<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments for daydreamer's diary</title>
	<atom:link href="http://ridwankamil.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ridwankamil.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Mar 2009 09:45:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on Merebut ruang yang hilang by bas</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/09/27/merebut-ruang-yang-hilang/#comment-78</link>
		<dc:creator>bas</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 09:45:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=36#comment-78</guid>
		<description>inspiratif, pak emil.

terimakasih banyak. :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>inspiratif, pak emil.</p>
<p>terimakasih banyak. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Terjebak di Rumah Susun by astungkara handyan adhyatmakasukha</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2009/02/05/terjebak-di-rumah-susun/#comment-77</link>
		<dc:creator>astungkara handyan adhyatmakasukha</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 00:59:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=103#comment-77</guid>
		<description>kang emil..
saya mahasiswa ugm tahun terakhir.
Saya juga mengambil TA rusun dan bukan hanya kali ini saya mendesain rusun, sudah ketiga kalinya pertama pada mata kuliah rekayasa permukiman, studio desain tematik II, dan Studio TA ini. Permasalahan yang timbul dari tiap site bisa berbeda..
seperti site pertama saya melakukan urban renewal pada daerah resapan air, site kedua juga urban renewal pada tepian kali, dan yang ketiga urban renewal untuk kaum komuter dan menambah daerah resapan.
Tiap masalah ada benang merahnya, jika membaca tulisan prof johan silas, membaca tulisan mempera, membaca tulisan eko budiharjo, dan membaca tulisan kang emil.
Perspektif yang di ambil memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menyikapinya. Tetapi memiliki permasalahan yang sama.
Unit hunian..
banyak seperti itu apakah konfigurasi kolom berbeda-beda dapat memperbanyak ongkos cetak beton.
harga yang murah pada lahan yang cukup mahal, ngga realis bgd klw di pkir.
belum nanti perilaku yang menyimpang seperti rusun2 di jaqata. Sebua permasalahan sosial yang membuat orang enggan tinggal di hunian yang murah ini dengan alasan status sosial.
ketinggian bangunan yang memaksa untuk lantai banyak, padahal singapura dan china perlu waktu 60 tahun untuk membiasakan masyarakatnya. Negri kita ajaib sekali..rusun 4lantai saja belum berjalan dengan skema yang di inginkan. 
ironis, seharusnya dari segala bidang bekerja sama untuk memecahkan masalah kebutuhan hunian ini.
landed to vertical
not easy
banyak pendekatan yang harus di pelajari dengan seksama
ecodesain
sosial-ekonomi
prilaku
dan lainnya..

mari kita sama2 memecahkan masalah kebutuhan hunian ini dengan pemikiran kedepan.
regards

sukses selalu kang emil..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kang emil..<br />
saya mahasiswa ugm tahun terakhir.<br />
Saya juga mengambil TA rusun dan bukan hanya kali ini saya mendesain rusun, sudah ketiga kalinya pertama pada mata kuliah rekayasa permukiman, studio desain tematik II, dan Studio TA ini. Permasalahan yang timbul dari tiap site bisa berbeda..<br />
seperti site pertama saya melakukan urban renewal pada daerah resapan air, site kedua juga urban renewal pada tepian kali, dan yang ketiga urban renewal untuk kaum komuter dan menambah daerah resapan.<br />
Tiap masalah ada benang merahnya, jika membaca tulisan prof johan silas, membaca tulisan mempera, membaca tulisan eko budiharjo, dan membaca tulisan kang emil.<br />
Perspektif yang di ambil memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menyikapinya. Tetapi memiliki permasalahan yang sama.<br />
Unit hunian..<br />
banyak seperti itu apakah konfigurasi kolom berbeda-beda dapat memperbanyak ongkos cetak beton.<br />
harga yang murah pada lahan yang cukup mahal, ngga realis bgd klw di pkir.<br />
belum nanti perilaku yang menyimpang seperti rusun2 di jaqata. Sebua permasalahan sosial yang membuat orang enggan tinggal di hunian yang murah ini dengan alasan status sosial.<br />
ketinggian bangunan yang memaksa untuk lantai banyak, padahal singapura dan china perlu waktu 60 tahun untuk membiasakan masyarakatnya. Negri kita ajaib sekali..rusun 4lantai saja belum berjalan dengan skema yang di inginkan.<br />
ironis, seharusnya dari segala bidang bekerja sama untuk memecahkan masalah kebutuhan hunian ini.<br />
landed to vertical<br />
not easy<br />
banyak pendekatan yang harus di pelajari dengan seksama<br />
ecodesain<br />
sosial-ekonomi<br />
prilaku<br />
dan lainnya..</p>
<p>mari kita sama2 memecahkan masalah kebutuhan hunian ini dengan pemikiran kedepan.<br />
regards</p>
<p>sukses selalu kang emil..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Going Green is Good Business by elisa3da</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/11/17/going-green-is-good-business/#comment-76</link>
		<dc:creator>elisa3da</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 17:15:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=95#comment-76</guid>
		<description>Maaf, permisi numpang lewat.
Saya kok merasa kadang-kadang isu green dijadikan tameng untuk mengambil keuntungan lebih. Green hanya menjadi tren-langgam-gaya-diversifikasi, bukan isu.
Banyak developer2 (dan mungkin arsitek juga?)hanya mengambil sekelumit dan kulit luar dari pengertian &#039;green architecture&#039; dan &#039;sustainable design&#039;. 
Dan tentunya harga2 sesuatu yang berbau LEED pun lebih mahal - apalagi untuk mendapatkan sertifikasinya pun mahal juga. 
Karenanya, segala sesuatu yang diberi embel2 hijau oleh para developer disini pun dijual lebih mahal dibandingkan produk rumah biasa - padahal apakah benar produknya memperhatikan segi ekologis, keberlanjutan dan keberhidupan?

