di atas tidak secara mendalam membahas mengapa tanda yang sama bisa bermakna ganda atau bahkan berlawanan, seperti perbedaan interpretasi makna menara kembar WTC tadi. Pertanyaan ini kemudian dijawab Roland Barthes yang menyempurnakan pemikiran Saussure tersebut dengan konsepnya tentang adanya proses denotatif dan konotatif dalam pencerapan makna. Denotatif adalah hal yang tersurat, atau esensi suatu obyek apa adanya. Sementara konotatif adalah interpretasi makna yang dipengaruhi oleh kondisi emosional, sosial dan mental budaya si pengamat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Secara denotatif, sebuah rok adalah kain tekstil untuk menutupi bagian tubuh dari pinggang kebawah. Sebagian dari kita kemudian memaknainya secara konotatif sebagai citra wanita. Namun tidak demikian halnya di Skotlandia. Di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">sana</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> para laki-laki bangsawan mengenakan rok atau Scotish Kilt justru sebagai atribut kebanggaan para pria highlander dan identitas klan mereka. Itulah mengapa, konsepsi makna suatu tanda atau signified tadi hanya mudah dikomunikasikan dalam wadah kultural yang sama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Aspek kultural juga sangat kental pengaruhnya dalam pencerapan makna konotatif dalam arsitektur. Pernah suatu ketika mahasiswa baru ITB yang datang dari </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> kecil di Jawa Tengah terkecoh dengan arsitektur Masjid Salman yang memilki kubah terbalik.<span>  </span>Ia, yang kebingungan, kemudian malah memasuki asrama mahasiwa yang ia kira sebagai masjid, karena bentuk atapnya yang limas berundak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Misinterpretasi ini terjadi, karena umumnya masyarakat Muslim Indonesia terbiasa mengasosiasikan bangunan beratap kubah atau limas berundak sebagai masjid. Saking kentalnya interpretasi makna ini, sering kita temui kubah-kubah alumunium –sebagai simbol masjid- bergeletakan dan dijual eceran di pinggiran jalan. Akibatnya, saat persepsi makna dan logika budaya ini dibalik, seperti kasus Masjid Salman, ternyata tidak semua khalayak mampu menangkap makna barunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Selain latar kultural, situasi sosial dan emosional pengamat juga menjadi penting. Bahkan sangat mudah untuk dimanipulasi. Secara denotatif, gedung Wisma Dharmala di Jakarta, yang sempat dikagumi di tahun 80-an karena eksperimen idiom arsitektur tropisnya, adalah gedung perkantoran. Namun seorang fotografer pernah memotretnya dari lokasi dan sudut yang tidak lazim. Lensanya ia kontraskan dengan menempatkan pemukiman kumuh sebagai fokus latar depannya. Seketika, foto itu pun menjadi multi makna. Akibatnya, ketimbang mendiskusikan desain arsitektur, sebagian pembaca malah secara sinis mengomentarinya sebagai simbol tipikal modernisasi negara ketiga yang sering berdiri kontras dan berpelukan dengan wajah kemiskinan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Manipulasi intensional makna konotatif ini pula sempat ditelaah Edward Said, dalam konteks bagaimana Islam dipandang oleh dunia. Dalam sampul buku Covering Islam karya Said itu, terpampang foto seorang fotografer sedang membidik seorang muslim yang tengah garang mengokang senjata. Foto ini dipakai sebagai sindiran, bahwa kebenaran dan realita tentang Islam, seringkali dengan mudah dimanipulasi dan difokuskan sisi radikalnya oleh media Barat. Seperti yang disinyalir juga oleh Milan Kundera, sastrawan Cekoslovakia, kekuatan image atau imagologi akhirnya seringkali menelikung realita. Karenanya John Fiske, seorang pemerhati semiotika, menjelaskan bahwa makna denotatif adalah “what is photographed” dan makna konotatif adalah “how it is photographed”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">DALAM konteks geografis dan kota, pemahaman sense of place juga lahir ketika manusia bersama-sama menyepakati untuk menorehkan makna khusus terhadap suatu ruang. Alun-alun menjadi penting karena disepakati sebagai pusat geografis suatu kota. Istana Yogyakarta menjadi sakral karena disepakati makna kosmologisnya. Yerusalem menjadi suci karena disepakati makna religius dan historisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Namun tanpa kesepakatan makna bersama atau communal meaning, maka ruang-ruang tadi hanyalah sepetak entitas tiga dimensi. Ia kemudian terreduksi menjadi sebuah space saja. Sebuah dimensi dengan panjang, lebar dan tinggi belaka. Dan tanpa kesepakatan tadi, manusia terbukti sering<span>  </span>berkelahi dan bersengketa akan makna suatu obyek atau ruang geografis yang sama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kota