Dan untuk perumahan di Jakarta Barat yang disebutkan sebagai contoh diatas, coba kalau benar-benar dimasukkan sertifikasi LEED - tapi setelah LEED selesai merumuskan sistem TEI terbaru mereka (Energy Intensity: tentang cara pencapaian dari dan ke tujuan) - jangan2 untuk dapet certified aja gak lolos, hehehe. 
Lokasi yang seakan mengamini urban sprawling, ketergantungan kendaraan bermotor (pribadi), sampai bentuk2 desain yang kerap &#039;dituduh&#039; sebagai penyebab wall-mart effect: deret ruko+parkir luas. 
Sepertinya memindahkan isi kebun raya Bogor ke masterplan mereka, bukan berarti langsung otomatis dicap sebagai &#039;hijau yang sesungguhnya&#039;, begitu kiranya opini saya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf, permisi numpang lewat.<br />
Saya kok merasa kadang-kadang isu green dijadikan tameng untuk mengambil keuntungan lebih. Green hanya menjadi tren-langgam-gaya-diversifikasi, bukan isu.<br />
Banyak developer2 (dan mungkin arsitek juga?)hanya mengambil sekelumit dan kulit luar dari pengertian &#8216;green architecture&#8217; dan &#8217;sustainable design&#8217;.<br />
Dan tentunya harga2 sesuatu yang berbau LEED pun lebih mahal &#8211; apalagi untuk mendapatkan sertifikasinya pun mahal juga.<br />
Karenanya, segala sesuatu yang diberi embel2 hijau oleh para developer disini pun dijual lebih mahal dibandingkan produk rumah biasa &#8211; padahal apakah benar produknya memperhatikan segi ekologis, keberlanjutan dan keberhidupan?</p>
<p>Dan untuk perumahan di Jakarta Barat yang disebutkan sebagai contoh diatas, coba kalau benar-benar dimasukkan sertifikasi LEED &#8211; tapi setelah LEED selesai merumuskan sistem TEI terbaru mereka (Energy Intensity: tentang cara pencapaian dari dan ke tujuan) &#8211; jangan2 untuk dapet certified aja gak lolos, hehehe.<br />
Lokasi yang seakan mengamini urban sprawling, ketergantungan kendaraan bermotor (pribadi), sampai bentuk2 desain yang kerap &#8216;dituduh&#8217; sebagai penyebab wall-mart effect: deret ruko+parkir luas.<br />
Sepertinya memindahkan isi kebun raya Bogor ke masterplan mereka, bukan berarti langsung otomatis dicap sebagai &#8216;hijau yang sesungguhnya&#8217;, begitu kiranya opini saya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Terjebak di Rumah Susun by Sally</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2009/02/05/terjebak-di-rumah-susun/#comment-75</link>
		<dc:creator>Sally</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 09:55:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=103#comment-75</guid>
		<description>Salam, pak..

Haduh2, otak saya makin puyeng baca tulisan bapak..
Saat ini saya sedang mengerjakan TA dengan objek rusun..
Pertama kali saat disuruh memilih (dengan alasan yang mantap, untuk mengabdi ke masyarakat) dengan yakin saya memilih objek rusun..
Setelah melakukan survey dan melihat kenyataan yang sesungguhnya, jadi berciut nyali..
Tapi udah terlanjur nyebur, yah... sekalian renang dan minum airnya aja dah..
Makasih buat &quot;pencerahannya&quot; =)

Salam hangat,
Sally</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam, pak..</p>
<p>Haduh2, otak saya makin puyeng baca tulisan bapak..<br />
Saat ini saya sedang mengerjakan TA dengan objek rusun..<br />
Pertama kali saat disuruh memilih (dengan alasan yang mantap, untuk mengabdi ke masyarakat) dengan yakin saya memilih objek rusun..<br />
Setelah melakukan survey dan melihat kenyataan yang sesungguhnya, jadi berciut nyali..<br />
Tapi udah terlanjur nyebur, yah&#8230; sekalian renang dan minum airnya aja dah..<br />
Makasih buat &#8220;pencerahannya&#8221; =)</p>
<p>Salam hangat,<br />
Sally</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Superblok sebagai model kendali pembangunan kota by SeAN Hardy</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/09/27/superblok-sebagai-model-kendali-pembangunan-kota/#comment-74</link>
		<dc:creator>SeAN Hardy</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 12:01:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=51#comment-74</guid>
		<description>makasih om emil atas artikel nya
bermanfaat sekali bagi saya mahasiswa arsitektur yang lagi belajar urban design</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>makasih om emil atas artikel nya<br />
bermanfaat sekali bagi saya mahasiswa arsitektur yang lagi belajar urban design</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Going Green is Good Business by listyaning</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/11/17/going-green-is-good-business/#comment-73</link>
		<dc:creator>listyaning</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 14:52:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=95#comment-73</guid>
		<description>ide yang sangat bagus sekali pak
Saya rasa isu ini memang tengah menjad tren di kalangan arsitek, tetapi masalahnya adalah dalam hal penerapannya. Bagaimana suatu arsitektur itu tidak hanya sekedar green dalam konsep bangunan tetapi juga green secara lifestylenya dan juga bagaimana meyakinkan para owner developer bahwa dengan konsep green itu malah akan menaikkan keuntungannya, itu yang masih agak susah dan harus dicoba.
Go green design!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ide yang sangat bagus sekali pak<br />
Saya rasa isu ini memang tengah menjad tren di kalangan arsitek, tetapi masalahnya adalah dalam hal penerapannya. Bagaimana suatu arsitektur itu tidak hanya sekedar green dalam konsep bangunan tetapi juga green secara lifestylenya dan juga bagaimana meyakinkan para owner developer bahwa dengan konsep green itu malah akan menaikkan keuntungannya, itu yang masih agak susah dan harus dicoba.<br />
Go green design!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Arsitektur pembunuh kota by Boris</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/arsitektur-pembunuh-kota/#comment-72</link>
		<dc:creator>Boris</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 08:19:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=65#comment-72</guid>
		<description>So, Beginilah contoh orang yang pesimis, pasrah akan realita yg ada, tak memiliki mimpi. Anda sedang berada pada pola berfikir inside the black box, tidak berpikir dampak panjang yang diakibatkan oleh pengalihan ruang lantai dasar menjadi ruang non publik. Karena apa yg dipaparkan artikel diatas, adalah preseden ideal untuk menjamin prilaku bertoleransi, tetap ada di diri kita. 

 Jadi apa yang saya harap kepada koloritem jika berada di ruang terbuka publik, jangan harap duduk2 di plasa tersebut, jangan pula merasa nyaman jika berada di ruang publik, karena boleh jadi anda malah merasa nyaman dan saat itu juga mengharapkan ruang publik ini hadir di Jakarta, tapi nyatanya, anda malah tidak memberi dukungan kepada orang2 yang sedang berusaha menghadirkan ruang publik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>So, Beginilah contoh orang yang pesimis, pasrah akan realita yg ada, tak memiliki mimpi. Anda sedang berada pada pola berfikir inside the black box, tidak berpikir dampak panjang yang diakibatkan oleh pengalihan ruang lantai dasar menjadi ruang non publik. Karena apa yg dipaparkan artikel diatas, adalah preseden ideal untuk menjamin prilaku bertoleransi, tetap ada di diri kita. </p>
<p> Jadi apa yang saya harap kepada koloritem jika berada di ruang terbuka publik, jangan harap duduk2 di plasa tersebut, jangan pula merasa nyaman jika berada di ruang publik, karena boleh jadi anda malah merasa nyaman dan saat itu juga mengharapkan ruang publik ini hadir di Jakarta, tapi nyatanya, anda malah tidak memberi dukungan kepada orang2 yang sedang berusaha menghadirkan ruang publik.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on 7 Tren Desain Urban di Asia by atthaillah</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/09/27/7-tren-desain-urban-di-asia/#comment-70</link>
		<dc:creator>atthaillah</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 07:19:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=59#comment-70</guid>
		<description>assalamualaikum pak ridwan kamil,
saya atthaillah lulusan arsitektur dari universitas syiah kuala banda aceh, pak saya mau tanya apa boleh saya link kan website saya dengan blog bapak, saya sangat suka dengan ide dan filosofi serta konsep-konsep  yang bapak terapkan.  