suci Yerusalem Al-Quds adalah kasus klasik. Sebuah titik geografis silang sengketa berabad-abad dari tiga agama samawi dunia. Terutama di sebuah bukit bernama Bukit Moriah. Bukit tempat Ibrahim mengurbankan Ismail ini, selalu diklaim kaum Yahudi sebagai tempat suci mereka. Di sini, menurut mereka, adalah lokasi tempat berulangkalinya dibangun dua kuil suci umat Yahudi, termasuk Istana Sulaeman. Yang pertama dihancurkan Raja Persia Nebukadnezar di tahun 587 SM dan yang kedua dibakar Jenderal Romawi Titus di tahun 70 M. Puing yang tersisa hanyalah sepetak tembok batu di sisi bukit, dikenal sebagai Tembok Ratapan atau Wailing Wall, yang kemudian dijadikan tempat ibadah dan ziarah tersuci umat Yahudi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Namun di bukit itu pula, Masjid Umar atau Dome of the Rock yang dibangun Kalifah Abdul Malik di tahun 684-690 M berdiri tegak berdekatan dengan Masjidil Aqsa. Sementara tak jauh dari bukit Moriah, berdiri juga Gereja Makam Suci atau the Holy Sepulchure yang dijadikan tempat ziarah suci kaum Kristiani. Gereja ini dibangun di tahun 335 M atas perintah Ratu Helena, ibu dari Kaisar Constantine, di lokasi yang dipercayainya sebagai tempat hari-hari terakhir Isa Almasih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Akibatnya sungguh dahsyat. Selama berabad-abad<span>  </span>puluhan ribu nyawa kaum Yahudi, Kristiani dan Muslim pernah hilang dalam proses perebutan klaim makna religius dan hak politik atas kota Yerusalem dan bukit Moriah tersebut. Dari mulai Perang Salib di tahun 1099-1187 sampai Perang Enam Hari di tahun 1967. Dari mulai Raja Herod, Iskandar yang Agung, Jenderal Titus, Saladin, Raja Richard sampai tokoh kontroversial Ariel Sharon, sempat mewarnai konflik berkepanjangan atas tanah dan ruang geografis yang multi makna ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Jerih kelelahan demi kelelahan dari pertentangan antar umat manusia di atas, membawa kita pada dahaga pertanyaan, apakah arti sebuah kebenaran? Dimanakah kebenaran ketika putih disini bisa menjadi hitam di sana? Dicaci sebagai teroris sebelah sini, ternyata dieluk-elukan sebagai pejuang di sebelah sana? Kehausan ini akhirnya menoreh pada garis kesimpulan sementara. Bahwa pada akhirnya, kebenaran-kebenaran versi manusia, seringkali hanyalah sebuah temali kesepakatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Dunia ini diciptakan Tuhan sedemikian indahnya. Namun seringkali kerusakan alam dan pertentangan peradaban terjadi hanya karena umat manusia tidak pernah sepakat dalam cara memandang dan memaknai dunia. Karena itu di sisi lain, semiotika mengajarkan sebuah kearifan. Kearifan tentang kemungkinan hadirnya makna-makna lain dari nilai-nilai yang selama ini kita yakini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB">Setetes kearifan sederhana. Kearifan bertoleransi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridwankamil.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridwankamil.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridwankamil.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridwankamil.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridwankamil.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridwankamil.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridwankamil.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridwankamil.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridwankamil.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridwankamil.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=73&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/tragedi-dunia-dalam-lensa-semiotika-arsitektur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d204641a48eeb814683d05c691508d8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridwankamil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memimpikan Bandung menjadi Kota Dunia</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/memimpikan-bandung-menjadi-kota-dunia/</link>
		<comments>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/memimpikan-bandung-menjadi-kota-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 03:42:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwankamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bandung + Creativity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[
 Pikiran Rakyat, April 2008


”Saya benci Bandung”, kata seorang  pengusaha Jakarta di Sabtu sore. ”Semrawut, makin panas, sering macet dan sistem lalu lintasnya sering berubah, membingungkan”.  Itulah sekelumit citra negatif yang sering diutarakan oleh sebagian pelancong dari luar kota. Terutama ketika mereka datang di akhir pekan.
 
”Kami menyukai Bandung”, ujar beberapa pelancong yang dijumpai di jalan Dago. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=69&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> Pikiran Rakyat, April 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">”Saya benci Bandung”, kata seorang<span>  </span>pengusaha Jakarta di Sabtu sore. ”Semrawut, makin panas, sering macet dan sistem lalu lintasnya sering berubah, membingungkan”. <span> </span>Itulah sekelumit citra negatif yang sering diutarakan oleh sebagian pelancong dari luar kota. Terutama ketika mereka datang di akhir pekan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">”Kami menyukai Bandung”, ujar beberapa pelancong yang dijumpai di jalan Dago. ”Kotanya masih teduh, sekolahnya bagus-bagus, dekat dengan<span>  </span>suasana pegunungan, anak-anak mudanya kreatif dan wisata belanjanya menyenangkan”.<span>  </span>Cukup melegakan mendengar pujian mereka tentang Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Itulah yang terjadi. Bandung adalah paradoks. Kadang dirindu. Kadang dibenci. Bandung disukai karena suasana santainya, namun digerutui karena kemacetannya. Didatangi karena kualitas universitasnya, namun ditinggalkan karena minim peluang berkarirnya. Dipuji karena banyak ahli kota dan arsiteknya, namun diejeki karena minimnya inovasi dan kesemrawutan kotanya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Bandung adalah persilangan sebuah kota yang kaya dengan arsitektur bersejarah dengan lingkungan alam Parahyangan yang menenangkan hati. Di Bandung <span> </span>banyaknya perguruan tinggi yang didukung oleh stabilitas sosial yang terbuka dan kondusif adalah konteks unik yang melahirkan budaya kosmopolitan global yang berbeda dengan konteks kental religius ala Bali atau konteks patuh tradisi alaYogya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Kosmopolitan dan kontemporer adalah karakter khas Bandung. Irisan dan persilangan unik khas Bandung ini melahirkan banyak peluang, terutama yang berkaitan dengan kekuatan ekonomi yang lahir dari tingginya kreativitas dan inovasi generasi mudanya. Ekonomi yang lahir dari kekuatan berpikir. Dari kekuatan ’human capital’ atau yang sering disebut dengan istilah’creative economy’. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">***</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Di tatar Parahyangan ini banyak tersembunyi kegiatan-kegiatan ekonomi berbasis inovasi dan kreativitas tanpa banyak kita hapal. Di Bandung terdapat pusat-pusat riset teknologi seperti LIPI, Pusat mikroelektronika, RISTI, MDIC, Eckman Center, Batan dan Microsoft Innovation Center at ITB. Di kota kreatif ini pula terdapat perusahaan teknologi seperti Omedata semikonduktor, LEN, INTI, CMI telkom, Harif Tunggal telekomunikasi, Daya Engineering, Quasar telekom dan<span>  </span>PT Dirgantara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Di Bandung pula, peluang-peluang ekonomi kreatif berbasis gaya hidup atau<em> lifestyle</em> tumbuh subur.<span>  </span>Factory Outlet hadir dengan omset milyaran rupiah perbulan. Industri Distro (distribution store) anak muda Bandung<span>  </span>yang kosmopolitan<span>  </span><span> </span>dengan desain <em>clothing</em> unik tumbuh dengan super cepat dan menjalar ke kota-kota lainnya. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Tidak heran, suasana kreatif dan alam yang unik di tatar Parahyangan ini membuat industri musik<span>  </span>pun berkembang. Grup musik terkenal seperti Peterpan, Seurieus, Mocca, Laluna, PAS, Rif, Elfa, Krakatau hadir berbarengan dengan belasan grup musik Indie seperti Changcuters, Burgerkill, Besides, Pure Saturday dan komunitas underground musik yang produktif di Ujung Berung. Galeri-galeri seni kelas internasional juga tumbuh pesat di bandung, seperti Galeri Barli, Galeri Sumarja, Galeri Jehan, Galeri Padi, dan Selasar Sunaryo yang aktif dengan kegiatan seni internasionalnya sebagai agenda agenda rutinnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Di dunia arsitektur, progresivitas berpikir dan desain eksperimental arsitek-arsitek Bandung <span> </span>cukup jauh meninggalkan kota-kota lainnya. 70 persen-an pemenang sayembara nasional arsitektur selalu dari Bandung. Prestasi ini terjadi karena suasana komunitas, dialog dan iklim akademiknya yang kondusif dan inspiratif. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="DE">Tahun 2007 URBANE menjadi satu-satunya firma kecil dari Bandung yang masuk 10 besar arsitek Indonesia verisi BCI awards, yang mengukur kerberhasilan firma arsitektur dari kuantitas nilai bisnisnya. Bahkan pemenang pertamaYoung Design Entrepreneur of the Year dari British Council, dimenangkan oleh warga Bandung 2 tahun beruturut-turut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">***</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="DE">Di sisi lain, salah satu syarat menjadi kota kelas dunia adalah kualitas infrastruktur fisik kota dan ruang publiknya. Inilah kelemahan kota Bandung. Tidak ada kemajuan yang berarti dari segi pembanguan fisik dan sarana kota kecuali jembatan Pasupati. Sarana kota seperti Stadion Siliwangi yang sudah uzur, taman-taman kota yang tidak jelas konsepnya, Gelora Saparua yang sudah tidak layak pakai, adalah contoh-contoh buruknya. Dari sudut pandang prasarana, tragedi konser musik di Braga menjadi salah satu bukti, bagaimana aspirasi dan antusiasme kegiatan ekonomi kreatif tidak terwadahi oleh tempat yang layak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="DE">Pemerintah kota dan propinsi seharusnya bisa melihat bagaimana investasi di fasilitas publik dengan arsitektur progresif bisa mengangkat ekonomi kota melompat ke level internasional. Seperti halnya kehadiran Museum Guggenheim di kota Bilbao Spanyol yang berdiri di bekas stasiun yang terbengkalai. Karena publikasi yang mendunia, sekitar empat jutaan pelancong datang ke kota tersebut hanya untuk melihat keunikan museum yang dirancang oleh superstar arsitek Frank Gehry. Jutaan pelancong itulah dalam 4 tahun yang membawa devisa 14 trilyun rupiah ke kota industri di Spanyol ini.<span>  </span>Kesimpulannya, arsitektur publik yang baik dan progresif, seperti halnya Esplanade di Singapura atau Sydney Opera House di Australia, mampu menyumbangkan devisa yang besar bagi ekonomi kotanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="DE">Di sisi lain, pemerintah seringkali tidak mampu menahan pihak-pihak swasta yang tidak bertanggung jawab untuk berinvestasi namun merusak fisik kota Bandung atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi. <span> </span>Rencana Babakan Siliwangi yang akan dikomersilkan, <span> </span>kawasan Punclut yang digerus, beberapa Factory Outlet di Dago yang merusak karakter arsitektur Art Deco dan melanggar sempadan adalah contoh-contohnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="DE">Karenanya jangan heran jika banyak orang-orang pintar pergi dari Bandung setelah mereka lulus. Mereka hanya menumpang lewat. Mereka tidak melihat iklim kota Bandung dan sarana kotanya cukup kondusif untuk melakukan inovasi-inovasi dan bisnis yang selayaknya.<span>  </span>Sementara otak-otak kreatif yang tinggal dan berbisnis di Bandung hanya bisa<span>  </span>menggerutu dan bertahan semampunya tanpa bantuan dan dukungan yang signifikan dari pemerintah, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">***</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Kekuatan Bandung terbesar ada pada aset kualitas manusianya. Inilah kekuatan Bandung di masa depan.