saya ingin belajar banyak dari bapak. saya ada beberapa pertanyaan yang selalu mengganjal untuk urusan perancangan pak, apa boleh saya via japri email ke bapak?

wassalam
atthaillah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamualaikum pak ridwan kamil,<br />
saya atthaillah lulusan arsitektur dari universitas syiah kuala banda aceh, pak saya mau tanya apa boleh saya link kan website saya dengan blog bapak, saya sangat suka dengan ide dan filosofi serta konsep-konsep  yang bapak terapkan.  </p>
<p>saya ingin belajar banyak dari bapak. saya ada beberapa pertanyaan yang selalu mengganjal untuk urusan perancangan pak, apa boleh saya via japri email ke bapak?</p>
<p>wassalam<br />
atthaillah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Memimpikan Bandung menjadi Kota Dunia by Koloritem</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/memimpikan-bandung-menjadi-kota-dunia/#comment-69</link>
		<dc:creator>Koloritem</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 18:18:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/?p=69#comment-69</guid>
		<description>Bandung adalah salah satu kota Eropa (koloni) terbaik di dunia. Dia dulu disejajarkan dengan Paris dan jauh di atas Berlin atau Warsawa. Konsep-konsep kota taman modern yang sangat memanusiakan manusia berhasil diciptakan di kota ini.

Zonasi dan interlinkage dan selfcontaining sangat bagus di jamannya. Orang Belanda bilang `kalau dia sudah pindah ke Bandung kita anggap saja dia sudah hilang di dunia peri`

Akan tetapi karena terlalu idealisnya pembuat kota, ternyata di luar kota taman yang asri ini (khususnya Bandung selatan) telah terjadi pembusukan `lambung`kota yang parah. Kantong-kontong kemiskinan di zona penunjang tersebut tidak pernah disentuh pada zaman kolonial.Ironis

Ketika kota cantik ini harus diserahkan dengan berat hati ke RI semuanya serba tidak terkendali. Seperti filem Lord of The Ring dimana Pasukan Saruman menyerbu Rivendel yang indah damai. Tragis

Bandung tetap Bandung. Sekeras apa pun urbanisasi setelah jaman kemerdekaan ternyata si Putri Geulis ini masih tetap punya pesona yang kuat hingga saat ini.

Tak bisa dibantah: Bandung telah berhasil kampung halaman bagi `manusia` teknokrat, seniman liberal dan para leader berhati. 

Dari mana dan kemanapun mereka pergi...

We always love Bandung!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bandung adalah salah satu kota Eropa (koloni) terbaik di dunia. Dia dulu disejajarkan dengan Paris dan jauh di atas Berlin atau Warsawa. Konsep-konsep kota taman modern yang sangat memanusiakan manusia berhasil diciptakan di kota ini.</p>
<p>Zonasi dan interlinkage dan selfcontaining sangat bagus di jamannya. Orang Belanda bilang `kalau dia sudah pindah ke Bandung kita anggap saja dia sudah hilang di dunia peri`</p>
<p>Akan tetapi karena terlalu idealisnya pembuat kota, ternyata di luar kota taman yang asri ini (khususnya Bandung selatan) telah terjadi pembusukan `lambung`kota yang parah. Kantong-kontong kemiskinan di zona penunjang tersebut tidak pernah disentuh pada zaman kolonial.Ironis</p>
<p>Ketika kota cantik ini harus diserahkan dengan berat hati ke RI semuanya serba tidak terkendali. Seperti filem Lord of The Ring dimana Pasukan Saruman menyerbu Rivendel yang indah damai. Tragis</p>
<p>Bandung tetap Bandung. Sekeras apa pun urbanisasi setelah jaman kemerdekaan ternyata si Putri Geulis ini masih tetap punya pesona yang kuat hingga saat ini.</p>
<p>Tak bisa dibantah: Bandung telah berhasil kampung halaman bagi `manusia` teknokrat, seniman liberal dan para leader berhati. </p>
<p>Dari mana dan kemanapun mereka pergi&#8230;</p>
<p>We always love Bandung!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Regionalisme sebagai jalan tengah? by Koloritem</title>
		<link>http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/regionalisme-sebagai-jalan-tengah/#comment-68</link>
		<dc:creator>Koloritem</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 17:43:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ridwankamil.wordpress.com/2008/10/02/regionalisme-sebagai-jalan-tengah/#comment-68</guid>
		<description>Regionalisme era terakhir bukanlah counter culture seperti periode perang ideologi.