<span>  </span>Inilah tiket bersaing global. Jangan sampai ribuan orang-orang kreatif dan pintar ini selalu pergi ke Jakarta atau Singapura setelah mereka lulus sekolah di Bandung, Mereka harus diakomodasi untuk berbisnis dan berkarir di Bandung. Mereka harus distimulasi untuk mencintai kota Bandung.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Karenanya pemerintah harus berinvestasi dengan 2 cara. Pertama, investasi dalam bentuk dukungan instrumen kebijakan ekonomi yang kondusif dan jangka panjang. <span> </span>Instrumen ini untuk mendorong investasi ekonomi kreatif mengalir dan eksis di Bandung. Sehingga orang-orang kreatif dan pintar dari luar kota pun mau dan tertarik untuk pindah ke Bandung dengan membawa kapital, ide-ide kreatif atau inovasi-inovasi bisnisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Kedua, pemerintah harus berinvestasi memperbaiki infrastruktur dan sarana kota. Memperbaiki lalu lintas, memperbanyak gedung-gedung pertunjukan atau galeri, memelihara dan mempercantik bangunan-banguan bersejarah, berinovasi dalam ruang hijau kota atau menyuntikkan seni dalam penataan kawasan kota. Ingat, kreativitas dan inovasi mudah lahir dari wadah yang inspiratif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Persaingan dunia bukan lagi antar negara, tapi antar kota.<span>  </span>Karena itulah strategi-strategi perencanaan kota yang inovatif<span>  </span>sudah dilakukan oleh kota London, Glasgow, Taipei, Singapura, Bangalore, Buenos Aires dalam merespon ekonomi baru ini. Kebijakan ekonomi kreatif yang responsif dan peningkatan kualitas sarana kota, bersatu kompak bagai dua sisi dalam satu koin uang. Pemerintah kota Bandung sudah saatnya berpikir inovatif diluar norma-norma standar pengelolaan kota-kota Indonesia. Kita harus berpikir dan berinovasi seperti kota-kota dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">”Bandung Kota Dunia” bukanlah hanya mimpi. Kita sudah punya modal awal yaitu aliran sumber daya manusia yang kreatif dan kompetitif berkelas dunia. Modal ini harus disempurnakan dengan kualitas sarana kota yang berkelas dunia pula. Inilah reposisi dan wajah baru<span>  </span>Bandung di era milenium. Wajah baru yang menyempurnakan era Bandung sebagai wajah pemersatu Asia Afrika tahun 1955. <span> </span>Jangan biarkan mimpi ini mati sebagai mimpi. Mari sama-sama bekerja keras menghadiahkan masa depan yang indah untuk generasi cucu kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridwankamil.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridwankamil.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridwankamil.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridwankamil.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridwankamil.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridwankamil.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridwankamil.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridwankamil.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridwankamil.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridwankamil.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridwankamil.wordpress.com&blog=4988150&post=69&subd=ridwankamil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/memimpikan-bandung-menjadi-kota-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d204641a48eeb814683d05c691508d8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridwankamil</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>