Regionalisme mutakhir adalah proses pencarian Identitas atau usaha pencitraan suatu komunitas yang mulai tidak nyaman dalam gelombang global yang makin panjang amplitudonya dimana semuanya serba seragam dalam trend yang silih berganti sangat cepat. 

Kelelahan dan kebosanan akan arus global yang membuat hilangnya identitas arsitektur yang dulunya unik dalam suatu tempat telah memberi angin kesadaran bagi sebagian orang untuk (kembali) menggali atau (mungkin hanya) memoles nilai-nilai lokal yang pernah ada. Akan tetapi kebanyakan nilai-nilai lokal tsb sudah tidak dapat menjawab masalah aktual lagi. Di sini dalam kebuntuan tersebut orang akhirnya tidak hanya menggali dalam skala kecil tapi proses ekskavasi dan rekonstruksi dalam skala yang lebih luas.

Budaya regional adalah budaya yang lahir dari beberapa aspek: local in local interaction diikuti asimilasi dengan budaya global dan teknologi

Budaya regional dibandingkan budaya lokal lebih toleran, dinamis, memiliki ranah yang lebih luas, flexible akan tetapi masih bisa dikenali ciri-nya.

Salah satu aspek lahirnya tropical architecture adalah ekses dari penggalian arsitektur vernakular dalam suatu region/wilayah tropis. Dimana aspek-aspek teknologi bangunan vernakular dikupas sarinya sementara bentuk-bentuk perlambangan yang biasanya ramai dinetralisir.

Maka lahirlah bangunan bangunan yang lebih `matang`, `acceptable` dan tentunya punya ciri yang khas.

Akan tetapi regionalisasi arsitektur saat ini sering kesulitan atau gagap dalam mengakomodasi industri konstruksi skala besar.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Regionalisme era terakhir bukanlah counter culture seperti periode perang ideologi.</p>
<p>Regionalisme mutakhir adalah proses pencarian Identitas atau usaha pencitraan suatu komunitas yang mulai tidak nyaman dalam gelombang global yang makin panjang amplitudonya dimana semuanya serba seragam dalam trend yang silih berganti sangat cepat. </p>
<p>Kelelahan dan kebosanan akan arus global yang membuat hilangnya identitas arsitektur yang dulunya unik dalam suatu tempat telah memberi angin kesadaran bagi sebagian orang untuk (kembali) menggali atau (mungkin hanya) memoles nilai-nilai lokal yang pernah ada. Akan tetapi kebanyakan nilai-nilai lokal tsb sudah tidak dapat menjawab masalah aktual lagi. Di sini dalam kebuntuan tersebut orang akhirnya tidak hanya menggali dalam skala kecil tapi proses ekskavasi dan rekonstruksi dalam skala yang lebih luas.</p>
<p>Budaya regional adalah budaya yang lahir dari beberapa aspek: local in local interaction diikuti asimilasi dengan budaya global dan teknologi</p>
<p>Budaya regional dibandingkan budaya lokal lebih toleran, dinamis, memiliki ranah yang lebih luas, flexible akan tetapi masih bisa dikenali ciri-nya.</p>
<p>Salah satu aspek lahirnya tropical architecture adalah ekses dari penggalian arsitektur vernakular dalam suatu region/wilayah tropis. Dimana aspek-aspek teknologi bangunan vernakular dikupas sarinya sementara bentuk-bentuk perlambangan yang biasanya ramai dinetralisir.</p>
<p>Maka lahirlah bangunan bangunan yang lebih `matang`, `acceptable` dan tentunya punya ciri yang khas.</p>
<p>Akan tetapi regionalisasi arsitektur saat ini sering kesulitan atau gagap dalam mengakomodasi industri konstruksi skala besar.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
